Mendulang Asa ke Bumi Borneo 9




Selama hampir dua minggu sejak Haji Damang didatangi Bu Damang dan akhirnya mereka pulang ke Kudus bersama , Haji Damang tidak ke Kalimantan hanya sesekali dia telfon ke Sofian menanyakan perkembangan  KSP nya. Dengan waktu yang agak panjang ini bisa digunakan Sofian untuk berpikir kembali soal rencana pendirian KSP nya di Kaltim. Selain itu Sofian bisa lebih leluasa menghubungi orang-orang yang telah mensuportnya untuk segera mendirikan KSP sendiri. Jadi waktu Haji Damang datang ke Kalimantan nanti Sofian sudah benar-benar siap untuk mengajukan permohonan pengunduran diri secara langsung pada Haji Damang. Dan segera memulai usaha barunya.
Akhirnya masalah pribadi Haji Damang dengan istrinya selesai juga, istrinya bersedia diajak kesana kemari mendampingi suaminya. Karena anak-anak mereka pun sudah beranjak remaja sudah tidak harus ditunggu terus menerus.
“ Mas Sofian…saya minta maaf atas kejadian kemarin ya, bapak sudah memutuskan tidak akan menghubungi wanita itu lagi, karena saya akan selalu mendampnginya, “  kata Bu Damang ketika dia dan Haji Damang dijemput Sofian di bandara Samsudin Noor.
“ Sama-sama , Bu. Memang begitulah manusia ada khilaf-khilafnya…” balas Sofian sambil menyetir mobil.
“ Kita makan dulu Mas, itu diujung jalan sana ada Soto banjar yang enak, kangen juga sama soto banjar niih…”  Sela Haji Damang .
“ Gak apa-apa asal gak kangen sama cewek  banjar saja…” balas Bu Damang sambil bergurau.
“Oke Boss…sekalian kita bincang-bincang, ada sesuatu yang hendak saya sampaikan,”  jawab Sofian merasa ada peluang untuk menyampaikan soal resign yang sudah dirancangnya.
Sofian akhirnya memakirkan mobilnya pada sebuah rumah makan yang terletak di daerah Banjarbaru mau masuk ke arah Martapura.
“ Begini Boss…saya ingin mengajukan permohonan untuk mengundurkan diri dari KSP Damai, saya sangat berterima kasih karena selama di KSP Damai, saya bisa banyak belajar, saya bisa memperoleh banyak saudara dan mendapat bos yang sangat baik hati dan dermawan seperti Bos Damang. Tetapi ..bagaimanapun juga saya tetap harus mengundurkan diri, saya ingin mempunyai usaha sendiri Boss  “ Sofian memberanikan memualai pembicaraan di saat makan siang Soto banjar sudah hampir selesai.
“ Apa ..? Mas Sofian mau mengundurkan diri ? kenapa Mas? Maaf apa saya ada salah, atau istri saya yang salah, atau sedang ada sesuatu masalah dengan KSP kita..?” kata Bos sofian menanggapi perkataan Sofiaan.
“ Bukan Pak, bagi saya Bos Damang malah terlalu baik pada saya dan keluarga. Bahkan saya bisa diberangkatkan untuk menunaikan ibadah haji segala, tapi saya ingin lebih maju dengan mempunyai usaha sendiri Boss “
“ Usaha apa yang hendak Mas Sofian kerjakan, apa tidak bisa dikerjakan sambil kerja di KSP Damai, Mas Sofian kan juga hanya tinggal mengecek –ngecek saja KSP ini, karena di semua daerah sudah ada penangung jawabnya masing-masing…!”
“ Tidak bisa Boss..karena saya akan menjalankan usaha saya ini di Kaltim, saya harus berkonsentrasi di sana..”
“ Usaha apa to Mas..?”
“ Saya ingin mendirikan KSP juga Bos, sudah ada salah satu bank di Kaltim yang bersedia menggelontorkan modalnya, mungkin besok saya akan segera mengajukan surat Permohonan Pengunduran Diri saya, dan melakukan serah terima dengan Boss, silahkan Boss mengecek kembali laporan-laporan keuangan yang sudah saya buat dari kemarin “
“ Saya belum bisa menjawab sekarang Mas Sofian, saya butuh waktu untuk mengecek segala sesuatunya, dan mendapatkan pengganti Mas Sofian, yang bisa bekerja penuh dan bisa dipercaya ,”  Balas Haji Sofian dengan nada agak kecewa.
“ Baiklah, Boss. Saya tunggu secepatnya keputusan Bos, tetapi segala sesuatunya sudah saya persiapkan Boss tinggal ngecek saja, untuk pengganti saya Mas Rohim saya kira sangat mumpuni dan bisa dipercaya Boss”
“ Kita  bicarakan besok di kantor saja sambil ngecek laporan-laporan, sekarang mau kan Mas Sofian mengantarkan Ibu dulu ke Matapura, kita bisa langsung ke Tabalong .”
“ Baik ,Boss. Monggo….”
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Martapura, karena Bos Damang mempunyai rumah di sana meskipun jarang didatangi namun ada penjaga rumah, yang selalu bersih –bersih dan menyiapkan makanan bila ada yang hendak datang menginap di sana.
Di perjalanan Sofian, Haji Damang dan istrinya lebih banyak diam dan suasana menjadi agak kaku semenjak Sofian mengutarakan keinginannya untuk mengundurkan diri. Apalagi Bu Damang , dia merasa sangat bersalah karena telah marah-marah pada Sofian dan menuduh yang bukan- bukan. “ Apa karena itu ya Sofian mengundurkan diri. “ Bu Damang bertanya-tanya sendiri di dalam hati.
Setelah istirahat sejenak di Martapura, Sofian dan Damang melanjutkan perjalanan ke Tabalong.
Di perjalanan hanya sesekali Haji Damang mengajak berbicara, menanyakan soal pembangunan rumah Sofian di Tanjung Tabalong.
“ Sudah sampai mana Mas, pembangunan rumahnya,” Tanya Bos Damang memecah kekakuan dalam perjalanan..
“ Alhamdulilah, dua kamar sudah hampir 2 meter tingginya, karena memang saya minta untuk diselesaikan dulu 2 kamar itu, kamar mandi dan dapur agar kami bisa pindah ke sana lebih dahulu, kontrakan rumah bulan depan sudah habis Boss,”  jelas Sofian .
“ Apa tidak diperpanjang dulu kontrankannya sambil menunggu rumah jadi Mas…”
“ Tidak, Boss. Sekalian untuk mengawasi tukang-tukang kalau Imoeng tinggal di rumah itu .”
“ Mas Sofian sebaiknya pertimbangkan dulu pengunduran dirinnya, paling tidak sampai rumah itu selesai dibangun, nanti saya ikut membantu sampai selesai .“
“ Terima kasih Boss. Tapi saya harus segera memulai KSP saya di Kaltim secepatnya, karena program Bank Kaltim untuk menyalurkan dana pinjaman untuk usaha mikro harus terealisasi awal bulan ini, karena saya dapat modal dari bank tersebut Bos.”
“ Apa Mas Sofian mau pakai modal dari saya, tetapi tetap itu usaha Mas Sofian sendiri, jadi statusnya dana pinjaman terhadap saya… butuh modal berapa, Insyaallah ada kok Mas?”
“ Tidak Bos…terima kasih, saya sudah mendandatangi surat perjanjian kerjasamanya dengan pihak bank, walaupun belum secara resmi, nanti saya jadi tidak dipercaya lagi Boss kalau membatalkannya,”
“ Oh..begitu ya…ya sudah besok kita bereskan laporan-laporannya, hari ini sudah terlalu sore, Mas Sofian juga capek kan..”
“ Oke…Boss, besok pagi saya ke kantor”
Sambil menurunkan Haji Damang di kantor sekaligus rumah buat Haji Damang bila sedang berkunjung ke Tabalong.
Sofian segera pulang ke rumah, ingin menceriterakan pada Imoeng  kalau dia sudah berhasil menyampaikan tentang pengunduran dirinya ke Haji Damang.
Hari sudah sore, mejelang magrib ketika Sofian mampir sejenak ke rumahnya yang sedang dibangun. Senyum tipis mengembang di wajahnya, tanda bahagia. Pembangunan rumahnya telah berjalan lancar, 2 buah kamar sudah tinggal memasang atap sementara. Dia dan keluarganya akan segera menempati rumah sendiri, hasil keringat sendiri. Cita-cita ingin mempunyai rumah sudah hampir kesampaian. Sofian banyak besyukur, karena semenjak Imoeng ikut tinggal di Kalimantan rejekinya mengalir begitu deras. Bahkan sekarang dia sudah hendak mempunyai usaha KSP sendiri.

Suami istri kalau hidup bersama ternyata rejeki dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah, kenapa juga Imoeng baru mau datang ke Kalimantan sekarang, setelah ada banyak masalah di Kudus. Namun apapun yang ternjadi Sofian justru bersyukur dengan adanya masalah Imoeng jadi mau hidup di Kalimantan.
Tukang-tukang sudah pulang, bahan-bahan bangunan dan alat-alat bangunan berserakan di sana-sini, Sofian merapikannya sejenak, agar tidak kena air bila malam nanti turun hujan, dan tidak diambil oleh orang-orang jahil walaupun di sekeliling bangunan sudah diberi pagar seng tinggi.
Ketika sayup-sayup adzan maghrib terdengar dari kejauhan, Sofian segera menutup pintu pagar dari seng, untuk menuju mobil dan kembali ke rumah kontrakan yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah yang sedang ia bangun itu.
Sofian juga sudah mulai mengakrabi tetangga yang sedang berjalan sepulang dari bekerja di tambang. Mereka biasanya diantar-jemput oleh bis-bis karyawan yang berhenti di jalan raya depan gang. Ada juga yang sedang berjalan menuju masjid, karena memang tak lama lagi adzan Magrib segera berkumandang di Masjib seberang jalan raya di depan gang. Satu dua kera bermunculan bergelantung di pohon Ketapi yang terletak di seberang jalan rumah yang sedang dibangun. Ada satu dua buah Ketapi yang sudah tua, kera-kera itu menyerbunya sebelum malam datang dan kawanan kelelawar datang memilih buah-buah yang sudah masak. Kehadiran kera-kera di perkampungan yang sudah banyak penduduknya itu tergolong nekat, karena di hutan-hutan sudah tidak menyediakan makanan lagi baginya. Bahkan sudah berganti dengan rumah-rumah penduduk dan pohon-pohon karet yang tidak memberi arti bagi kehidupan para kera itu. Maka dia suka melompat dari pohon ke pohon menuju perkampungan, siapa tahu ada makanan di sana.
Siapa cepat dia dapat tak peduli berlaku pada manusia saja, binatang-binatang itu pun sekarang harus beradu cepat dengan manusia agar memperoleh makanan untuk kelansungan hidupnya. Apalagi setelah eksplotasi penebangan kayu di dalam hutan, dilanjutkan dengan pembentukan site-site tambang yang secara besar-besaran terjadi Tabalong, binatang-binatang itu seolah-olah minta perlindungan serta kenyamanan yang dirampas oleh manusia.
Sampai di rumah Sofian langsung menuju ke kamar mandi, untuk mandi dan membersihkan diri serta berwudhu. Karena di ruang tengah Bapak, ibunya, Imoeng dan anak-anaknya sedang menunaikan sholat Maghrib. Semenjak ada bapak dan ibunya datang keluarga Sofian membiasakan sholat Maghrib berjamaah di rumah. Kalau Sofian sedang di rumah, ia yang menjadi imamnya, namun bila tidak ada bapaknya biasa menggantikan posisinya menjadi iman sholat.
Sofian cepat-cepat mandinya sehingga sempat mengikuti sholat berjamaah walaupun hanya satu rekaat saja.
Usai sholat berjamaah biasanya dilanjutkan dengan makan malam bersama. Karena setelah itu Ayuk dan Ais harus segera belajar dan menyiapkan buku-buku yang harus dibawa ke sekolah esoknya.
Sambil membereskan bekas makan malam Imoeng menyempatkan menanyakan tugas-tugas dan PR yang mungkin ada pada Ayuk dan Ais.
“ Ais…PR sudah dikerjalan belum ?”
“ Sudah , Buk..ae…oh iya besok disuruh membawa kertas karton berwana emas dan merah Buk..untuk membuat prakarya di sekolah besok..” kata Ais.
“ Kenapa baru bilang sekarang Ais…lihat tuuh, di toko masih ada kadak..?”
Ais segera berlari ke ruang depan yang digunakan sebagai toko oleh ibunya.
“ Ada..hanya merah Buk..ae..yang emas kadadak..”
“ Boleh ulun nukar di toko depan sana Buk..ae..”
“ Sudah malem Ais, biar nanti diantar Mas Dwi kalau sudah pulang”
“ Kelawasan Buk ae…Mas Dwi belum tentu pulang cepat “
“ Ya sudah kalau sudah selesai biar ibuk saja yang menukar “
Usai membantu anak-anaknya menyiapkan keperluan sekolahnya.Imoeng mendekati suaminya yang sedang berbincang-bincang dengan bapak mertuanya.

“ Bagaimana, Pak ? sudah pamit sama Haji Damang?” Tanya Imoeng pada suaminya.
“ Sudah Buk, tapi kata Bos Damang besok pagi saya harus ke kantor dulu untuk menyerahkan laporan-laporan sekaligus Bos Damang akan menelitinya kondisi keuangan kantor ,”
“ Semoga tak terjadi apa-apa Pak, semua lancar, toh selama ini kita sudah jujur dengan semua pembukuan di KSP ‘Damai’ semoga juga tak ada yang menyalahi  kita “ Jawab Imoeng yang sudah duduk di samping suaminya.
Wong kerjo kuwi ati-ati Le, ojo nyalah-nyalahi uwong, mengko mundak awak dewe disalahi wong liyo, angger nandur apik, mbesok leh panene apek, wis percoyo kuwi wae..” nasehat Bapaknya Sofian yang ikut mendengarkan cerita-cerita dari anak dan menantunya.
“ Iya..Pak. maturnuwun nasehatnya, aku ingat-ingat selalu…”
Mereka berbincang-bincang sampai jam 9 malam, karena Sofian juga sudah mengantuk setelah seharian keluar kota menjemput Haji  Damang dan istrinya.

b e r s a m b u n g....

Komentar

  1. format fontnya mesti diubah agar lebih jelas dan nyaman dibaca

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah dicoba gak bisa terus Mas...gimana caranya Mas, ajarin dong

      Hapus

Posting Komentar