12 Oct 2018

Mendulang Asa ke Bumi Borneo 3



Enam bulan kemudian, sejak kedatangannya ke Kalimantan Imoeng, pulang ke Kudus untuk mengambil kedua anaknya yang masih tertinggal.  Namun sayang tidak semua anaknya mau diajak, hanya Ais, anaknya paling kecil yang mau diajak ke Kalimantan, sedang Dwi tidak mau ikut serta.
Kepulangannya ke Jawa juga digunakan untuk melunasi sebagian hutang-hutangnya.
“ Kurang berapa lagi Lek…hutang saya “ Tanya Imoeng pada salah seorang rentenir yang dihutanginya yang juga tetangganya waktu masih tinggal di Kudus.
“ Masih kurang banyak Mbak!, karena beberapa bulan tidak dibayar jadi bunganya berlipat “
“ Kan setiap bulan saya sudah mengirim uang untuk menyicil kenapa masih segitu..?”
“ Itu baru bayar bunganya, belum modalnya dan juga bunga beberapa bulan sebelumnya tidak pernah bayar kan…!”
“ Ah…yang bener! aku gak mau kalau seperti itu! Tidak akan selesai kalau begitu, aku hanya mau membayar jumlah hutang waktu aku pinjang dan bunga yang wajar, aku tak mau bayar bunga berbunganya…” Protes Imoeng pada renternir itu.
“ Tidak bisa,Mbak. Kalau hutang sama saya , ya harus ikut aturan saya.”
“Tidak bisa, besok saya balik ke Kalimantan, saya hanya akan kirim uang jumlah yang saya hutang saja..kalau tidak mau lebih baik tidak usah saya kirim uang lagi. “ 
“ Ya …sudah pokoknya kamu harus tetep kirim uang lunasi hutang-hutangmu.” Saling ngotot antara Imoeng dan renternir akhirnya berakhir, karena Imoeng tak banyak waktu meladeni renternir itu.
Imoeng balik lagi ke Kalimantan dengan membawa catatan masih ada 2 orang lagi yang harus dia lunasi hutangnya. Dengan rentenir itu sudah tidak begitu banyak, menurut hitungannya.
Perjalanan sendiri naik kapal dengan Ais, yang masih berusia 6 tahun membuat Imoeng  harus kuat karena di dalam kapal Ais badannya sempat deman tinggi, mungkin tidak kuat dengan angin laut, ini juga menjadi perjalanan laut pertama kali buat Ais. Imoeng harus kuat diperjalanan agar bisa menenangkan anaknya yang agak rewel.
Sampai di pelabuhan Trisakti Banjarmasin, suaminya sudah menjemput bersama Ayuk yang terpaksa mbolos sekolah untuk menjemput ibu dan adiknya.
Ayuk sudah sangat kangen dengan adiknya, Ais yang sudah lebih dari 6 bulan tidak ketemu, keadaanlah yang memaksa mereka bepisah. Tapi semua sudah berakhir mereka akhirnya sudah bisa berkumpul kembali.
“ Mbak Ayuuk…!” Teriak Ais dari atas kapal ketika kapal hendak merapat, dan  Ais melihat Ayuk serta ayahnya sudah di bawah.
“ Ais…!” Teriak Ayuk membalas teriakan adiknya.
Setelah Imoeng dan Ais turun dari kapal. Ayuk mencium dan memeluk adiknya agak lama  dengan penuh kerinduan, dan keharuan.
“ Mbak Ayuk kangen banget sama Ais, syukurlah kita sudah kumpul kembali “
“ Ais juga kangen Mbak Ayuk dan juga Bapak.”
“ Kenapa kemarin Ais ditinggal sendiri di rumah nenek…?”
“ Sudahlah yang penting kita sudah kumpul sekarang “ potong Sofian agar anak-anaknya tidak larut dalam keharuan.
“ Ais…kita makan dulu ya, sebelum pulang ke rumah kita, karena rumah kita masih jauh “
“ Ais mau maem sama Mbak Ayuk..”
“ Iya…kita makan semua sebelum melanjutkan perjalanan kembali “
Selesai makan mereka singgah ke kantor KSP yang ada di Banjarmasin dulu untuk sekedar mandi dan melepas lelah sejenak. Untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Tanjung Tabalong pada malam hari.
Pagi hari mereka baru sampai ke Tabalong karena perjalanan malam hari agak tersendat dengan banyaknya truck pengangkut batubara liar yang beroprasi menggunakan jalan raya umum dari mulai Barabai sampai ke Banjarmasin.
Ais senang sekali karena rumah yang mereka tempati lain dari rumahnya di Jawa.
“ Mbak Ayuk, rumah kita tinggi ya..”
“ Ais harus hati-hati jangan main naik turun tangga terus ya, nanti terpelosok “
“ Buk ..! besok Ais daftarkan di sekolah Ayuk ya, biar kita bisa sekolah sama-sama “
“ Belum bisa Nak, Ais kan harus melanjutkan TK dulu, sampai ada pendaftaran masuk SD nanti. “
“ Gak mau, Ais mau sekolah bareng Mbak Ayuk saja..”
“ Iya, Ais sekolah TK-nya juga dekat kok sama sekolah Mbak Ayuk “
“ Besok Ibu antar bareng ya..”
Kebahagian itu sudah dapat mereka rasakan kembali, paling tidak sedikit beban yang dirasakan Imoeng sudah agak berkurang, karena lama berpisah dengan buah hatinya yang masih kecil membuatnya sering tidak bisa tidur dan resah, memikirkan apa yang sedang dialami anaknya bila sedang jauh darinya, walaupun ia percaya kalau mertuanya telah menjaga Ais dengan baik.
Tetapi bagaimanapun juga Imoeng masih memikirkan Dwi, anak nomer 2 dari perkawinannya yang bertama dulu. Karena ternyata Dwi di Kudus, tidak mau sekolah dan tidak mau tinggal bersama keluarga saudaranya tetapi lebih memilih tinggal bersama teman-temannya, yang belum tentu baik pergaulannya.
Imoeng melanjutkan aktifitasnya untuk membuat keripik dan rempeyek  kembali, sedang untuk telur asinnya, dia harus memasan telur itik mentah dulu. Karena Imoeng ingin meningkatkan jumlah produksi telur asinnya. Banyak toko-toko dan warung yang sudah memesannya. Kalau awalnya hanya membuat 30 buah telur asin, sekarang dia sudah memproduksi hampir 100 buah telur asin setiap 3 hari, untuk itu dia membayar satu orang untuk membantu memcucikan telur asinnya.
KSP yang dipercayakan pada Sofian juga semakin berkembang pesat, bukan hanya yang ada di Tabalong tapi hampir semua yang ada di setiap kota di Kalimantan Selatan, maju dengan pesat. Sofian juga harus mondar mandir untuk mengecek dari satu kota ke kota lain.  Kadang-kadang dia juga mengajak anak istrinya bila menuju ke kota yang lumayan jauh, seperti ke Sungai Danau atau ke Kotabaru, sekalian mengajak keluarganya berlibur mengenal kota-kota di Kalimantan Selatan.

b e r s a m b u n g....

11 Oct 2018

Mendulang Asa Ke Bumi Borneo 2







Sofian sudah menyiapkan rumah kontrakan untuk anak istrinya, yang tak jauh dari kantor tempatnya bekerja. Mereka menempati rumah kayu yang terletak di bibir sungai , bahkan di bawah rumah berupa air rawa-rawa. Sebuah rumah di kampung nelayan yang agak kumuh. Gang-gang antar rumah berupa kayu yang sudah rusuh dan banyak lobang di sana sini. Bila tak hati-hati berjalan bisa terjebur di air rawa yang kotor dan penuh sampah.

Ayuk yang tidak biasa tinggal di kampung nelayan agak kecewa, karena rumah yang ada dalam bayangan dia adalah rumah berdinding seperti rumahnya di Jawa. Tapi tak apalah, yang penting harus bisa menyesuaikan lingkungan dahulu, terutama bahasa yang sekarang sangat berbeda dengan bahasa mereka sehari-hari di Jawa. Hal ini menjadikan Ayuk banyak diam saja sambil memperhatikan kawan-kawannya bertutur. Sedikit demi sedikit Ayuk mulai memahami bahasa teman-temannya, bahasa Banjar.

Ayuk sudah mendapatkan sekolah di sebuah SD yang tak jauh dari tempat mereka tinggal. Untung ibu guru di kelas banyak menggunakan bahasa Indonesia, sehingga Ayuk bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Lagi pula materi yang di ajarkan sudah pernah diajarkan di sekolahnya waktu di Jawa.

Seminggu setelah mengenal lingkungan dan beberapa kali ke pasar terdekat, Imoeng mulai merencanakan apa yang akan ditempuh selanjutnya, agar kepindahannya ke Kalimantan tidak sia-sia belaka. Imoeng ingin jualan kecil-kecilan dulu, yang tidak butuh modal banyak dan kira-kira belum banyak dijual orang-orang di sekitarnya.

“ Pak…saya mau pinjam uang buat modal, besok saya mau ke pasar membeli peralatan untuk memasak, saya ingin jualan berbagai macam keripik, yang mudah, murah, dan mudah-mudah bisa diterima masyarakat di sekitar sini “ Ujar Imoeng pada suami pada sore itu, sepulang suaminya bekerja.

“ Iya..Buk…tapi janji hutang ya…harus hati-hati pakainya.”

“ Iya…Pak, saya janji akan mengembalikannya, bila semua telah berjalan lancar, saya ingin mengirim uang ke Jawa sedikit demi sedikit untuk melunasi hutang-hutangku, di sini aku tak akan mengulangi lagi kesalahanku yang dahulu. “

‘ Saya butuh 500 ribu saja Pak. Cukuplah untuk membeli peralatan menggoreng dan bahan-bahan membuat keripik. “ Jelas Imoeng pada suaminya tentang makanan apa yang hendak dijualnya.

“ Saya akan membuat rempeyek kacang tanah, kacang hijau, kedelai, dan ikan teri, sambil melihat mana yang akan banyak diminati masyarakat di sini. “

“ Ini ..Bu uangnya!. Hati-hati kalau ke pasar besok ya...”

“ Besok aku akan ke Tanjung mungkin menginap beberapa hari di sana, ada tugas dari boss “

Sofian bekerja di sebuah KSP atau Koperasi Simpan Pinjam, milik bosnya yang berasal dari Kudus juga. Sudah 5 tahun Sofian dipindahkan ke Kalimantan Selatan, untuk mengembangkan usaha KSP itu. Sejak di pegang oleh Sofian KSP itu maju pesat. Hampir setiap daerah di Kalimantan Selatan membuka kantor cabangnya. Sofian lambat laun menjadi orang kepercayaan bossnya. Sehingga Sofian sering berkeliling dari satu kota ke kota lain di wilayah Kalimantan Selatan.

Setelah anak dan istrinya ikut ke Kalimantan, Sofian sering pula meninggalkan anak istrinya untuk keperluan pekerjaannya. Hal ini menjadikan Imoeng mempunyai banyak waktu untuk berdagang dan mengembangkan dagangannya.

Tidak sampai dua bulan keripik dan rempeyek Imoeng banyak diminati orang sehingga Imoeng harus menambah dagangannya.

Karena seringnya berhubungan dengan masyarakat Imoeng dan Ayuk sudah mulai fasih menggunakan bahasa Banjar sehingga membuat pergaulannya dengan masyarakat sekitar mulai akrab.

Yang menjadi masalah Imoeng tidak bisa menggunakan air sungai dekat rumah untuk keperluan MCK seperti para tetangganya. Sehingga ia harus menggambil air agak jauh dari rumah, dan membeli air isi ulang untuk keperluan memasak.

Seminggu suaminya pergi, pulang-pulang Imoeng mendapatkan hal yang aneh pada suaminya. Imoeng mendapati baju wanita bercampur dengan pakainan suaminya di tas pakaiannya.

Imoeng tidak berani menanyakan kecurigaan itu pada suaminya, ia membiarkan saja sampai suatu saat suaminya akan mengaku sendiri, kalau selama Imoeng belum ikut ke kaliamantan suaminya punya wanita lain.

Imoeng hanya penasaran siapa wanita kekasih dari suaminya itu.Untunglah Imoeng sudah mengenal beberapa teman suaminya yang sama-sama dari Kudus, sehingga dia bisa beratanya-tanya pada teman suaminya itu.

Akhirnya Imoeng mendapat informasi bahwa suaminya memang dekat dengan sesama karyawan yang berasal dari Kudus juga, Rina namanya.

Suatu sore sambail melipat baju yang tadinya berada dalam tas pakaian suaminya Imoeng bertanya pada suaminya.

“ Ini baju siapa Pak..”

“ Mana…oh itu baju teman yang tercampur waktu dicucikan di mess mungkin Bu !”

“ Kalau bapak gak punya hubungan apa-apa kok bisa ya, baju ini masuk besama pakaian-pakaian bapak. “ Gunam Imoeng lirih, namun masih terdengar oleh suaminya.

“ Emang kenapa Bu, salah sendiri kamu bertahun-tahun tak mau aku ajak pindah ke sini “

“ Dan sekarang aku sudah di sini, kenapa bapak masih tega, melanjutkan hubungan itu. Percuma aku jauh-jauh pindah ke sini Pak..”

“ Sudahlah Bu. Gak usah mempersoalkan itu, yang penting di sini kamu harus focus mengumpulkan uang buat membayar hutang-hutangmu yang di Jawa..”

Seru Sofian mengalihkan permasalahannya. Imoeng hanya bisa memendam kecewa dan air mata, namun bagaimana pun ia harus kuat, karena sudah terlanjur melangkah di bumi Borneo apapun harus bisa diatasi sendiri.

Setelah itu Imoeng tak ingin memikirkan lagi apapun kelakuan suaminya. Dia hanya focus untuk membuat aneka makanan yang sekiranya bisa laku dijual di masyarakat sekitar. Yang penting baginya agar segera bisa pulang ke Kudus, untuk menggambil anak bungsu dan anak nomer 2 agar bisa kumpul bersama di Kalimantan semua. Selain itu setiap bulan sedikit demi sedikit dia bisa mengirim uang ke saudaranya yang di Kudus, untuk menyicil hutang-hutangnya.

Keripik dan rempeyek buatan Imoeng sudah makin banyak dikenal orang, sehingga setiap hari dia harus menambah dagangannya. Ayuk juga rajin membantu ibunya setiap pulang sekolah. Untuk mengantarkan pesanan-pesanan ke toko dan warung di sekitarnya.

Imoeng yang cekatan melihat peluang yang besar untuk mengembangkan usahanya. Walaupun hanya berjualan keripik dan rempeyek namun hasilnya sangat bagus, sehingga Imoeng ingin mengembangkan usahanya dengan membuat toko sendiri.

Namun keinginannya itu tidak diijinkan oleh suaminya.

“ Sudahlah Bu…melayani pesanan-pesanan saja kita sudah kewalahan, buat apa membuka toko, karena mungkin tak lama lagi kita juga harus pindah “

“ Pindah kemana Pak, kalau pindah bagaimana dengan langgananku, nanti di tempat yang baru kita harus mulai lagi dari nol “

“ Belum tahu, Bu! Tergantung Bos, karena kantor cabang yang di Tanjung berkembang pesat dan membuuhkan perhatian khusus “

Maka tak lama setelah itu mereka benar-benar pindah ke kota Tanjung Tabalong.




Tanjung Tabalong kota yang sedang tumbuh dengan pesat, karena kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Baik itu tambang, hasil perkebunan seperti karet, kelapa sawit, maupun buah-buahan, seperti langsat, cempedak, durian dan lain-lain. Di sektor tambang ada : minyak, gas maupun batubara. Terutama tambang batubara yang sedang marak dieksplore besar-besaran. Beberapa perusahaan tambang besar ikut andil beroperasi di kota ini, seperti PAMA, BUMA, SIS dan RA. Untuk tambang minyak yang sudah ada sejak jaman dahulu kala dikuasai oleh Pertamina, Pertamina telah membangun infrastruktur secara rapi, bagus dan lengkap di kota Tabalong ini. Seperti kawasan perumahan, taman, rumah sakit, sekolahan, masjid, dan minimarket. Untuk para karyawan dan masyarakat kota Tanjung Tabalong.

Karena tambang batubara sedang berkembang secara besar-besaran, maka di kota Tabalong banyak pendatang dari berbagai daerah di Indonesia untuk bekerja di sana. Hal ini menggeliatkan roda perekonomian. Kota Tanjung Tabalong tumbuh pesat dari kota yang sepi menjadi kota yang lumayan ramai.

Setahun tinggal di Kelayan Banjarmasin, Imoeng harus pindah ke kota Tanjung Tabalong. Yang jaraknya kira-kira 6 jam perjalanan dari Banjarmasin, ke arah Kalimantan Timur.

Kota Tabalong menjadi kota yang tepat bagi Imoeng untuk mengembangkan usaha di kota ini. Demikian pula dengan Koperasi yang sedang ditangani oleh Sofian berkembang sangat pesat di kota Tanjung Tabalong ini. Karena banyak masyarakat yang membutuhkan modal untuk memulai usaha, diberbagai bidang. Baik usaha kuliner, kontrakan maupun hiburan buat para pendatang yang bekerja di pertambangan.

Sofian dan Imoeng hanya mengontrak rumah bagian belakang yang biasanya dipakai untuk dapur , untuk mendapatkan harga kontrak yang lebih murah. Imoeng melanjutkan usahanya selain membuat berbagai macam keripik dan rempeyek, Imoeng juga membuat telur asin, dan sore hingga malam hari Imoeng berjualan jamu seduh, pembelinya rata-rata adalah karyawan tambang yang capek kerja seharian.

b e r s a m b u n g

8 Oct 2018

Mendulang Asa Ke Bumi Borneo




“ Hijrahlah, dengan meninggalkan kampung halaman karena Allah, demi menyelamatkan diri dari kekacauan dan untuk mengharapkan rahmad Allah, Yang Maha Pengampun, lagi Maha Penyanyang. ”

Peluit panjang KM Egon sudah terdengar, tak lama lagi kapal akan segera menjauh dari pantai Tanjung Mas Semarang. Para awak kapal sibuk menggulung tali tampar yang mengikat sauh di tiang beton bibir pantai. Para crew band kapal menyanyikan lagu ‘ Sayonara’ dengan penuh penghayatan, sebagai salam perpisahan buat para keluarga pengantar penumpang, juga buat Tanah Jawa, yang lambat laun tampak menjauh.
Kegundahan berkecamuk dalam hati Imoeng, petih di hatinya harus dia tahan dengan seribu asa yang akan menjelang di pulau tujuan, yaitu pulau Borneo atau Kalimantan. Imoeng berusaha untuk tidak meneteskan air mata di depan Ayuk anaknya, yang saat ini ada bersamanya. Ayuk  yang baru kelas 3 SD terpaksa pamit pindah dari sekolah, untuk mengikuti ibunya ke Borneo. Di sekolah mana nanti Ayuk akan melanjutkan sekolah, itu bukan masalah. Yang penting ayah dan ibunya bisa berkumpul kembali, menjadi keluarga yang utuh lagi seperti dulu.
Jam 4 pagi Imoeng dan Ayuk meninggalkan rumah di sebuah kampung di Kudus. Kepergian Imoeng ke Kalimantan menjadi pilihan terakhir, setelah lebih dari 3 tahun suaminya yang sudah berada di Kalimantan selama 5 tahun lebih, mengajaknya untuk pindah ke Kalimantan tak pernah dihiraukannya. Karena tidak mau diajak pindah ke Kalimantan, Sofian tidak mau lagi mengirim uang, dan pulangpun hanya setahun sekali, sebagai bentuk penghakimanan terhadap istrinya yang tidak mau pindah ke Kalimantan. Imoeng bukannya tidak ingin menuruti keinginan suaminya untuk pindah ke Kalimantan, namun di merasa enggan meninggalkan tanah kelahiran dan berbagai kewajiban hutang-piutang yang harus diselesaikannya.
Imoeng terpaksa mencari nafkah sendiri untuk menafkahi keempat anaknya. Dua anak dari hail pernikahannya dengan suaminya dahulu, dan dua anak dari pernikahannya dengan Sofian. Apalagi dia baru saja merenovasi rumah yang dibangun bersama Sofian setelah anak mereka lahir. Dana yang tidak sedikit dalam merenovasi rumah sebagiannya merupakan dana pinjaman. Akibatnya Imung mulai terjerat hutang sana sini, berbagai cara ditempuh untuk tutup lubang gali lubang. Belum lagi kebutuhan hidup untuk anak-anaknya juga. Hembusan selingkuh dengan beberapa lelaki membuat keidupan Imoeng, terseret kian kemari tertiup angin.  Gangguan para lelaki yang tahu kalau suaminya tidak pernah pulang, menyeretnya pada pusaran hidup yang melelahkan.
Lambat laun Imoeng dikejar banyak orang, yang hendak menagih hutang, maupun yang merasa terganggu karena suaminya mendekatinya. Memang Imoeng  sudah tidak muda lagi namun masih kelihatan cantik, dengan kulitnya yang kuning bersih dan hidung mancung, postur tubuhnya yang pas banyak menarik perhatian kaum lelaki. Terutama laki-laki gatel yang tidak puas pada istri-istrinya.
Sofian, walaupun berada di Borneo namun dia mengetahui sepak terjang yang dilakukan dan di alami istrinya. Untuk itu memberi somasi tegas pada Imoeng. Ikut ke Borneo apa bercerai darinya.
Imoeng tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan suaminya. Apalagi sore sebelumnya beberapa orang datang ke rumahnya  mengatakan bahwa mereka hendak membakar rumahnya bila esok pagi Imoeng tidak bisa memenuhi kewajibannya membayar hutang pada seorang rentenir yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Jeratan hutang pada renternir membuat hutang-hutang itu menjadi berlipat-lipat jumlahnya. Imoeng tidak mampu lagi mencicil walau itu bunganya saja. Hidupnya semakin terhimpit, saudara-saudaranya juga tak ada  yang bisa membantu.
Maka keputusan untuk pindah ke pulau Boerneo sudah tak bisa ditawar lagi, suka maupun tidak suka dia harus mengikuti keinginan suaminya.
Sofian tidak bisa menjemput istrinya untuk bersama-sama berangkat ke pulau Borneo. Hanya 2 buah tiket kapal yang dikirimnya. Untuk Imoeng dan Ayuk anak ke tiganya. Anaknya yang pertama, Eko sudah berada di Kalimantan untuk bekerja bersama Sofian. Sedang Dwi anak keduanya tidak mau diajak pindah sekarang, dia ingin tetap tinggal di Jawa dulu, walaupun sebenarnya Dwi sudah dikeluarkan dari sekolah karena bebrapa bulan tidak membayar SPP dan sering mbolos sekolah. Sedang Ais, anak bungsunya yang masih kelas 1 SD terpaksa dititipkan di rumah neneknya, sampai ada kepastian tempat tinggal di Kalimantan baru Ais akan dijemput, begitu rencananya.

Lamunannya buyar ketika deburan ombak laut Jawa mulai terasa menghantam dinding-dinding kapal. Kepalanya mulai terasa pening, Kasur busa tipis digelar di Geladak kapal yang khusus diperuntukkan buat penumpang kelas 3. Imoeng juga malas untuk antri mengambil jatah makan siangnya, beberapa kerat roti yang dibawanya diberikan pada Ayuk anaknya, yang mulai mabuk laut.

                                                                                                                                                      
“ Mak...kapan kita sampai, kepala Ayuk pusing sekali tidak bisa tidur, rasa diombang-ambing  tak selesai-selesai . “ Saat mereka sedang berada di buritan kapal. Imoeng dan Ayuk sengaja keluar dari Geladak untuk menikmati udara dingin pagi hari di tengah lautan. Apalagi di Geladak dan Lambung kapal penuh dengan orang-orang yang sedang tiduran. Sangat membosankan.
“Sebentar lagi kita sampai Yuk...lihatlah kapal yang kita tumpangi sudah memasuki sungai Barito, kapal kecil pemandu jalan pun sudah mengarahkan jalan kapal ini...,sabarlah pasti bapakmu sudah menjemput kita. ”
“ Ayuk juga lapar Mak...setelah semalam berapa kali mabuk dan muntah .”
“ Iya...sabarlah Yuk...lebih baik kita keburitan kapal saja sambil meniapkan barang-barang kita biar mudah nanti kita turun kapal, kita bisa melihat cekatannya para awak kapal menyiapkan kapal hendak berlabuh .”
“ Iya...juga yuk kita bangun ke dek samping saja ya...dekat tangga kita turun nanti, Ayuk ingin melihat mas-mas berseragam putih itu “
Selanjutnya Imoeng dan Ayuk mengemasi barang-barang yang mereka bawa, untuk dibawa ke deck kiri kapal. Gelombang air laut juga sudah tidak begitu terasa lagi, karena kapal sudah memasuki sungai barito, untuk kemudian berlabuh di pelabuhan Barito Banjarmasin.
Dari atas kapal Ayuk bisa melihat bapaknya yang sudah melambai-lambaikan tangan menyambut kedatangan Ayuk dan ibunya.
Bahagia rasanya akan berjumpa dengan bapaknya, dan akan berkumpul kembali dengan bapaknya membuat rasa pusing akibat mabuk laut, hilang seketika.
Begitu kapal berhenti tepat di bibir pelabuhan dan sauh pun telah ditambatkan, tangga turun untuk penumpang pun diturunkan. Para penumpang dengan sabar menanti giliran untuk turun, ada juga yang berebut untuk naik, para poter yang akan membawakan barang-barang bawaan penumpang.
“ Kita sabar aja Yuk...gak usah ikut berdesak-desakkan, toh nanti kita akan turun juga...jangan lupa baca Basmalah dan Al-Fatekhah waktu menginjakkan kaki pertama kali di tanah Boerneo ya...”
“ Iya...Mak, Ayuk selalu mengingatnya...”
Tak lama kemudian giliran mereka untuk turun kapal pun tiba.
Di bawah tangga untuk turun penumpang, Sofian sudah menunggu anak dan istrinya. Setelah mengucapkan syukur Alhamdulillah dan membaca Fathekah mereka saling berpelukkan.
B e r s a m b u n g....

Baca juga

Tentang Rumah yang Kesepian

    Sudah berbulan-bulan sepi sekali disini , hanya seorang lelaki kurus yang setiap hari menyapu lantaiku. Dinding-dinding yang terbuat...