31 Okt 2018

Mendulang Asa Ke Bumi Borneo 12

Mendulang Asa Ke Bumi Borneo 12


Sementara Haji Damang masih menunggu di Banjarbaru sampai kasus ini selesai, dan Sofian langsung pulang ke Tabalong, karena rencananya besok dia sekeluarga, akan pindahan rumah dengan menempati dua kamar yang sudah selesai dibangun, dan 1  ruangan untuk berjualan di bagian depan rumah juga sudah jadi.
Di rumah Imoeng sudah menyiapkan ubo rampe untuk pindahan. Dibantu oleh mertua  dan tetangga barang-barang sudah di pindah ke rumah yang baru. Semua dagangan Imoeng juga sudah ditata rapi di ruangan yang disiapkan sebagai toko. Hanya tinggal peralatan tidur, dan beberapa alat dapur yang akan dibawa saat prosesi pindahan nanti.
 Dengan berjalan kaki mereka ramai-ramai mengusung barang-barang yang menjadi simbol kepindahan. Yang paling depan membawa lampu teplok dan sapu lidi sebagai simbol untuk penerangan kehidupan yang datang, dan sapu lidi sebagai simbol membersihkan dulu area atau rumah yang akan ditempati dari semua gangguan dan hal-hal yang tidak baik. Sehingga rumah dan juga pemilik rumah mempunyai hati bersih, berlapang dada , lancar rejeki dan jauh dari gangguan apapun.
“Assalamu’alaikum….wahai semua penghuni rumah ini baik yang kelihatan maupun tidak kelihatan, permisi kami handak menempati rumah ini, jangan ganggu kami, mari kita hidup pada alam kita masing-masing “ Demikian kata sesepuh yang menjadi pembuka pintu di rumah baru.
Setelah semua masuk dan duduk dilanjutkan dengan acara pemotongan tumpeng dan dan  pembacaan doa yang dipimpin sesorang sesepuh agama di kampung itu.
Permohonan perlindungan dan harapan setelah menempati rumah baru,  agar dilancarkan urusannya , rejekinya dan juga  agar dapat  hidup rukun, damai bahagia, dan sehat sentausa.
Tamu-tamu juga banyak yang berdatangan untuk memberi ucapan selamat dan mengikuti acara doa bersama yang di pimpin oleh seorang Sesepuh agama. Sampai jauh tengah malam para laki-laki melekan dengan tidak tidur semalaman, dan diisi dengan ngaji membaca Al-Quran, sholawatan dan  dilanjutkan dengan membaca  Burdah semalaman.
Ayuk dan Ais tetap tidur karena besok pagi harus sekolah seperti biasanya. Walaupun di rumah orang masih sibuk, Sofian dan Imoeng tetap memperhatikan keperluan anaknya, agar tidak ketinggalan di sekolah.
Setelah tinggal di rumahnya sendiri, hati Imoeng dan Sofian menjadi lebih tenang, pesanan dari konsumen Imoeng juga semakin banyak. Bahkan sekarang usaha telor asinnya beromzet lebih banyak. Kalau dulu hanya mengirim ke toko-toko 3 hari sekali sekarang hampir tiap hari tersedia telur asin siap didistribusikan. . Tetangga yang menjadi karyawannya juga semakin banyak. Imoeng perlu membeli mobil pick up untuk mendistribusikan telur asinnya ke berbagai daerah.
Sofian sudah mulai mempersiapan ijin usaha untuk KSP di Samarinda, sehingga harus bolak-balik ke Samarinda. Segala persiapan sudah dilakukan untuk segera membentuk kelompok Anggota Koperasi. Sofian sudah menyewa sebuah rumah yang akan dipakai sebagai kantor dan juga tempat tinggalnya bisa sedang berada di Samarinda.
Adik Sofian yang baru lulus SMA juga sudah datang turut membantu Sofian merintis usaha KSP. Demikian juga Eko anak pertama Imoeng, sudah mengajukan pengunduran diri dari KSP Damai milik Haji Damang, dan berpindah membantu Sofian di KSP nya yang baru. Sofian juga merekrut warga setempat untuk dijadikan karyawannya.
Setelah segala perijinan dan persyaratan untuk mendirikan KSP sudah dilaluinya, Sofian segera menjalankan usahanya. Untuk itu Sofian bahkan perlu terjun sendiri ke lapangan untuk memantau sendiri kegiatan para karyawannya. Peresmian KSP Eka Karya dilakukan dengan sederhana, cukup doa bersama dan potong tumpeng para karyawan dan tetangga dekat kantor saja.
Baru sebulan berjalan KSP Eka Karya sudah menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang sangat signifikan, dengan tenaga-tenaga pemasaran yang sudah berpengalaman dan belajar dari kekurangan yang dimiliki Haji Damang, KSP Eka Karya melaju dengan cepat. Banyak sekali nasabah yang berhasil digandengnya. Nasabah KSP Eka Karya terdiri dari para pedagang pasar, ibu-ibu rumah tangga yang ingin membuka usaha di rumah, seperti berjualan di rumah , membuka usaha catering, usaha laundry, kost-kosan dan lain sebagainya. Samarinda menjadi kota pertama yang disasar Sofian untuk mendirikan KSP Eka Karya ini. Karena Samarinda selain menjadi ibukota propinsi juga mejadi kota yang sedang tumbuh pesat di Kalimatan Timur. Seiring dengan pertumbuhan pertambangan batubara  dan pertambangan lainnya yang membutuhkan banyak karyawan dari berbagai daerah untuk tinggal disini.
Sambil mengawasi para tukang yang bekerja untuk menyelesaikan pembangunan rumahnya, Imoeng juga menjalankan bisnisnya, pembuatan telur asin yang menjadi andalannya kini sudah dikenal luas sebagai telur asin paling enak dan laris di kota Tabalong. Usaha pengadaan aneka kebutuhannya rumah tangga, mulai meluas konsumennya karena Imoeng melayani baik cash maupun kridit. Sebuah toko serba  ada yang menjual aneka kebutuhan rumah tangga  dan sembako sudah dibuka di ruang depan yang memang telah disiapkan menjadi toko yang lumayan luas, sehingga konsumen merasa lebih nyaman dalam berbelanja.
Tak terasa kesibukan demi kesibukan memadati hari-hari Imoeng dan Sofian. Sehingga kadang kejenuhan mulai timbul, mereka butuh refresing untuk menyegarkan pikiran kembali. Pulang ke Jawa adalah pilihan refresing yang tepat, karena selain bisa refreshing , bisa bertemu keluarga besar, teman-teman sewaktu masih di Kudus, juga seklian bisa membeli barang-barang yang sekiranya laku dijual disana. Mereka hanya berdua, anak-anak sudah ada yang mengewasi di rumah. Sofian pun sambil mencari tambahan karyawan untuk KSP Eka Karya, dari kalangan tetangga  maupun kerabat sendiri yang membutuhkan pekerjaan dan mau untuk hidup di Kalimantan.

b e r s a m b u n g....

Baca selengkapnya

30 Okt 2018

Mendulang Asa ke Bumi Borneo 11

Mendulang Asa ke Bumi Borneo 11


Jam 7 pagi Haji Damang dan Sofian sudah berada di Kantor KSP Tanjung, sambil menunggu Mikun datang, Sofian menyerahan Surat Pengunduran Diri pada Haji Damang.
“ Saya ingin masalah segera selesai Bos, agar saya meninggalkan KSP Damai dengan tenang tanpa beban yang mengganjal. Silahkan Bos periksa rekening-rekening saya dan istri , ini saya bawa buku rekening, atau Bos bisa datang ke rumah apa yang kami miliki, karena sejak Imoeng datang kemari usahanya semakin lancar, jadi kami bisa memebeli sebidang tanah dan membangun rumah seperti sekarang ini, juga berkat bantuan Bos Damang secara langsung “ kata Sofian pada Bosnya.
“ Iya ..Mas, saya tahu saya tak akan menuduh Mas Sofian macam-macam, makanya saya tantang Mikun agar dia berani mempertanggung-jawabkan ucapannya kemarin, ditambah biar hal yang tidak jujur jangan diulangi lagi, apalagi kita bergerak di bidang keuangan, kalau tidak jujur lambat laun bisa menggerogoti usaha ini.” Jawab Haji Damang menyakinkan.
“ Iya..Bos, Bos harus hati-hati mempunyai karyawan seperti itu, saya juga merasaka kecolongan punya anak buah seperti itu tidak mengetahui dari dulu “ jelas Sofian.
“ Kita tunggu saja, kalau sampai jam 8 Mikun tidak datang , berarti dia mempunyai itikat yang tidak baik, aku akan segera memecatnya “.
“ Iya..jangan-jangan Mikun sudah pulang ke Balangan dan siap-siap melarikan diri “
“ Betul Mas, aku telpon Sriono saja, apa Mikun sudah sampai di sana, biar dia yang mencegah Mikun untuk melarikan diri. Biar Sriono juga mengamankan uang KSP Balangan yang selama ini dibawa Mikun juga,” kata Haji Damang, sambil menggambil hp yang ada di dalam saku bajunya dan langsung menelpon Mikun.
Berkali-kali bunyi dering meamanggil tetapi Mikun tidak mau mengangkatnya juga, padahal dia tahu kalau itu yang menelpon adalah Bosnya.
Mikun memang sedang dalam perjalanan menuju ke Banjar untuk segera pulang ke Jawa.
“ Buat apa aku meneruskan bekerja di sini kalau sepertinya Haji Damang lebih memihak pada Sofian dari pada percaya pada aku “ Pikir Mikun.
Setelah acara Pertemuan kemarin, Mikun langsung pulang ke Balangan dan mengemasi semua pakaiannya, pagi-pagi sekali dia menemui Nasabah yang janji akan menemuinya. Nasabah itu rupanya mau melunasi cicilannya yang masih tersisa 10 bulan di KSP Damai dan mengambil kridit baru yang lebih besar.
Uang cicilan 10 bulan dari nasabah diambil oleh Mikun, selanjutnya Mikun meluncur menuju Ke Banjarbaru ke Bandara Samsudin Noor, untuk pulang ke Jawa. Kalau perlu dia akan bersembunyi dulu di rumah saudaranya di suatu desa di lereng gunung Muria.
Setelah mendapat penjelasan dari Haji Damang, Sriono segera menyusul ke KSP Damai Balangan yang letaknya bersebelahan dengan rumah yang ditempati Mikun.
Menurut keterang Acil yang tinggal di rumah sebelahnya, Pak Mikun sudah pergi pagi-pagi tadi, entah kemana Acil itu tidak tahu.
Perasaan Sriono semakin tidak enak ketika di kantor KSP sudah ada nasabah yang kemarin hendak ditemuinya.
“ Pak tadi ulun sudah membayar semua cicilan pada Pak Mikun, katanya sekarang saya boleh mengambil kridit baru lagi, ulun lagi butuh dana yang lumayan banyak buat usaha baru nii.. ,”
Belum sembat ditanya nasabah itu sudah menceriterakan apa yang dikawatirkannya.
“ Maaf Pak, kapan bapak membayarkan semua cicilan pada Pak Mikun?” Tanya Sriono pada nasabah dengan nada cemas.
“ Baru pagi tadi Pak ae, Pak Mikun sendiri yang datang ke rumah ulun “
“ Maaf, Pak.  Sekarang Pak Mikun gak ada di tempat, saya sedang mencarinya sekarang “
“ Terus bagaimana..ulun, Pak ae..?”
“ Tunggulah, Bapak silakan pulang dulu, kami akan menyelesaikan masalah dengan Pak Mikun dulu ya..” jelas Sriono pada nasabah itu.
Setelah nasabah itu pulang, Sriono segera menelpon Haji Damang untuk mengabarkan yang telah terjadi dan langkah apa yang harus dilakukannya.
“ Bos ternyata kekawatiran kita benar terjadi, Pak Mikun sudah pergi dan pagi-pagi tadi dia ke rumah nasabah untuk mengambil uang pelunasan cicilan 10 bulan, karena rencananya  si nasabah hendak mengambil kridit baru lagi, baru saja dia kesini dan menanyakannya pada saya, tapi sudah saya suruh untuk pulang dulu
“ Baik Pak, saya akan segera menghubungi petugas keamanan bandara, agar mengamankan Pak Mikun sebelum dia bisa lari dari sini, “ jawab Bos Damang.
Haji Damang segera menghubungi petugas bandara yang menjadi temannya, untuk kemudian minta bantuan untuk mengamankan pak Mikun bila sudah masuk ke Bandara.
Haji Damang dengan didampingi oleh Sofian segera, mengejar Mikun dengan mengendari mobil yang cukup kencang. Tujuannya langsung ke bandara Samsudin Noor, karena  HajiDamang yakin kalau Mikun pasti menuju kesana untuk kemudian pulang ke Jawa.
Sriono dan nasabah yang telah membayarkan uang pelunasan cicilan juga bergerak menuju ke Banjar, untuk menjadi saksi kalau nanti kasus ini ditangani oleh pihak Kepolisian Bandara.
Mikun dengan mengendarai sepeda motor melaju dengan kencang, karena tidak ingin ketinggalan penerbangan ke Semarang untuk hari itu, pada jam 13.40 siang. Dia rupanya tidak memperhitungkan kalau perbuatannya bisa diketahui Bos Damang lebih cepat, sehingga saat ini dia sudah menjadi buronan.
Sampai ke Bandara Mikun langsung menuju loket sebuah Maskapai penerbangan untuk membeli tiket pesawat untuk penerbangan siang itu juga. Ternyata di loket, tiket yang dicari sudah habis, tak lama kemudian Mikun didekati oleh seorang calo tiket, yang menawarkan tiket ke Semarang untuk penerbangan hari itu dengan harga yang lebih mahal.  Buat Mikun berapun harga tiket itu tidak menjadi soal yang penting bisa selamat sampai di Jawa dulu.
Baru selesai transaksi dengan seorang calo, Mikun didekati oleh 2 orang petugas keamanan Bandara. Mikun mengira petugas kepolisian itu mendekatinya karena telah membeli tiket lewat calo. Mikun diminta untuk masuk ke kantor keamanan bandara.
“ Maaf Pak, tolong saya lihat KTP nya “
Mikun segera mengeluarkan KTP tanpa prasangka apapun.
“ Benar Pak Mikun ya.., saya harap bapak disini dulu sambil menunggu petugas kepolisian datang beserta Pak Damang. 
Mikun segera deg, ‘ kenapa Bos Damang menyusulnya kemari, apa dia sudah tahu kalau saya membawa uang nasabah ya, ‘ pikir Mikun.
Mikun ingin segera bisa melarikan diri keluar dari ruangan itu, dengan mengalihkan perhatian petugas keamanan itu, Namun sayang rupanya pintu kantor keamanan itu telah dikunci.
Tak lama kemudian Haji Damang, Sofian disertai dua petugas kepolisian datang masuk ke kantor keamanan Bandara.
“ Pak Mikun..maumu apa..?” Haji Damang langsung menyapa Mikun dengan nada tinggi.
“ Anu..pak…anu…saya mau pulang, karena istri saya telpon kalau si bungsu sakit, saya disuruh pulang “ kata Mikun ngeles.
“ Sudah Pak tak usah berbelit-belit, kamu akan segera dibawa ke kantor polisi, nunggu Pak Sriono yang akan segera datang beserta nasabah ang telah menyerahkan uangnya pada kamu ,”
“ Ampun ..Bos, saya hanya akan pinjam saja uang itu…besok saya kembalikan kalau anak saya sudah sembuh “ kata Mikun yang masih berusaha berkelit.
Tak lama kemudian Sriono dan nasabah yang dimaksud sudah datang masuk ke ruangan itu. Mikun sudah tak bisa apa-apa setelah salah seorang polisi membentaknya.
Mikun segera digelendeng ke kantor Polsek dekat Bandara. Dengan menggnakan mobil polisi.
Mikun akhirnya menyelesaikan masalahnya dengan Polisi karena Haji Damang sudah menyerahkan sepenuhnya atas kasusnya pada pihak Kepolisian.

b e r s a m b u n g....

Baca selengkapnya

27 Okt 2018

Mendulang Asa ke Bumi Borneo 10



Esok paginya jam 7 pagi Sofian sudah berada di Kantor KSP Tabalong, menyiapkan laporan-laporan dan berkas-berkas yang hendak diserahkan pada Haji Damang sekalian menyerahkan Surat Pengunduran Diri yang sudah dipersiapkan beberapa hari sebelumnya.
Betapa kaget Sofian karena buku laporan keuangan bulan ini yang kemarin sudah dipersiapkan ternyata tidak ada, siapa yang mengambil ya…gunam Sofian dalam hati. Sofian mulai terasa was-was jangan-jangan ada yang hendak menyalahinya…dengan mengubah data keuangan di buku itu.
Sofian mulai menelisik satu-satu laporan keungan harian, sepertinya ada yang beda dengan yang telah dia buat kemarin. Ada banyak selisih –selisih antara uang yang masuk dari para petugas lapangan dengan catatan yang ada buku dan uang yang telah disetorkan pada Haji Damang.
“ Kok..Jadi seperti ini ya, kemarin-kemarin klop, tak ada masalah..” lama…Sofian memperhatikan satu-satu angka-angka itu..seperti ada bekas tipe-ex yang samar sekali.
Belum sempat Sofian berpikir lebih panjang , Haji Damang sudah masuk ke dalam ruang kerjanya.
“ Selamat pagi…Mas Sofian..waah..pagi-pagi sudah siap di kantor niih…” Sapa bos Damang yang membuyarkan pikiran Sofian.
“ Selamat pagi juga Bos…iya ini saya mau menyiapkan berkas-berkas dan laporan keuangan pada Bos Damang…pagi ini, tapi…”
“ Tapi…kenapa  Mas? Ada yang belum selesai…ya sudah diselesaikan dulu, saya juga tidak buru-buru kok…”
“ Bukan begitu Bos..kemarin sudah saya siapkan semua, dan klop semua..tapi kenapa  jadi..begini ya..” Jelas Sofian pada Bos Damang.
‘ Memang kenapa Mas? Biasanya tak ada masalah kan..? Coba diteliti lagi satu-satu, kalau perlu kita panggil kepala cabang-kepala cabang yang ada di wilayah Kalsel, atau mungkin ada laporan salah satu dari mereka yang tidak beres..”
“ Kasih saya waktu untuk merunut satu-satu Bos..biar kelihatan kesalahan terletak dimana ?”
“ Iya..monggo silahkan selesaikan dulu..kalau perlu bantuan saya ada di ruang sebelah ya..”
“ Terima kasih, Bos..”
Sofian segera meneliti satu-satu laporan harian dari tiap Unit Cabang , bahkan kalau perlu merunut sampai laporan harian petugas lapangan. Dari situ Sofian jadi ingat Kepala Unit Cabang Balangan yang bernama Mikun. Dia ingat kata-kata dan juga tatapan penuh iri dari Mikun pada waktu rapat koordinasi bulanan KSP Damai se wilayah Kalsel. Entah kenapa Mikun tidak suka padanya. Padahal mereka sama-sama berasal dari desa yang sama di Kudus. Mungkin Mikun tidak menyukai karir Sofian begitu baik, bahkan Mikun dengar kalau tak lama lagi Sofian akan mendirikan KSP sendiri di Kaltim.
Sehari sebelumnya, saat Sofian pergi ke Banjar untuk menjemput Haji Damang, Mikun memang datang ke KSP Tabalong, dengan alasan ingin melarat laporannya, Mikun masuk ke ruang kerja Sofian dan mendapati tumpukan laporan yang sepertinya baru dibuat oleh Sofian, maka dengan berhati-hati mikun mengganti angka-angka yang sudah tertera di laporan keuangan yang dibuat Sofian, dengan maksud agar Haji Damang melihat kalau laporan tidak sesuai dengan kenyataan uang yang telah disetor pada Haji Damang. Yang berarti uang itu telah dipakai Sofian. Begitu pikiran Mikun, untuk menjatuhkan Sofian.
“ Mbak Sofi…apa kemarin Pak Mikun datang kemari..?” Tanya Sofian pada Sofi yang berstatus sebagai sekretarisnya di KSP Damai.
“ Iya..Pak, kemarin Pak Mikun kesini, bahkan masuk ke ruang bapak, tapi saya tidak tahu apa yang dilakukan di dalam, karena ruangan ditutup, tapi Pak Mikun bilang ada laporan bulanan KSP Damai Balangan yang salah, dia ingin membetulkan sedikit katanya ,” jawab Sofi pada atasannya itu.
“ Memang kenapa Pak..”
“ Ada data keuangan yang sengaja dia ganti, entah apa maksudnya, saya akan melapor ke Bos Damang, dan Mbak Sofi nanti yang jadi saksi ya, kalau Pak Mikun kemarin masuk ruangan saya “ Sofian merasa mendapat jalan keluar dengan masalah yang dihadapinya sekarang.
“Baiklah kalau begitu, saya akan membuat laporan keuangan lagi yang benar, tapi saya tetap akan melaporkan tindakan Pak Mikun pada Bos Damang, agar ke depannya tidak akan mengulangi lagi tindakannya “ kata Sofian sambil berjalan menuju ruangannya kembali.
“ Silakan pak..!”
Sofian segera kembali ke ruang kerjanya dan membuat laporan keuangan untuk bulan itu dengan hati-hati dan teliti. Belum sampai selesai Laporan Keuangan itu selesai dikerjakan Bos Damang kembali masuk ke dalam ruangannya.
“ Bagaimana Mas Sofian ada sesuatu sepertinya ya..” Tanya Bos Damang.
“ Iya Bos, ternyata ada yang dengan sengaja merubah laporan yang kemarin sudah saya buat.”
“ Looh…siapa? Ada buktinya, atau yang melihat kah ?
“ Bos bisa lihat sendiri..ini bekas tipe-ex tipis-tipis dan timpaan tulisan tidak pas sehingga masih kelihatan kalau itu hasil revisi, padahal saya tidak pernah membuat laporan keuangan dengan kesalahan apalagi main tipe-ex,…” kata Sofian sambil menyodorkan selembar kertas Laporan keuangan itu pada Bos Damang.
“ Iya..bener kelihatan kalau ada yang sengaja mengubahnya, siapa ya..”
“ Saya sudah tahu orangnya Bos, saya juga sudah mendapatkan saksi kalau orang yang bersangkutan kemarin masuk ke ruangan ini ketika saya menjemput Bos ke Banjar kemarin “ jelas Sofian.
“ Siapa orangnya Mas? Ada perlu aku memanggilnya “ Bos Damang jadi ikut gemes dengan orang seperti itu.
“ Sebaiknya kita adakan pertemuan dengan para Kacab se wilayah Kalsel secepatnya Bos… dia salah satu dari Kacab, coba nanti Bos Tanya sendiri, ada yang mau ngaku tidak “
“ Baiklah Mas ..sekalian kalau Mas Sofian mau pamit kepada mereka, Mbak Sofi suruh ngatur tempat yang enak buat acara pertemuan ini, biar yang jauh-jauh disiapkan tempat untuk menginap juga,” perintah Bos Damang.
Sofian segera memanggil Sofi sekretarisnya untuk bisa datang ke ruangannya.
“ Duduk sini Mbak Sofi”  kata Bos Damang.
“ Mbak Sofi kami ingin mengadakan rapat untuk seluruh kacab KSP Damai se Kalsel, tolong disiapkan tempat pertemuan yang kira-kira untuk 50 orang, sekalian untuk tempat penginapnya ya..kasihan mereka datang jauh-jauh kalau tidak disediakan tempat untuk istirahat yang layak” kata Bos Damang kepada Sofi.
“ Baik ..Pak, kalau kita menyewa hotel Tanjung kira-kira bos setuju tidak, atau nanti siang saya akan survey ke beberapa hotel di Tabalong ini “
“ Iya Mbak, tolong disurvey dulu yang kira-kira bagus dan sesuai dengan bagjed kita, anggarannya masih sama yang tahun kemarin ya Mbak Sofi “ jelas Bos Damang pada Sofi.
“ Saya akan mensurvey siang nanti, semoga sore nanti saya sudah bisa membuat laporan pada Bos sore hari nanti, sebelum jam pulang kantor “
“ Terima kasih Mbak Sofi, lebih cepat lebih baik , Mbak sofi bisa minta antar Pak Leman nanti ya..” tambah Bos Damang.
“ Baiklah Pak, saya akan melanjutkan kerjaan saya dulu, permisi…” kata Sofi sambil bangkit dan berjalan menuju ruangannya sendiri.
Sambil mendengarkan pembicaraan antar Bos Damang dan Sofi, Sofian melanjutkan kerjaannya untuk membuat Laporan Keuangan yang baru.
“ Sudah selesai Bos…silahkan Bos periksa semua, terima kasih bos mau mengadakan acara pertemuan untuk perpisahan saya “
“ Saya bawa ke ruangan saya dulu ya Mas laporannya, sambil saya periksa disana “
‘ Baik Bos monggo..”
Haji Damang pun kembali ke ruang kerjanya sendiri, yang sekaligus menjadi kamar pribadinya bila kebetulan sedang berada di Tabalong jadi tidak perlu menginap di hotel atau penginapan.
Sofian terus menyiapkan surat-surat dan lain-lain untuk nantinya diserakan kembali pada Bosnya, bagi Sofian ada perasaan sedikit haru karena mau keluar dari tempat kerja yang telah membesarkannya, mengajarinya banyak hal tentang bisnis, dan kehidupan. Pekerjaan yang bisa membawanya sampai di Kalimantan, dan membawa kemajuan dalam hidupnya. Namun bagaimana lagi, Sofian ingin kehidupan yang lebih baik dengan mendirikan usaha KSP sendiri.
Untuk itu Sofian tidak ingin bersaing dengan bosnya, dia ingin mendirikan KSP di Kaltim saja,agar tidak bersaing dengan KSP milik Haji Damang. Karena KSP Damai tidak mempunyai cabang di Kaltim.

Acara pertemuan dengan seluruh kacab KSP Damai se kalsel digelar di Hotel Tanjung juga akhirnya, kamar dan tempat pertemuan yang nyaman membuat para kacab yang datang dari jarak yang lumayan jauh bisa beristirahat dan menikmati acara dengan santai walaupun serius.
Satu per satu Kacab dipersilahkan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata tentang Sofian yang telah berpamitan. Tiba giliran Mikun maju untuk memberikan sepatah kata perpisahan pada Sofian agak malas-malasan, namun karena Haji Damang sendiri yang menyuruh Mikun akhirnya maju ke depan.
“ Saya senang Sofian akhirnya keluar dari ‘Damai’ semoga bisa maju, atau sebulan dua bulan bulikan lagi niih…” kalimat-kalimat yang disampaikan benyak mengandung ejekan pada Sofian. Tetapi Sofian diam saja, Haji Damang yang justru curiga dengan Mikun dan melempar pertanyaan padanya.
“ Pak Mikun apa ada masalah kah dengan Mas Sofian, kok sepertinya gak enak gitu..” Tanya Haji Damang.
“ Nggak…ngak…ada apa-apa kok Bos, saya senang Pak Sofian bisa maju seperti itu..”
“ Pak Mikun, coba diinget-ingin..apa Pak Mikun ada masalah dengan Mas Sofian..?”
“ Bener Bos…nggak ada apa-apa, hanya…anu Bos…”
“ Hanya anu apa Pak Mikun, tolong bicara yang jelas..” Haji Damang menanggapi dengan agak serius.
“ Apa Bos sudah cek semua laporan-laporan Pak Sofian selama ini selama Pak Sofian jadi orang kepercayaan Bos Damang, harusnya Bos cek satu-satu looh, mumpung Pak Sofian masih disini, jujur saja Bos saya kok…gak begitu percaya, lihat saja 2 tahunan ini Pak Sofian cepat sekali menjadi kaya, bahkan sekarang aja sudah mau bikin usaha untuk nyaingi Bos..!”
“ Pak Mikun, atas dasar apa Pak Mikun bisa berkata seperti itu !, Pak Mikun berani mempertanggung-jawabkan pernyataan Pak Mikun tadi, besok Pak Mikun jangan pulang dulu, ikuti saya untuk investigasi audit kekayaan Mas Sofian, kalau memang ada penyelewengan harus segera ditindak !, tapi kalau ternyata hanya fitnah belaka silahkan nanti berhadapan dengan saya !”
“ Oh…begitu ya Bos, tapi saya besok harus kembali ke Balangan Bos, ada janji  dengan nasabah besar Bos, tidak bisa bos…tidak bisa “ elak Mikun takut sendiri.
“ Biar saya telpon Pak Sriono, yang akan menangani kasus dengan nasabah itu, Pak Mikun harus disini dulu mempertanggung-jawabkan omongannya lebih dahulu, paham Pak Mikun ?”
“ Tidak bisa Bos…kemarin saya yang sudah berjanji sendiri sama nasabahnya , saya sendiri yang akan menanganinya, dia tidak mau diwakilkan, nanti sayang kalau nasabahnya kabur !”
“ Ini perintah dari saya Pak Mikun, mohon Pak Mikun jangan membuat alasan macam-macam, biar urusan nasabah ada yang menangani sendiri !” kata Bos Damang dengan nada agak tinggi.
“ Iya Bos,”  jawab Mikun dengan terunduk sehingga suaranya hampir tak terdengar.
“ Baiklah, besok pagi-pagi saya tunggu di kantor KSP Tabalong, kita mulai pagi-pagi menelusuri dugaan Pak Mikun, gimana Pak Mikun siap..?”
Mikun hanya menjawab dengan mengangguk lemah, Mikun mulai merasa dia sudah terjebak dengan permainan yang dimulainya sendiri. Mikun pula yang akan menanggung akibatnya bila ternyata dugaannya itu salah. Dia tahu kalau Sofian orangnya sangat jujur jadi gak bisa mencari-cari alasan dengan menuding Sofian macam-macam. Dia tahu pula resiko yang akan dihadapi bila ia ketahuan telah berbohong, Bos Damang pasti tidak akan main-main dalam menjatuhkan sangsi.

b e r s a m b u n g......

Baca selengkapnya

24 Okt 2018

Mendulang Asa ke Bumi Borneo 9




Selama hampir dua minggu sejak Haji Damang didatangi Bu Damang dan akhirnya mereka pulang ke Kudus bersama , Haji Damang tidak ke Kalimantan hanya sesekali dia telfon ke Sofian menanyakan perkembangan  KSP nya. Dengan waktu yang agak panjang ini bisa digunakan Sofian untuk berpikir kembali soal rencana pendirian KSP nya di Kaltim. Selain itu Sofian bisa lebih leluasa menghubungi orang-orang yang telah mensuportnya untuk segera mendirikan KSP sendiri. Jadi waktu Haji Damang datang ke Kalimantan nanti Sofian sudah benar-benar siap untuk mengajukan permohonan pengunduran diri secara langsung pada Haji Damang. Dan segera memulai usaha barunya.
Akhirnya masalah pribadi Haji Damang dengan istrinya selesai juga, istrinya bersedia diajak kesana kemari mendampingi suaminya. Karena anak-anak mereka pun sudah beranjak remaja sudah tidak harus ditunggu terus menerus.
“ Mas Sofian…saya minta maaf atas kejadian kemarin ya, bapak sudah memutuskan tidak akan menghubungi wanita itu lagi, karena saya akan selalu mendampnginya, “  kata Bu Damang ketika dia dan Haji Damang dijemput Sofian di bandara Samsudin Noor.
“ Sama-sama , Bu. Memang begitulah manusia ada khilaf-khilafnya…” balas Sofian sambil menyetir mobil.
“ Kita makan dulu Mas, itu diujung jalan sana ada Soto banjar yang enak, kangen juga sama soto banjar niih…”  Sela Haji Damang .
“ Gak apa-apa asal gak kangen sama cewek  banjar saja…” balas Bu Damang sambil bergurau.
“Oke Boss…sekalian kita bincang-bincang, ada sesuatu yang hendak saya sampaikan,”  jawab Sofian merasa ada peluang untuk menyampaikan soal resign yang sudah dirancangnya.
Sofian akhirnya memakirkan mobilnya pada sebuah rumah makan yang terletak di daerah Banjarbaru mau masuk ke arah Martapura.
“ Begini Boss…saya ingin mengajukan permohonan untuk mengundurkan diri dari KSP Damai, saya sangat berterima kasih karena selama di KSP Damai, saya bisa banyak belajar, saya bisa memperoleh banyak saudara dan mendapat bos yang sangat baik hati dan dermawan seperti Bos Damang. Tetapi ..bagaimanapun juga saya tetap harus mengundurkan diri, saya ingin mempunyai usaha sendiri Boss  “ Sofian memberanikan memualai pembicaraan di saat makan siang Soto banjar sudah hampir selesai.
“ Apa ..? Mas Sofian mau mengundurkan diri ? kenapa Mas? Maaf apa saya ada salah, atau istri saya yang salah, atau sedang ada sesuatu masalah dengan KSP kita..?” kata Bos sofian menanggapi perkataan Sofiaan.
“ Bukan Pak, bagi saya Bos Damang malah terlalu baik pada saya dan keluarga. Bahkan saya bisa diberangkatkan untuk menunaikan ibadah haji segala, tapi saya ingin lebih maju dengan mempunyai usaha sendiri Boss “
“ Usaha apa yang hendak Mas Sofian kerjakan, apa tidak bisa dikerjakan sambil kerja di KSP Damai, Mas Sofian kan juga hanya tinggal mengecek –ngecek saja KSP ini, karena di semua daerah sudah ada penangung jawabnya masing-masing…!”
“ Tidak bisa Boss..karena saya akan menjalankan usaha saya ini di Kaltim, saya harus berkonsentrasi di sana..”
“ Usaha apa to Mas..?”
“ Saya ingin mendirikan KSP juga Bos, sudah ada salah satu bank di Kaltim yang bersedia menggelontorkan modalnya, mungkin besok saya akan segera mengajukan surat Permohonan Pengunduran Diri saya, dan melakukan serah terima dengan Boss, silahkan Boss mengecek kembali laporan-laporan keuangan yang sudah saya buat dari kemarin “
“ Saya belum bisa menjawab sekarang Mas Sofian, saya butuh waktu untuk mengecek segala sesuatunya, dan mendapatkan pengganti Mas Sofian, yang bisa bekerja penuh dan bisa dipercaya ,”  Balas Haji Sofian dengan nada agak kecewa.
“ Baiklah, Boss. Saya tunggu secepatnya keputusan Bos, tetapi segala sesuatunya sudah saya persiapkan Boss tinggal ngecek saja, untuk pengganti saya Mas Rohim saya kira sangat mumpuni dan bisa dipercaya Boss”
“ Kita  bicarakan besok di kantor saja sambil ngecek laporan-laporan, sekarang mau kan Mas Sofian mengantarkan Ibu dulu ke Matapura, kita bisa langsung ke Tabalong .”
“ Baik ,Boss. Monggo….”
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Martapura, karena Bos Damang mempunyai rumah di sana meskipun jarang didatangi namun ada penjaga rumah, yang selalu bersih –bersih dan menyiapkan makanan bila ada yang hendak datang menginap di sana.
Di perjalanan Sofian, Haji Damang dan istrinya lebih banyak diam dan suasana menjadi agak kaku semenjak Sofian mengutarakan keinginannya untuk mengundurkan diri. Apalagi Bu Damang , dia merasa sangat bersalah karena telah marah-marah pada Sofian dan menuduh yang bukan- bukan. “ Apa karena itu ya Sofian mengundurkan diri. “ Bu Damang bertanya-tanya sendiri di dalam hati.
Setelah istirahat sejenak di Martapura, Sofian dan Damang melanjutkan perjalanan ke Tabalong.
Di perjalanan hanya sesekali Haji Damang mengajak berbicara, menanyakan soal pembangunan rumah Sofian di Tanjung Tabalong.
“ Sudah sampai mana Mas, pembangunan rumahnya,” Tanya Bos Damang memecah kekakuan dalam perjalanan..
“ Alhamdulilah, dua kamar sudah hampir 2 meter tingginya, karena memang saya minta untuk diselesaikan dulu 2 kamar itu, kamar mandi dan dapur agar kami bisa pindah ke sana lebih dahulu, kontrakan rumah bulan depan sudah habis Boss,”  jelas Sofian .
“ Apa tidak diperpanjang dulu kontrankannya sambil menunggu rumah jadi Mas…”
“ Tidak, Boss. Sekalian untuk mengawasi tukang-tukang kalau Imoeng tinggal di rumah itu .”
“ Mas Sofian sebaiknya pertimbangkan dulu pengunduran dirinnya, paling tidak sampai rumah itu selesai dibangun, nanti saya ikut membantu sampai selesai .“
“ Terima kasih Boss. Tapi saya harus segera memulai KSP saya di Kaltim secepatnya, karena program Bank Kaltim untuk menyalurkan dana pinjaman untuk usaha mikro harus terealisasi awal bulan ini, karena saya dapat modal dari bank tersebut Bos.”
“ Apa Mas Sofian mau pakai modal dari saya, tetapi tetap itu usaha Mas Sofian sendiri, jadi statusnya dana pinjaman terhadap saya… butuh modal berapa, Insyaallah ada kok Mas?”
“ Tidak Bos…terima kasih, saya sudah mendandatangi surat perjanjian kerjasamanya dengan pihak bank, walaupun belum secara resmi, nanti saya jadi tidak dipercaya lagi Boss kalau membatalkannya,”
“ Oh..begitu ya…ya sudah besok kita bereskan laporan-laporannya, hari ini sudah terlalu sore, Mas Sofian juga capek kan..”
“ Oke…Boss, besok pagi saya ke kantor”
Sambil menurunkan Haji Damang di kantor sekaligus rumah buat Haji Damang bila sedang berkunjung ke Tabalong.
Sofian segera pulang ke rumah, ingin menceriterakan pada Imoeng  kalau dia sudah berhasil menyampaikan tentang pengunduran dirinya ke Haji Damang.
Hari sudah sore, mejelang magrib ketika Sofian mampir sejenak ke rumahnya yang sedang dibangun. Senyum tipis mengembang di wajahnya, tanda bahagia. Pembangunan rumahnya telah berjalan lancar, 2 buah kamar sudah tinggal memasang atap sementara. Dia dan keluarganya akan segera menempati rumah sendiri, hasil keringat sendiri. Cita-cita ingin mempunyai rumah sudah hampir kesampaian. Sofian banyak besyukur, karena semenjak Imoeng ikut tinggal di Kalimantan rejekinya mengalir begitu deras. Bahkan sekarang dia sudah hendak mempunyai usaha KSP sendiri.

Suami istri kalau hidup bersama ternyata rejeki dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah, kenapa juga Imoeng baru mau datang ke Kalimantan sekarang, setelah ada banyak masalah di Kudus. Namun apapun yang ternjadi Sofian justru bersyukur dengan adanya masalah Imoeng jadi mau hidup di Kalimantan.
Tukang-tukang sudah pulang, bahan-bahan bangunan dan alat-alat bangunan berserakan di sana-sini, Sofian merapikannya sejenak, agar tidak kena air bila malam nanti turun hujan, dan tidak diambil oleh orang-orang jahil walaupun di sekeliling bangunan sudah diberi pagar seng tinggi.
Ketika sayup-sayup adzan maghrib terdengar dari kejauhan, Sofian segera menutup pintu pagar dari seng, untuk menuju mobil dan kembali ke rumah kontrakan yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah yang sedang ia bangun itu.
Sofian juga sudah mulai mengakrabi tetangga yang sedang berjalan sepulang dari bekerja di tambang. Mereka biasanya diantar-jemput oleh bis-bis karyawan yang berhenti di jalan raya depan gang. Ada juga yang sedang berjalan menuju masjid, karena memang tak lama lagi adzan Magrib segera berkumandang di Masjib seberang jalan raya di depan gang. Satu dua kera bermunculan bergelantung di pohon Ketapi yang terletak di seberang jalan rumah yang sedang dibangun. Ada satu dua buah Ketapi yang sudah tua, kera-kera itu menyerbunya sebelum malam datang dan kawanan kelelawar datang memilih buah-buah yang sudah masak. Kehadiran kera-kera di perkampungan yang sudah banyak penduduknya itu tergolong nekat, karena di hutan-hutan sudah tidak menyediakan makanan lagi baginya. Bahkan sudah berganti dengan rumah-rumah penduduk dan pohon-pohon karet yang tidak memberi arti bagi kehidupan para kera itu. Maka dia suka melompat dari pohon ke pohon menuju perkampungan, siapa tahu ada makanan di sana.
Siapa cepat dia dapat tak peduli berlaku pada manusia saja, binatang-binatang itu pun sekarang harus beradu cepat dengan manusia agar memperoleh makanan untuk kelansungan hidupnya. Apalagi setelah eksplotasi penebangan kayu di dalam hutan, dilanjutkan dengan pembentukan site-site tambang yang secara besar-besaran terjadi Tabalong, binatang-binatang itu seolah-olah minta perlindungan serta kenyamanan yang dirampas oleh manusia.
Sampai di rumah Sofian langsung menuju ke kamar mandi, untuk mandi dan membersihkan diri serta berwudhu. Karena di ruang tengah Bapak, ibunya, Imoeng dan anak-anaknya sedang menunaikan sholat Maghrib. Semenjak ada bapak dan ibunya datang keluarga Sofian membiasakan sholat Maghrib berjamaah di rumah. Kalau Sofian sedang di rumah, ia yang menjadi imamnya, namun bila tidak ada bapaknya biasa menggantikan posisinya menjadi iman sholat.
Sofian cepat-cepat mandinya sehingga sempat mengikuti sholat berjamaah walaupun hanya satu rekaat saja.
Usai sholat berjamaah biasanya dilanjutkan dengan makan malam bersama. Karena setelah itu Ayuk dan Ais harus segera belajar dan menyiapkan buku-buku yang harus dibawa ke sekolah esoknya.
Sambil membereskan bekas makan malam Imoeng menyempatkan menanyakan tugas-tugas dan PR yang mungkin ada pada Ayuk dan Ais.
“ Ais…PR sudah dikerjalan belum ?”
“ Sudah , Buk..ae…oh iya besok disuruh membawa kertas karton berwana emas dan merah Buk..untuk membuat prakarya di sekolah besok..” kata Ais.
“ Kenapa baru bilang sekarang Ais…lihat tuuh, di toko masih ada kadak..?”
Ais segera berlari ke ruang depan yang digunakan sebagai toko oleh ibunya.
“ Ada..hanya merah Buk..ae..yang emas kadadak..”
“ Boleh ulun nukar di toko depan sana Buk..ae..”
“ Sudah malem Ais, biar nanti diantar Mas Dwi kalau sudah pulang”
“ Kelawasan Buk ae…Mas Dwi belum tentu pulang cepat “
“ Ya sudah kalau sudah selesai biar ibuk saja yang menukar “
Usai membantu anak-anaknya menyiapkan keperluan sekolahnya.Imoeng mendekati suaminya yang sedang berbincang-bincang dengan bapak mertuanya.

“ Bagaimana, Pak ? sudah pamit sama Haji Damang?” Tanya Imoeng pada suaminya.
“ Sudah Buk, tapi kata Bos Damang besok pagi saya harus ke kantor dulu untuk menyerahkan laporan-laporan sekaligus Bos Damang akan menelitinya kondisi keuangan kantor ,”
“ Semoga tak terjadi apa-apa Pak, semua lancar, toh selama ini kita sudah jujur dengan semua pembukuan di KSP ‘Damai’ semoga juga tak ada yang menyalahi  kita “ Jawab Imoeng yang sudah duduk di samping suaminya.
Wong kerjo kuwi ati-ati Le, ojo nyalah-nyalahi uwong, mengko mundak awak dewe disalahi wong liyo, angger nandur apik, mbesok leh panene apek, wis percoyo kuwi wae..” nasehat Bapaknya Sofian yang ikut mendengarkan cerita-cerita dari anak dan menantunya.
“ Iya..Pak. maturnuwun nasehatnya, aku ingat-ingat selalu…”
Mereka berbincang-bincang sampai jam 9 malam, karena Sofian juga sudah mengantuk setelah seharian keluar kota menjemput Haji  Damang dan istrinya.

b e r s a m b u n g....

Baca selengkapnya

21 Okt 2018

Mundulang Asa ke Bumi Borneo 8


Beberapa bulan di Tabalong pertumbuhan Dwi memang terasa begitu cepat, badannya yang dulu kurus tak terurus mulai bersini dan tambah tinggi, dengan kulit yang bersih dan wajah yang lumayan tampan, Dwi  menjadi bahan incaran gadis-gadis Mabuun. Tak terkecuali anak-anak sekolah SMA, karena memang bila Dwi masih sekolah, kelas 3 SMK. Apalagi sekarang Dwi sudah mempunyai penghasilan sendiri dari bengkel radiatornya, senang mentraktir teman-temannya pula, sehingga banyak gadis yang mendekati. Kalau dibiarkan bisa-bisa Dwi salah arah pergaulan dengan anak-anak muda di situ.
Malam harinya Sofian mengajak berembuk dengan Imoeng soal pengunduran dirinya dari KSP Damai milik Haji Damang. Sofian ingin segera memulai usaha barunya, namun kalau dia sudah memulai usahanya berati akan sering meninggalkan Tabalong karena dia ingin mendirikan usaha KSP di Kaltim, padahal pembangunan rumah baru dimulai, apa nanti gak kacau. Siapa yang akan mengawasi pembangunan rumahnya.
“ Gimana, Buk ya! sebaiknya segera resign dari KSP Damai, apa kita undur ya? sampai rumah setengah jadi dan kita bisa menempatinya..?”
“ Terserah Bapak ae, tapi memulai lebih cepat lebih baik, karena  omongan Bu Damang kemarin sungguh tidak mengenakkan, bukannya berterima kasih usaha suaminya dikerjakan sampai maju berkembang seperti ini, eeh malah nuduh yang bukan-bukan..”.
“ Makanya itu kita harus bisa membuktikan bahwa kita bisa usaha sendiri tanpa menggantungkan bantuan dari suaminya…” Balas Sofian.
“ Kalau begitu, minggu depan kalau Haji Damang datang sampaikan saja surat pengunduran diri dan alasannya “
“ Iya Buk, sambil menunggu Haji Damang datang, saya akan memastikan bank calon investor kita dan saya akan menghubungi kawan-kawan yang di Samarinda untuk mencarikan tempat untuk  kantor sementara .”
“ Oh..ya, kemarin ibu bilang kalau Adi akan lulusan SMA bulan depan, Bapak bisa mengajak Adi, adik pian untuk membantu di Samarinda dulu, sementara Eko juga biar mengajukan pengunduran diri biar bergabung dengan Bapak saja.”
“ Oh..iya., ada Adi, dia adikku paling pintar sekolahnya, nanti tak bilang bapak ibu biar Adi setelah lulusan segera datang ke sini saja…”
“ Mumpung bapak ibu masih di sini , Bulan depan Adi sudah selesai ujian jadi tinggal nunggu pengumunan kelulusan dan ijazah saja, tak apa-apa kesini aja dulu, nanti kalau pas pengumunan mau balik lagi ke Jawa lagi sebentar. Adi, mudah diajari dan bisa dipercaya, karena selama ini dia anak baik-baik juga…”
“ Baiklah Buk, bila memang kita sudah siap begini aku akan segera menyelesaikan kewajibanku di KSP Damai dulu, akan aku siapan laporan-laporan dan serah terima kepada bos, nanti dikira kita pakai uangnya malah berabai,”  balas Sofian.
“ Tetapi sebaiknya Bapak jangan membocorkannya dulu sama teman-teman yang lain di KSP Damai karena nanti ada yang gak suka dan berbuat usil,”
“ Iya..Buk, setelah pamitan sama Haji Damang saja saya baru pamitan sama teman-teman di kantor .”
“ Lusa saya akan ke Samarinda dulu, mumpung masih ada bapak yang bisa membantu mengawasi tukang-tukang, dan Lek Ni dan Lek No juga bisa kita percaya kok, jadi saya tinggah beberapa hari ke Kaltim sepertinya tidak apa-apa,”
“ Oh ya , Pak. Kalau Bapak mengundurkan diri sekarang, bapak juga harus segera  mengembalikan mobil inventaris kantor looh, padahal kita butuh mobil untuk sarana transportasi kemana-mana “
“ Gak apa-apa Buk kan ada sepeda motor, saya biasa naik sepeda motor jarak jauh juga karena lebih cepat dan lebih hemat “
“ Baiklah Pak, apa besok ke Samarinda mau naik motor juga..?”
“ Tidaklah Buk. Saya mau naik bis saja, toh di sana ada teman yang bisa saya pinjam motornya buang kesana-kemari mengurus perijinan KSP kita di sana,”
“ Iya ..Pak, lebih aman naik bis saja, terlalu jauh Tabalong – Samarinda “
Akhirnya Sofian dan istrinya memutuskan untuk segera mengundurkan diri dari KSP Damai, yang membuatnya bisa sampai ke bumi Borneo.
Sambil mengawasi dan memasak untuk para tukang, Imoeng masih tetap menjalankan bisnisnya menerima pesanan berbagai barang kebutuhan rumah tangga dan toko ‘serba ada’ di rumah juga masih jalan sebagaimana adanya.
Ayuk sudah kelas 4 SD dan  Ais juga bulan depan sudah masuk kelas 1 SD. Mereka sekolah di salah satu SD Islam  yang dikelola oleh Yayasan di bawah naungan salah satu perusahaan tambang yang ada di Tabalong. Kebanyakan anak-anak yang sekolah di sini juga anak-anak dari para karyawan tambang, yang berasal dari berbagai daerah. Karena sekolah ini dirasa lebih maju dibandingkan SD-SD lainnya.
Ayuk dan Ais lebih cepat menyesuaikan diri dengan teman-temannya, bahkan kedua anak itu sudah pandai bahasa Banjar untuk berinteraksi dengan teman- temannya. Bahkan Ayuk  terlalu sering menggunakan bahasa Banjar  jadi sudah agak tak lancar menggunakan bahasa Jawa

b e r s a m b u n g .

Baca selengkapnya

18 Okt 2018

Mendulang Asa ke Bumi Borneo 7





Pagi-pagi Imoeng dibantu oleh mertua dan beberapa tetangga sudah masak membuat Nasi Gudangan, lengkap dengan lauk pauknya, tahu, tempe goreng, ikan teri asin kecil-kecil, telur rebus, perkedel kentang, perkedel jagung, dan tak lupa 3 buah ayam ingkung, sudah siap untuk di hidangkan. Bancaan duduk pandemen segera dimulai.
Tikar digelar di tengah-tengah tanah yang hendak dibangun rumah. Nasi gudangan, ayam ingkung dan semua lauk-pauk, pisang, kembang boreh sudah tertata di dalam tampah, yaitu wadah lebar bulat dari bambu.
Tetangga kanan kiri yang diundang, para tukang, dan seluruh anggota keluarga sudah berkumpul duduk melingkari hidangan.  Dan beberapa piring bubur merah putih.
Jam 7 pagi Pak Ustad datang, untuk membacakan doa dan sedikit ceramah buat tuan rumah dan para tukang sebelum memulai bekerja .Soian sengaja memanggil seorang ustadz yang tidak hanya untuk berdoa, namun juga memberikan sedikit wejangan untuk yang hadir pagi itu.
Setelah pembacaan doa dan sedikit ceramah oleh Untadz, dilanjutkan dengan acara makan bersama, semua dalam kebersamaan. Baik mereka yang asli dari Tabalong maupun yang pedatang dari Jawa. Baik yang punya kerja maupun para pekerja. Sofian juga mengundang teman-temannya di KSP ‘Damai’ Tabalong untuk ikut bancaan dan sarapan di tempatnya.
Penggalian tanah pertama untuk fondasi rumah dilakukan sendiri oleh Sofian, kemudian dilanjutkan oleh para tukang dan tetangga kiri-kanan yang membantu, sehingga dalam sehari semua lubang untuk menanam fondasi rumah sudah tergali.
Sementara di dapur Imoeng dengan dibantu oleh saudara dan tetangga memasak untuk makan siang dan membuat wadai/ kue untuk teman minum kopi sore hari setelah pekerjaan untuk hari itu selesai.
“ Bikin wadai apa Buk..ae..hari ini “ Tanya tetangga yang ikut membantu di dapur.
“ Banyak pisang itu Cil, bikin Sanggar  saja, ada petis juga itu…” Jawab Imoeng. Sanggar adalah pisang goreng tetapi  pisangnya dipilih yang agak mentah tapi sudah tua, diolesin tepung terus digoreng. Cara makannya dengan petis yang sudah diberi cabai sehingga agak pedas-pedas, gurih dan manis rasanya.
“ Nyaman ae…”
“ Dikupas semua itu Cil…biar banyak yang makan…”
“ Ulun mau jua Cil…kadak cukup kalau sebuting..ha ha ha..”
“ Makanya goreng saja sabarataan…”
“ Siap Boss….” Gurau Mamak Fais yang sudah memegang pisau untuk mengupas pisang dengan cekatan, dibantu oleh Mamak –mamak yang lainnya.
Setelah asar tiba Sanggar satu tampah sudah siap dihidangkan beserta bumbu petisnya, yang  sungguh nikmat aromanya.
Karena kesibukan di rumah Sofian sampai lupa janji mau menemui bosnya di kantor KSP. Maka dia segera menelpon Bos Damang untuk meminta maaf karena sudah terlanjur sore.
“ Assalamu’alaikum..Boss”
“ Wa’alaikum salam Mas Sofian, maaf saya sudah di bandara Syamsudin Noor mau pulang Kudus dulu mengantar nyonya dulu Mas, besok-besok saja ya kita bicara kalau ketemu .”
“ Oke…Boss !, saya tadi mau minta maaf tidak bisa ketemu boss hari ini, karena haur jadi lupa, sudah sore begini baru ingat kalau sudah janji dengan Boss…”
“ Tidak apa-apa Mas…saya tahu pasti hari ini Mas Sofian sibuk sekali, karena hari pertama mendirikan rumah, pasti banyak yang harus dikerjakan.”
“ Iya..Boss, tapi syukurlah hari ini lancar dan cuaca juga cerah jadi tak ada halangan apapun juga…”
“ Iya..Mas, sudah diurusi dulu pekerjaannya semoga rumahnya cepet selesai, mungkin saya baru minggu depan bisa ke Banjar lagi.”
“ Iya ..Boss, semoga urusan dengan ibu bisa selesai dengan baik-baik….”
“ Okey ..terima kasih Mas, maaf kalau kemarin ibu merepotkan ya…”
“ Tidak apa-apa Boss, selamat  saja, Wa’alaikumsalam” Kata Sofian  mengakhir pembicaraan , sambil meletakkan Hp di meja kerjanya.
Sore itu para tukang dan keluarga yang datang dari Jawa, dan tetangga sedang berkumpul di beranda rumah sambil menikmati pisang sanggar bersama petis pedasnya, ketika tiba-tiba  Dwi anak Imoeng yang ke dua berlarian tergesa-gesa masuk rumah dengan diikuti oleh seorang gadis Banjar yang cukup cantik.
“ Mas Dwi !  ulun kada’ suka pian berjalanan sama Si Aluh, ulun kada bisa terima Mas..”
Dwi yang diikuti dari belakang diam saja, malah ikut duduk di beranda dan mencomot pisang sanggar yang masih terhidang di piring bersama dengan petis pedasnya. Dwi hanya tersenyum saja sambil menikmati pisang sanggar.
Sang gadis yang merasa tidak dianggap, tanpa malu-malu masih saja nerocos sambil berdiri bersandar pada tiang rumah.
“ Mas! kenapa diam saja, ulun masih pacar pian kan ? jawab Mas…”
Imoeng yang merasa risih anak laki-lakinya dikejar-kejar gadis, apalagi Dwi tampak cuek begitu langsung menegur anaknya.
“ Eeeii, ada apa kalian, Dwi ! kenapa kamu cuek begitu diajak ngomong Aluh..?”
“ Tanya Aluh Buk, kenapa dia ngejar-ngejar gitu, aku gak apa-apa kok “ dalih Dwi pada ibunya.
“ Iya..tuh Buk..ae, anak pian, semalam bilangnya cinta sama ulun, eeh tadi aku melihatnya berduaan sama Riska makan bakso , ulun kadak terima, Buk..ae..”
“ Sudah-sudah…sini duduk dulu, makan sanggar tuuh..”
“ Kadak mau Buk…sebelum Mas Dwi memberi jawaban “
“ Udah ulun bilang..kadadak..apa-apa Riska, sidin hanya minta traktir hanja…”
“ Kadak percaya Mas, napa pian megang-megang tangan sidin jua..”
“ Kadak apa-apa hanya  pegang hanja..”
Imoeng meresa gak enak adegan itu dilihat banyak orang yang sedang duduk santai di beranda lalu menengahi.
“ Udah..sekarang kadadak pacar-pacaran semua…Dwi juga masih baru memulai buka bengkelnya belum apa-apa sudah main pacar-pacar…sudah-sudah, sini makan sanggar saja “
“ Ulun pulang aja Buk, awas pian Mas Dwi “
“ Kamu juga masih sekolah kadak boleh pacar-pacaran dulu, lebih baik belajar saja Aluh “
Tanpa menjawab apa-apa Aluh langsung berlalu pulang, tanpa permisi, tanpa mengucap salam.
“ Dwi…kamu nggak boleh mainin anak orang gitu…lagian belum waktunya pacar-pacaran, lebih baik urusin dulu tuuh bengkelmu..!”
“ Siapa jua yang main pacar-pacaran, sidin sendiri yang datangin ke bengkel…masih berseragam pula..”
“ Iya, tapi awas kamu kalau mainin anak gadis orang, bisa kena parang kamu lawan abahnya.”
“ Iya ya Buk! aku cuekin aja, kalau mereka pada singgah di bengkel..”
“ Bilang saja sedang sibuk, gak bisa diganggu “
“ Iya…Buk..”
“ Sudah mandi sana, lihat tuh..bajumu kotor penuh  oli…gitu..”
“ Iya, Buk..” Balas Dwi sambil berjalan ke belakang sambil menyambar pisang  sanggar satu lagi.


b e r s a m b u n g....
Baca selengkapnya