Mendulang Asa ke Bumi Borneo 7





Pagi-pagi Imoeng dibantu oleh mertua dan beberapa tetangga sudah masak membuat Nasi Gudangan, lengkap dengan lauk pauknya, tahu, tempe goreng, ikan teri asin kecil-kecil, telur rebus, perkedel kentang, perkedel jagung, dan tak lupa 3 buah ayam ingkung, sudah siap untuk di hidangkan. Bancaan duduk pandemen segera dimulai.
Tikar digelar di tengah-tengah tanah yang hendak dibangun rumah. Nasi gudangan, ayam ingkung dan semua lauk-pauk, pisang, kembang boreh sudah tertata di dalam tampah, yaitu wadah lebar bulat dari bambu.
Tetangga kanan kiri yang diundang, para tukang, dan seluruh anggota keluarga sudah berkumpul duduk melingkari hidangan.  Dan beberapa piring bubur merah putih.
Jam 7 pagi Pak Ustad datang, untuk membacakan doa dan sedikit ceramah buat tuan rumah dan para tukang sebelum memulai bekerja .Soian sengaja memanggil seorang ustadz yang tidak hanya untuk berdoa, namun juga memberikan sedikit wejangan untuk yang hadir pagi itu.
Setelah pembacaan doa dan sedikit ceramah oleh Untadz, dilanjutkan dengan acara makan bersama, semua dalam kebersamaan. Baik mereka yang asli dari Tabalong maupun yang pedatang dari Jawa. Baik yang punya kerja maupun para pekerja. Sofian juga mengundang teman-temannya di KSP ‘Damai’ Tabalong untuk ikut bancaan dan sarapan di tempatnya.
Penggalian tanah pertama untuk fondasi rumah dilakukan sendiri oleh Sofian, kemudian dilanjutkan oleh para tukang dan tetangga kiri-kanan yang membantu, sehingga dalam sehari semua lubang untuk menanam fondasi rumah sudah tergali.
Sementara di dapur Imoeng dengan dibantu oleh saudara dan tetangga memasak untuk makan siang dan membuat wadai/ kue untuk teman minum kopi sore hari setelah pekerjaan untuk hari itu selesai.
“ Bikin wadai apa Buk..ae..hari ini “ Tanya tetangga yang ikut membantu di dapur.
“ Banyak pisang itu Cil, bikin Sanggar  saja, ada petis juga itu…” Jawab Imoeng. Sanggar adalah pisang goreng tetapi  pisangnya dipilih yang agak mentah tapi sudah tua, diolesin tepung terus digoreng. Cara makannya dengan petis yang sudah diberi cabai sehingga agak pedas-pedas, gurih dan manis rasanya.
“ Nyaman ae…”
“ Dikupas semua itu Cil…biar banyak yang makan…”
“ Ulun mau jua Cil…kadak cukup kalau sebuting..ha ha ha..”
“ Makanya goreng saja sabarataan…”
“ Siap Boss….” Gurau Mamak Fais yang sudah memegang pisau untuk mengupas pisang dengan cekatan, dibantu oleh Mamak –mamak yang lainnya.
Setelah asar tiba Sanggar satu tampah sudah siap dihidangkan beserta bumbu petisnya, yang  sungguh nikmat aromanya.
Karena kesibukan di rumah Sofian sampai lupa janji mau menemui bosnya di kantor KSP. Maka dia segera menelpon Bos Damang untuk meminta maaf karena sudah terlanjur sore.
“ Assalamu’alaikum..Boss”
“ Wa’alaikum salam Mas Sofian, maaf saya sudah di bandara Syamsudin Noor mau pulang Kudus dulu mengantar nyonya dulu Mas, besok-besok saja ya kita bicara kalau ketemu .”
“ Oke…Boss !, saya tadi mau minta maaf tidak bisa ketemu boss hari ini, karena haur jadi lupa, sudah sore begini baru ingat kalau sudah janji dengan Boss…”
“ Tidak apa-apa Mas…saya tahu pasti hari ini Mas Sofian sibuk sekali, karena hari pertama mendirikan rumah, pasti banyak yang harus dikerjakan.”
“ Iya..Boss, tapi syukurlah hari ini lancar dan cuaca juga cerah jadi tak ada halangan apapun juga…”
“ Iya..Mas, sudah diurusi dulu pekerjaannya semoga rumahnya cepet selesai, mungkin saya baru minggu depan bisa ke Banjar lagi.”
“ Iya ..Boss, semoga urusan dengan ibu bisa selesai dengan baik-baik….”
“ Okey ..terima kasih Mas, maaf kalau kemarin ibu merepotkan ya…”
“ Tidak apa-apa Boss, selamat  saja, Wa’alaikumsalam” Kata Sofian  mengakhir pembicaraan , sambil meletakkan Hp di meja kerjanya.
Sore itu para tukang dan keluarga yang datang dari Jawa, dan tetangga sedang berkumpul di beranda rumah sambil menikmati pisang sanggar bersama petis pedasnya, ketika tiba-tiba  Dwi anak Imoeng yang ke dua berlarian tergesa-gesa masuk rumah dengan diikuti oleh seorang gadis Banjar yang cukup cantik.
“ Mas Dwi !  ulun kada’ suka pian berjalanan sama Si Aluh, ulun kada bisa terima Mas..”
Dwi yang diikuti dari belakang diam saja, malah ikut duduk di beranda dan mencomot pisang sanggar yang masih terhidang di piring bersama dengan petis pedasnya. Dwi hanya tersenyum saja sambil menikmati pisang sanggar.
Sang gadis yang merasa tidak dianggap, tanpa malu-malu masih saja nerocos sambil berdiri bersandar pada tiang rumah.
“ Mas! kenapa diam saja, ulun masih pacar pian kan ? jawab Mas…”
Imoeng yang merasa risih anak laki-lakinya dikejar-kejar gadis, apalagi Dwi tampak cuek begitu langsung menegur anaknya.
“ Eeeii, ada apa kalian, Dwi ! kenapa kamu cuek begitu diajak ngomong Aluh..?”
“ Tanya Aluh Buk, kenapa dia ngejar-ngejar gitu, aku gak apa-apa kok “ dalih Dwi pada ibunya.
“ Iya..tuh Buk..ae, anak pian, semalam bilangnya cinta sama ulun, eeh tadi aku melihatnya berduaan sama Riska makan bakso , ulun kadak terima, Buk..ae..”
“ Sudah-sudah…sini duduk dulu, makan sanggar tuuh..”
“ Kadak mau Buk…sebelum Mas Dwi memberi jawaban “
“ Udah ulun bilang..kadadak..apa-apa Riska, sidin hanya minta traktir hanja…”
“ Kadak percaya Mas, napa pian megang-megang tangan sidin jua..”
“ Kadak apa-apa hanya  pegang hanja..”
Imoeng meresa gak enak adegan itu dilihat banyak orang yang sedang duduk santai di beranda lalu menengahi.
“ Udah..sekarang kadadak pacar-pacaran semua…Dwi juga masih baru memulai buka bengkelnya belum apa-apa sudah main pacar-pacar…sudah-sudah, sini makan sanggar saja “
“ Ulun pulang aja Buk, awas pian Mas Dwi “
“ Kamu juga masih sekolah kadak boleh pacar-pacaran dulu, lebih baik belajar saja Aluh “
Tanpa menjawab apa-apa Aluh langsung berlalu pulang, tanpa permisi, tanpa mengucap salam.
“ Dwi…kamu nggak boleh mainin anak orang gitu…lagian belum waktunya pacar-pacaran, lebih baik urusin dulu tuuh bengkelmu..!”
“ Siapa jua yang main pacar-pacaran, sidin sendiri yang datangin ke bengkel…masih berseragam pula..”
“ Iya, tapi awas kamu kalau mainin anak gadis orang, bisa kena parang kamu lawan abahnya.”
“ Iya ya Buk! aku cuekin aja, kalau mereka pada singgah di bengkel..”
“ Bilang saja sedang sibuk, gak bisa diganggu “
“ Iya…Buk..”
“ Sudah mandi sana, lihat tuh..bajumu kotor penuh  oli…gitu..”
“ Iya, Buk..” Balas Dwi sambil berjalan ke belakang sambil menyambar pisang  sanggar satu lagi.


b e r s a m b u n g....

Komentar

Posting Komentar