Mendulang Asa ke Bumi Borneo 6


Tanah ukuran 30 x 20 meter akhirnya dibeli, lumayan luas juga kalau untuk mendirikan sebuah  rumah . Rumah akan segera dibangun sedikit demi sedikit setelah Sofian pulang dari menjalankan ibadah haji. Letak tanah yang tidak begitu jauh dengan jalan utama di Mabuun dekat dengan Obor Tanjung , atau disebut gengan obor Selamat datang di kota Tabalong. Obor ini menyala karena di bawahnya tersambung dengan saluran gas bumi yang dikelola oleh Pertamina dari sumur gas Dahur.
Tiba saatnya Sofian untuk berangkat ke tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji bersama 2 orang temannya dari KSP ‘Damai’, Sofian sangat bersyukur akhirnya dapat melaksanakan ibadah haji walaupun itu dari hadiah bosnya, Haji Damang. Suatu saat nanti dia berjanji akan membawa istrinya untuk berangkat haji bersama. Dengan biaya sendiri.
Telur asin ‘Tiga Roda’ buatan Imoeng bukan saja terkenal di wilayah Tabalong saja, namun juga terkenal sampai ke wilayah Amuntai, Paringin dan kota-kota lain di sekitarnya. Terur asin menjadi lauk yang paling praktis dan murah disaat tergesa-gesa. Imoeng merekrut 5 orang tetangganya untuk membantu mencuci telur dan membalut dengan abu gosok dan beberapa adonan lain yang diramu Imoeng sendiri, agar telur asin buatannya bisa masir, kuning tua, dan lezat rasanya tidak terlalu asin dan tidak juga hambar. Apalagi sejak Sofian pergi haji dengan membawa telur asin untuk dibagi-bagikan pada teman-temannya sesama jemaa’ah haji,  pesanan telur asin semakin banyak. Dari hasil promosi mereka yang sudah merasakan telur asin ‘ Tiga Roda’.
Selain usaha telur asin yang berkembang pesat, usaha lain seperti  mendirikan toko  ‘Serba Ada’ dan kridit aneka perabot rumah tangga dan elektronik  juga berkembang pesat.
Hampir dua bulan sekali Imoeng ke Kudus untuk menenggok keluarga dan juga untuk  membelanjakan berbagai pesanan konsumennya. Dari aneka pakaian, tas, sepatu dan perhiasan , yang lebih mantab  bila dibelikan di Jawa.
“ Ulun pesan jam tangan , ya Cil…jangan lupa belikan yang paling bagus lah, yang cocok buat ulun ya…berapa harganya tak masalah asal bisa dibayar sepuluh kali Cil  ae..” pesan Mamak Aziz  yang rumahnya agak jauh dari Imoeng, namun Imoeng tahu suami Mamak Aziz itu bekerja di tambang batubara, dan suka membelikan barang-barang bagus untuk istrinya, yang masih muda dan cantik itu.
“ Nanti ulun kirim gambarnya di hp pian ya, pian pilih sendiri “ balas Imoeng lewat SMS tatkala dia sedang di Jawa dan Mamak Aziz memesannya lewat SMS juga, setelah  tahu Imoeng ada Jawa.
Bukan hanya Mamak Aziz, ada Mamak Dika, Mamak Dea juga memesan tas, sepatu, baju dan lain sebagainya. Sehingga setiap pulang ke Kudus ongkos pesawat pp sudah bisa ditutup dengan untung yang didapat dari pesanan-pesanan itu.
Sepulang dari menunaikan ibadah haji, sedikit demi sedikit material untuk membangun rumah  sudah dibeli. Walau tidak bisa dibeli sekaligus namun, dicicil beli batu dulu, minggu depannya beli  batubata, lalu pasir, semen ,  dan lain lain, sedikit demi sedikit karena uang yang ada juga digunakan untuk membelikan pesanan-pesanan konsumennya yang akan membayar secara kredit nantinya.
Tak apalah yang penting saatnya nanti rumah itu akan menjadi rumah impiannya setelah rencana membangun rumah di Kudus pernah gagal,  yang ada hanya tertimpa banyak hutang. Hal itu menjadi pelajaran bagi Imoeng dan Sofian, agar tidak mengambil hutang untuk membangun rumah itu nantinya. Lebih baik selesai agak lambat tetapi memakai uang sendiri, daripada harus berhutang kesana-kemari seperti dahulu.
“ Sepertinya sudah lumayan banyak terkumpul material yang ada Bu…baiknya kita mulai membangun , Bapak mau minta tolong teman yang pandai menggambar rancangan bangunan rumah kita, “ kata Sofian pada istrinya.
“ Kalau bisa sebelum kontrakan rumah  ini habis ,kita sudah punya satu-dua ruangan dulu yang bisa kita tempati sambil mengawasi para pekerja nantinya, “ sahut Imoeng pada suaminya.
“ Besok aku akan menghubungi ahli bangunan kenalan bapak, yang biasa menangani pembuatan rumah di kota ini.” Balas Sofian.
Esok paginya mandor bangunan Wardi datang membawa rancangan bentuk bangunan dengan detailnya. Ada beberapa yang harus diubah sesuai dengan keinginan Imoeng dan suaminya. Agar rumah  yang mereka bangun nantinya bisa benar-benar  sesuai keinginan  dan menjadi surga bagi Sofian sekeluarga.
“ Di sebelah garasi ada bangunan untuk toko lah Pak…saya ingin agar antara bangunan toko dan dapur ada pintu penghubungnya, agar saya bisa melakukan pekerjaan di dapur sambil berjualan “
“ Inggih..Bu..ae…bisa kita sesuaikan itu nantinya, garasi kita tarus di sebelah kanan bangunan induk, dan toko ada di sebelah kiri banguan induk, agar jualan ibu tidak terhalang dengan kendaraan-kendaraan di garasi, “ jelas Mandor Wardi.
“ Sepertinya material sudah cukup banyak, kita bisa memulai bikin pondasi secepatnya, kalau Pak Sofian ingin mencari hari baik dulu silahkan, biasanya begitu kan orang Jawa, walau sudah tidak tinggal di tanah Jawa tetep saja hari baik menurut hitungan itu penting..” kata Mandor Wardi yang juga keterunan dari Jawa, karena orangtuanya dulu berasal dari Jawa, dan bertransmigrasi ke Kalimantan, sejak dia masih kecil.
Sambil menunggu hari baik untuk mendirikan rumah, Wardi mengajukan beberapa nama tukang yang akan mengerjakan bangunan itu nantinya.
“ Tapi saya mau bawa dua tukang dari Jawa ya..Pak Wardi..dia masih famili kami, dia juga ahli bangunan juga, awal bulan depan mereka sudah nyampe sini, silahkan nanti Pak Wardi berdiskusi dengan mereka , “ jelas Sofian. Karena memang Sofian berencana mengundang dua ahli bangunan dari Jawa yang mungkin lebih faham dan mengerti, jadi tidak asal-asalan saja bangunan rumahnya itu nanti.
Setelah berkonsultasi dengan orangtua di Jawa, dan pandai membuat hitung-hitungan hari baik, yang mempunyai kandungan dan harapan agar rumah yang dibangun akan membawa anggota keluarga yang menempati  akan menjadi baik, berkah, dan sehat . Tidak bertepatan dengan hari weton meninggalnya leluhur, maka ditentukanlah hari, dan tanggal dimulainya pembuatan rumah. Dimulai dengan ‘nduduk pandemen’ atau menggali tanah untuk ditanamkannya fondasi pertama kali. Walaupun sudah tidak tinggal di tanah Jawa, sebagian orang Jawa memang masih setia pada warisan budaya leluhur, dengan harapan tetap selamat di mana pun berada.
“ Bu, besok siapkan ubo rampe buat bancaan nduduk pandemen …ya !”
“ Iya Pak, bubur merah putih, dan bancaan sego kuluban sudah aku siapkan besok  pagi, sekalian untuk sarapan para tukang, dan tetangga kiri-kanan “,  jawab Imoeng pada suaminya.
“ Jangan lupa pak Ustad yang akan mendoakan diundang juga ya Buk…”
“ Sudah siap semua pak…!”
“ Semoga besok hari cerah sehingga semua bisa berjalan lancar, sampai rumah kita jadi nanti”
“ Kita tidak perlu nunggu rumah jadi semua, kalau sudah ada dua ruangan dan dapur sementara kita bisa segera menempati rumah baru nanti “
  Iya..buk, Haji Damang kemarin juga memberi bantuan buat ongkos mendirikan rumah kita “
“ Semoga setelah kita menempati rumah baru kita nanti, kita sudah tidak kerja ikut orang lagi Buk…”
“ Apa bapak punya rencana keluar kah Pak..?”
“ Terus bapak mau bikin usaha apa…?” , lanjut Imoeng.
“ Saya pingin bikin usaha serupa dengan boss Buk..!”
“ Apa nanti gak malah menjadi persaingan dengan  boss”
“ Tidak Buk, saya mau mendirikan di Kaltim saja..”
“ Saya sudah tahu jalur-jalurnya untuk mendirikan KSP, karena selama ini Boss memasrahkan semua urusan perijinan dan lain sebagainya kepada saya, dan kebetulan ada sebuah bank yang menawarkan diri  untuk menjadi investor “
“ Tapi tunggu dululah Pak…sampai  rumah kita bisa kita tempati lebih dahulu “
“ Benar Buk, kita harus konsentrasi  satu-satu “
“ Apalagi sekarang ada bapak, ibu, Lek No dan Lek Ni yang akan membantu kita mendirikan rumah disini “
Orangtua Sofian memang datang dari Jawa, bersama Lek No dan Lek Ni, kerabatnya yang juga ahli bangunan. Mereka berempat datang naik kapal kemarin, dan Sofian menjemputnya di Banjar. Bapak ibu menjadi tempat berkonsultasi tentang segala persyaratan ubo rampe  mendirikan rumah . Hati mejadi tenang juga karena ditunggui orang tua, jadi ada yang diajak berdiskusi dan mengarahkan soal rumah yang hendak dibangun.
Segala perijinan sudah diurus, material sudah siap, tukang-tukang siap, rancangan bangunan juga sudah siap. Tanggal dan hari baik sudah didapat.
 Tiba-tiba masalah datang.istri Haji Damang datang ke Kalimantan, karena curiga dengan kelakuan suaminya akhir-akhir ini. Yang lebih sering ke Kalimantan daripada berada di Kudus, dia curiga jangan-jangan di Kalimantan ada perempuan lain yang selama ini menjadi simpanan Haji Damang.
istri Haji  Damang langsung mendatangi kantor KSP yang ada di Tanjung Tabalong, dia yakin kalau Sofian pasti tahu perselingkuhan yang telah dilakukan bosnya tetapi diam saja.
“ Mana Sofian…jauh-jauh datang  kemari, aku ingin dia jujur apa yang telah diketahui tentang bossnya, jangan hanya karena banyak diberi hadiah Sofian diam saja, atas kelakuan bossnya…”
“ Mana mungkin dia tidak tahu, dia kan orang kepercayaan bosnya  “ lanjut Istri bos Damang yang  datang-datang langsung nerocos setelah tiba di Kantor KSP di Tabalong.
“ Tapi pak Sofian lagi tidak ke kantor Bu!,  karena besok beliau akan memulai membangun rumah jadi hari ini dan besok beliau tidak ke kantor, “  jawab salah seorang karyawan yang ada di kantor.
“ Tolong antarkan saya ke rumahnya sekarang, ada yang penting yang mau saya omongkan pada Pak Sofian “
“ Baik Bu, mari saya antarkan, tidak begitu jauh dari sini kok…”
“ Terima kasih! mari kita berangkat sekarang …”
“ Baik Ibu, monggo kendaraan sudah siap “
“ Bila sudah sampai rumahnya kamu tinggal saja nanti ya, biar aku bicara sendiri sama Pak Sofian”
“ Baiklah Bu, monggo…”
Istri Haji  Damang dengan diantar salah seorang karyawan akhirnya sampai ke rumah Sofian yang saat itu sedang banyak orang , persiapan mendirikan rumah besok pagi.
Sofian kaget sekali melihat istri bosnya tiba-tiba sampai di rumahnya. Pasti ada sesuatu yang sangat penting ini, apa istri boss sudah tahu soal wanita simpanan Haji Damang ya. Begitu pikir Sofian. Sofian tidak enak bila nanti tiba-tiba istri bos marah-marah kepadanya di depan orang banyak yang sedang ada di rumahnya.

“ Assalamu”alaikum Mas Sofian”
“ Wa’alaikum salam…Bu, tumben sampai sini..”
“ Iya…boleh saya langsung bicara, waah dengar-dengar mau bangun rumah ya..”
“ Iya..Bu, rencana besok pagi mulai ‘duduk pandemen’ “
“ Baguslah, banyak uangnya ya sekarang, saya dengar juga baru pulang dari Haji ya…?”
“ Iya Bu,  hadiah dari bapak, karena omset KSP wilayah Kalsel meroket terus…”
“ Banyak hadiah dong dari bapak, apalagi kalau  bisa menutup-nutupi kejelekan bos “
“ Maksud..Ibu…”
“ Pasti Mas Sofian tahu kan, kalau bos sekarang lebih banyak di Kalimantan karena apa, apa hanya karena ngurus KSP saja, yang jelas-jelas sudah banyak diurusi Mas Sofian..”
“ Maaf…saya kurang tahu maksud Ibu, kenapa Ibu datang jauh-jauh hanya untuk memarahi saya akan sesuatu yang tidak jelas, jelaskan sekalian dong..Bu..!”
“ Kamu…pasti tahu kan bapak di Kalimantan punya wanita simpan yang sudah setahun lebih menjalin hubungan dengan bapak, kenapa kamu membiarkan saja..! “
“ Maaf ..Bu..saya bekerja pada Bos Damang hanya untuk mengurus KSP dan segala keperluan yang berhubungan dengan KSP bukan untuk mengurus keperluan pribadi boss..”
“ Kamu membiarkan bosmu demikian karena kamu banyak dikasih hadiah kan Mas Sofian, kenapa kamu tidak mengingatkan bosmu, atau melapor pada  saya kalau bapak telah terjadi apa-apa.”
“ Kenapa ibu selalu mengait-ngaitkan pemberian bapak dengan apa yang telah terjadi dengan bapak…tidak Bu ! Bapak memberi saya hadiah karena bapak sebelumnya memberikan target kepada saya, dan memjanjikan sesuatu kalau saya mencapai target…sama sekali tidak ada hubungan pribadi dengan bapak…” , sahut Sofian dengan nada tinggi karena jengkel dengan istri bossnya itu.
“ Tapi kamu secara pribadi sudah mengenal bapak dan keluarga kami dengan baik di Kudus, kamu sudah kami anggap seperti keluarga sendiri yang dipercaya mengembangkan usaha di sini..jadi harusnya mau menegur bapak bila dia salah..”
“ Kamu tahu siapa wanita itu kan...?”
“ Saya tidak tahu Bu…bapak tidak pernah menganjak saya, dan melibatkan saya  dengan urusan pribadi, apalagi urusan soal wanita “
“ Mosok kamu tidak tahu, kemana saja bossmu selama di Kalimantan, yang bener saja Mas Sofian…”
“ Benar Bu, saya tidak tahu sebaiknya ibu menanyakan langsung ke Bapak, tidak ke saya…”
“ Bapak hpnya dimatikan dari kemarin, sudah saya hubungi tidak bisa…”

Sementara itu  Haji Damang yang sudah 2 hari di rumah wanita simpanannya di Kandangan ingin menghubungi Sofian dan mengatakan kalau dia ada di Kaliamantan.
“ Hallo…Mas Sofian, saya ada di sini sekarang, nanti ketemu di kantor sebentar  ya…”
“ Alhamdulillah, kebetulan sekali bapak telpon saya, ini ada ibu disini di rumah saya Pak..”
“ Apa! ibu! maksudnya istri saya yang di Kudus ?”
“ Mana…telponnya saya mau bicara sama bapak langsung..!”  pinta bu Damang, langsung mengambil telpon yang sedang dipegang oleh Sofian.
“ Pak…kamu dimana, kenapa hp kamu matikan..?”
“ Iya…Bu, tunggu satu setengah jam, saya akan datang kesitu, kenapa ibu bisa sampai ke rumah Sofian.”
“ Cepat datang kemari…Pak..!”
Hp segera dimatikan, istri boss Damang masih saja ngoceh dan bersunggut-sunggut. Imoeng yang dari tadi memperhatikan dari jauh, hanya bisa sedikit menenangkan Bu Damang, dengan segelas teh hangat dan kue  cincin  khas Tabalong.
Monggo Bu…ngunjuk  rumiyin…”  Sapa Imoeng sambil menyuguhkan teh hangat dan kue  cincin di hadapan  Bu Damang.
“ Saya sudah makan minum tadi, gak usah basa basi Mbak, apa sampeyan tahu juga kah, soal Pak Damang yang katanya punya wanita simpanan disini..” balas bu Damang dengan tidak ramah.
“ Tidak tahu sama sekali Bu! saya tidak pernah ikut campur urusan kantor bapaknya anak-anak, karena saya punya usaha sendiri yang harus saya urusi di rumah..!”
“ Sama-sama di Kalimantan mosok sampeyan gak tahu..”
“ Benar Bu, .saya tidak tahu, apalagi sesuatu yang bukan urusan saya buat saya ngurus-ngurus “
“ Kalau Mas Sofian dapet-dapet hadiah dari Pak Damang …tahu kan ?”
“ Iya., bapaknya juga ngomong kalau itu didapat karena prestasi, mencapai target yang ditentukan Haji Damang , apa salah Bu…?”
“ Karena prestasi apa karena Mas Sofian pandai menyimpan rahasia bosnya yang mempunyai wanita lain di sini “ balas Bu Damang yang agak memerahkan telinga, namun Imoeng masih selalu bersabar. Bukan karena Bu Damang istri bos suaminya, namun Imoeng memahami hati perempuan yang luka, namun sayang Bu Damang kurang bijaksana menyampaikan luka akibat ulah suaminya kepada orang lain, yang tidak ada sangkut-pautnya.
Sementara  Sofian agak menjauh mengurusi tukang-tukang yang besok mulai bekerja membangun rumahnya. Sofian malas menemui istri bossnya yang suka main tuduh saja. Tidak menghargai jerih payahnya sehingga usaha KSP suaminya bisa sebesar ini, menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit tiap bulannya. Hadiah-hadiah yang diberikan pada Sofian sebenarnya masih belum apa-apa dibanding kerja kerasnya, sehingga uang ratusan juta bisa mengalir sebagai keuntungan bersih KSP  ‘Damai’.
Satu jam setengah kemudian Haji Damang sudah sampai di rumah Sofian, dan langsung menyapa Sofian bukan istrinya.
“ Sudah siap semua Mas, besok pagi ya…mulai nduduk pandemen-nya “
“ Iya… Bos…itu sudah ditunggu ibu..”
Bu Damang hanya diam saja melihat suaminya, sampai suaminya masuk dan duduk di sebelahnya.
“ Sudah kita bicarakan di rumah yuk Bu…Mas Sofian karo Mbak Imoeng kuwi ora reti opo-opo , ora enak masalah keluarga kok digowo-gowo mrene..” jelas Pak Sofian pada istrinya.
“ Bos..sebenarnya mau ada yang saya omongin, tapi ya sudah…besok saja kita ketemu di kantor , hari ini dan besok saya tidak bisa ke kantor Bos…, agak siang kalau sudah acara bancaan nanti nanti saya ke kantor sebentar, kepingin ngomong sama Bos…”.
Bagaimanapun Sofian dan Imoeng tersinggung atas kata-kata yang diucapkan Bu Damang soal hadiah-hadiah  termasuk menunaikan ibadah haji yang diberikan oleh Haji  Damang. Maka rencana Sofian untuk segera lepas dari Bos Damang dan mendirikan KSP sendiri di Kaltim ingin segera terlaksana.
Bagaimanakah kelanjutannya, apa usaha yang dilakukan Sofian untuk mewujudkan impiannya mendirikan KSP sendiri…?
 “ Ya..sudah besok saya tunggu ya Mas Sofian, saya permisi dulu, yuuk Buk…”
Bu Damang masih diam saja menyimpan api cemburu pada suaminya, namun ia tak ingin menumpahkan air mata di hadapan suaminya.


b e r s a m b u n g.....
.

Komentar