Mundulang Asa ke Bumi Borneo 8


Beberapa bulan di Tabalong pertumbuhan Dwi memang terasa begitu cepat, badannya yang dulu kurus tak terurus mulai bersini dan tambah tinggi, dengan kulit yang bersih dan wajah yang lumayan tampan, Dwi  menjadi bahan incaran gadis-gadis Mabuun. Tak terkecuali anak-anak sekolah SMA, karena memang bila Dwi masih sekolah, kelas 3 SMK. Apalagi sekarang Dwi sudah mempunyai penghasilan sendiri dari bengkel radiatornya, senang mentraktir teman-temannya pula, sehingga banyak gadis yang mendekati. Kalau dibiarkan bisa-bisa Dwi salah arah pergaulan dengan anak-anak muda di situ.
Malam harinya Sofian mengajak berembuk dengan Imoeng soal pengunduran dirinya dari KSP Damai milik Haji Damang. Sofian ingin segera memulai usaha barunya, namun kalau dia sudah memulai usahanya berati akan sering meninggalkan Tabalong karena dia ingin mendirikan usaha KSP di Kaltim, padahal pembangunan rumah baru dimulai, apa nanti gak kacau. Siapa yang akan mengawasi pembangunan rumahnya.
“ Gimana, Buk ya! sebaiknya segera resign dari KSP Damai, apa kita undur ya? sampai rumah setengah jadi dan kita bisa menempatinya..?”
“ Terserah Bapak ae, tapi memulai lebih cepat lebih baik, karena  omongan Bu Damang kemarin sungguh tidak mengenakkan, bukannya berterima kasih usaha suaminya dikerjakan sampai maju berkembang seperti ini, eeh malah nuduh yang bukan-bukan..”.
“ Makanya itu kita harus bisa membuktikan bahwa kita bisa usaha sendiri tanpa menggantungkan bantuan dari suaminya…” Balas Sofian.
“ Kalau begitu, minggu depan kalau Haji Damang datang sampaikan saja surat pengunduran diri dan alasannya “
“ Iya Buk, sambil menunggu Haji Damang datang, saya akan memastikan bank calon investor kita dan saya akan menghubungi kawan-kawan yang di Samarinda untuk mencarikan tempat untuk  kantor sementara .”
“ Oh..ya, kemarin ibu bilang kalau Adi akan lulusan SMA bulan depan, Bapak bisa mengajak Adi, adik pian untuk membantu di Samarinda dulu, sementara Eko juga biar mengajukan pengunduran diri biar bergabung dengan Bapak saja.”
“ Oh..iya., ada Adi, dia adikku paling pintar sekolahnya, nanti tak bilang bapak ibu biar Adi setelah lulusan segera datang ke sini saja…”
“ Mumpung bapak ibu masih di sini , Bulan depan Adi sudah selesai ujian jadi tinggal nunggu pengumunan kelulusan dan ijazah saja, tak apa-apa kesini aja dulu, nanti kalau pas pengumunan mau balik lagi ke Jawa lagi sebentar. Adi, mudah diajari dan bisa dipercaya, karena selama ini dia anak baik-baik juga…”
“ Baiklah Buk, bila memang kita sudah siap begini aku akan segera menyelesaikan kewajibanku di KSP Damai dulu, akan aku siapan laporan-laporan dan serah terima kepada bos, nanti dikira kita pakai uangnya malah berabai,”  balas Sofian.
“ Tetapi sebaiknya Bapak jangan membocorkannya dulu sama teman-teman yang lain di KSP Damai karena nanti ada yang gak suka dan berbuat usil,”
“ Iya..Buk, setelah pamitan sama Haji Damang saja saya baru pamitan sama teman-teman di kantor .”
“ Lusa saya akan ke Samarinda dulu, mumpung masih ada bapak yang bisa membantu mengawasi tukang-tukang, dan Lek Ni dan Lek No juga bisa kita percaya kok, jadi saya tinggah beberapa hari ke Kaltim sepertinya tidak apa-apa,”
“ Oh ya , Pak. Kalau Bapak mengundurkan diri sekarang, bapak juga harus segera  mengembalikan mobil inventaris kantor looh, padahal kita butuh mobil untuk sarana transportasi kemana-mana “
“ Gak apa-apa Buk kan ada sepeda motor, saya biasa naik sepeda motor jarak jauh juga karena lebih cepat dan lebih hemat “
“ Baiklah Pak, apa besok ke Samarinda mau naik motor juga..?”
“ Tidaklah Buk. Saya mau naik bis saja, toh di sana ada teman yang bisa saya pinjam motornya buang kesana-kemari mengurus perijinan KSP kita di sana,”
“ Iya ..Pak, lebih aman naik bis saja, terlalu jauh Tabalong – Samarinda “
Akhirnya Sofian dan istrinya memutuskan untuk segera mengundurkan diri dari KSP Damai, yang membuatnya bisa sampai ke bumi Borneo.
Sambil mengawasi dan memasak untuk para tukang, Imoeng masih tetap menjalankan bisnisnya menerima pesanan berbagai barang kebutuhan rumah tangga dan toko ‘serba ada’ di rumah juga masih jalan sebagaimana adanya.
Ayuk sudah kelas 4 SD dan  Ais juga bulan depan sudah masuk kelas 1 SD. Mereka sekolah di salah satu SD Islam  yang dikelola oleh Yayasan di bawah naungan salah satu perusahaan tambang yang ada di Tabalong. Kebanyakan anak-anak yang sekolah di sini juga anak-anak dari para karyawan tambang, yang berasal dari berbagai daerah. Karena sekolah ini dirasa lebih maju dibandingkan SD-SD lainnya.
Ayuk dan Ais lebih cepat menyesuaikan diri dengan teman-temannya, bahkan kedua anak itu sudah pandai bahasa Banjar untuk berinteraksi dengan teman- temannya. Bahkan Ayuk  terlalu sering menggunakan bahasa Banjar  jadi sudah agak tak lancar menggunakan bahasa Jawa

b e r s a m b u n g .

Komentar