18 Oct 2018

Mendulang Asa ke Bumi Borneo 7





Pagi-pagi Imoeng dibantu oleh mertua dan beberapa tetangga sudah masak membuat Nasi Gudangan, lengkap dengan lauk pauknya, tahu, tempe goreng, ikan teri asin kecil-kecil, telur rebus, perkedel kentang, perkedel jagung, dan tak lupa 3 buah ayam ingkung, sudah siap untuk di hidangkan. Bancaan duduk pandemen segera dimulai.
Tikar digelar di tengah-tengah tanah yang hendak dibangun rumah. Nasi gudangan, ayam ingkung dan semua lauk-pauk, pisang, kembang boreh sudah tertata di dalam tampah, yaitu wadah lebar bulat dari bambu.
Tetangga kanan kiri yang diundang, para tukang, dan seluruh anggota keluarga sudah berkumpul duduk melingkari hidangan.  Dan beberapa piring bubur merah putih.
Jam 7 pagi Pak Ustad datang, untuk membacakan doa dan sedikit ceramah buat tuan rumah dan para tukang sebelum memulai bekerja .Soian sengaja memanggil seorang ustadz yang tidak hanya untuk berdoa, namun juga memberikan sedikit wejangan untuk yang hadir pagi itu.
Setelah pembacaan doa dan sedikit ceramah oleh Untadz, dilanjutkan dengan acara makan bersama, semua dalam kebersamaan. Baik mereka yang asli dari Tabalong maupun yang pedatang dari Jawa. Baik yang punya kerja maupun para pekerja. Sofian juga mengundang teman-temannya di KSP ‘Damai’ Tabalong untuk ikut bancaan dan sarapan di tempatnya.
Penggalian tanah pertama untuk fondasi rumah dilakukan sendiri oleh Sofian, kemudian dilanjutkan oleh para tukang dan tetangga kiri-kanan yang membantu, sehingga dalam sehari semua lubang untuk menanam fondasi rumah sudah tergali.
Sementara di dapur Imoeng dengan dibantu oleh saudara dan tetangga memasak untuk makan siang dan membuat wadai/ kue untuk teman minum kopi sore hari setelah pekerjaan untuk hari itu selesai.
“ Bikin wadai apa Buk..ae..hari ini “ Tanya tetangga yang ikut membantu di dapur.
“ Banyak pisang itu Cil, bikin Sanggar  saja, ada petis juga itu…” Jawab Imoeng. Sanggar adalah pisang goreng tetapi  pisangnya dipilih yang agak mentah tapi sudah tua, diolesin tepung terus digoreng. Cara makannya dengan petis yang sudah diberi cabai sehingga agak pedas-pedas, gurih dan manis rasanya.
“ Nyaman ae…”
“ Dikupas semua itu Cil…biar banyak yang makan…”
“ Ulun mau jua Cil…kadak cukup kalau sebuting..ha ha ha..”
“ Makanya goreng saja sabarataan…”
“ Siap Boss….” Gurau Mamak Fais yang sudah memegang pisau untuk mengupas pisang dengan cekatan, dibantu oleh Mamak –mamak yang lainnya.
Setelah asar tiba Sanggar satu tampah sudah siap dihidangkan beserta bumbu petisnya, yang  sungguh nikmat aromanya.
Karena kesibukan di rumah Sofian sampai lupa janji mau menemui bosnya di kantor KSP. Maka dia segera menelpon Bos Damang untuk meminta maaf karena sudah terlanjur sore.
“ Assalamu’alaikum..Boss”
“ Wa’alaikum salam Mas Sofian, maaf saya sudah di bandara Syamsudin Noor mau pulang Kudus dulu mengantar nyonya dulu Mas, besok-besok saja ya kita bicara kalau ketemu .”
“ Oke…Boss !, saya tadi mau minta maaf tidak bisa ketemu boss hari ini, karena haur jadi lupa, sudah sore begini baru ingat kalau sudah janji dengan Boss…”
“ Tidak apa-apa Mas…saya tahu pasti hari ini Mas Sofian sibuk sekali, karena hari pertama mendirikan rumah, pasti banyak yang harus dikerjakan.”
“ Iya..Boss, tapi syukurlah hari ini lancar dan cuaca juga cerah jadi tak ada halangan apapun juga…”
“ Iya..Mas, sudah diurusi dulu pekerjaannya semoga rumahnya cepet selesai, mungkin saya baru minggu depan bisa ke Banjar lagi.”
“ Iya ..Boss, semoga urusan dengan ibu bisa selesai dengan baik-baik….”
“ Okey ..terima kasih Mas, maaf kalau kemarin ibu merepotkan ya…”
“ Tidak apa-apa Boss, selamat  saja, Wa’alaikumsalam” Kata Sofian  mengakhir pembicaraan , sambil meletakkan Hp di meja kerjanya.
Sore itu para tukang dan keluarga yang datang dari Jawa, dan tetangga sedang berkumpul di beranda rumah sambil menikmati pisang sanggar bersama petis pedasnya, ketika tiba-tiba  Dwi anak Imoeng yang ke dua berlarian tergesa-gesa masuk rumah dengan diikuti oleh seorang gadis Banjar yang cukup cantik.
“ Mas Dwi !  ulun kada’ suka pian berjalanan sama Si Aluh, ulun kada bisa terima Mas..”
Dwi yang diikuti dari belakang diam saja, malah ikut duduk di beranda dan mencomot pisang sanggar yang masih terhidang di piring bersama dengan petis pedasnya. Dwi hanya tersenyum saja sambil menikmati pisang sanggar.
Sang gadis yang merasa tidak dianggap, tanpa malu-malu masih saja nerocos sambil berdiri bersandar pada tiang rumah.
“ Mas! kenapa diam saja, ulun masih pacar pian kan ? jawab Mas…”
Imoeng yang merasa risih anak laki-lakinya dikejar-kejar gadis, apalagi Dwi tampak cuek begitu langsung menegur anaknya.
“ Eeeii, ada apa kalian, Dwi ! kenapa kamu cuek begitu diajak ngomong Aluh..?”
“ Tanya Aluh Buk, kenapa dia ngejar-ngejar gitu, aku gak apa-apa kok “ dalih Dwi pada ibunya.
“ Iya..tuh Buk..ae, anak pian, semalam bilangnya cinta sama ulun, eeh tadi aku melihatnya berduaan sama Riska makan bakso , ulun kadak terima, Buk..ae..”
“ Sudah-sudah…sini duduk dulu, makan sanggar tuuh..”
“ Kadak mau Buk…sebelum Mas Dwi memberi jawaban “
“ Udah ulun bilang..kadadak..apa-apa Riska, sidin hanya minta traktir hanja…”
“ Kadak percaya Mas, napa pian megang-megang tangan sidin jua..”
“ Kadak apa-apa hanya  pegang hanja..”
Imoeng meresa gak enak adegan itu dilihat banyak orang yang sedang duduk santai di beranda lalu menengahi.
“ Udah..sekarang kadadak pacar-pacaran semua…Dwi juga masih baru memulai buka bengkelnya belum apa-apa sudah main pacar-pacar…sudah-sudah, sini makan sanggar saja “
“ Ulun pulang aja Buk, awas pian Mas Dwi “
“ Kamu juga masih sekolah kadak boleh pacar-pacaran dulu, lebih baik belajar saja Aluh “
Tanpa menjawab apa-apa Aluh langsung berlalu pulang, tanpa permisi, tanpa mengucap salam.
“ Dwi…kamu nggak boleh mainin anak orang gitu…lagian belum waktunya pacar-pacaran, lebih baik urusin dulu tuuh bengkelmu..!”
“ Siapa jua yang main pacar-pacaran, sidin sendiri yang datangin ke bengkel…masih berseragam pula..”
“ Iya, tapi awas kamu kalau mainin anak gadis orang, bisa kena parang kamu lawan abahnya.”
“ Iya ya Buk! aku cuekin aja, kalau mereka pada singgah di bengkel..”
“ Bilang saja sedang sibuk, gak bisa diganggu “
“ Iya…Buk..”
“ Sudah mandi sana, lihat tuh..bajumu kotor penuh  oli…gitu..”
“ Iya, Buk..” Balas Dwi sambil berjalan ke belakang sambil menyambar pisang  sanggar satu lagi.


b e r s a m b u n g....

16 Oct 2018

Mendulang Asa ke Bumi Borneo 6


Tanah ukuran 30 x 20 meter akhirnya dibeli, lumayan luas juga kalau untuk mendirikan sebuah  rumah . Rumah akan segera dibangun sedikit demi sedikit setelah Sofian pulang dari menjalankan ibadah haji. Letak tanah yang tidak begitu jauh dengan jalan utama di Mabuun dekat dengan Obor Tanjung , atau disebut gengan obor Selamat datang di kota Tabalong. Obor ini menyala karena di bawahnya tersambung dengan saluran gas bumi yang dikelola oleh Pertamina dari sumur gas Dahur.
Tiba saatnya Sofian untuk berangkat ke tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji bersama 2 orang temannya dari KSP ‘Damai’, Sofian sangat bersyukur akhirnya dapat melaksanakan ibadah haji walaupun itu dari hadiah bosnya, Haji Damang. Suatu saat nanti dia berjanji akan membawa istrinya untuk berangkat haji bersama. Dengan biaya sendiri.
Telur asin ‘Tiga Roda’ buatan Imoeng bukan saja terkenal di wilayah Tabalong saja, namun juga terkenal sampai ke wilayah Amuntai, Paringin dan kota-kota lain di sekitarnya. Terur asin menjadi lauk yang paling praktis dan murah disaat tergesa-gesa. Imoeng merekrut 5 orang tetangganya untuk membantu mencuci telur dan membalut dengan abu gosok dan beberapa adonan lain yang diramu Imoeng sendiri, agar telur asin buatannya bisa masir, kuning tua, dan lezat rasanya tidak terlalu asin dan tidak juga hambar. Apalagi sejak Sofian pergi haji dengan membawa telur asin untuk dibagi-bagikan pada teman-temannya sesama jemaa’ah haji,  pesanan telur asin semakin banyak. Dari hasil promosi mereka yang sudah merasakan telur asin ‘ Tiga Roda’.
Selain usaha telur asin yang berkembang pesat, usaha lain seperti  mendirikan toko  ‘Serba Ada’ dan kridit aneka perabot rumah tangga dan elektronik  juga berkembang pesat.
Hampir dua bulan sekali Imoeng ke Kudus untuk menenggok keluarga dan juga untuk  membelanjakan berbagai pesanan konsumennya. Dari aneka pakaian, tas, sepatu dan perhiasan , yang lebih mantab  bila dibelikan di Jawa.
“ Ulun pesan jam tangan , ya Cil…jangan lupa belikan yang paling bagus lah, yang cocok buat ulun ya…berapa harganya tak masalah asal bisa dibayar sepuluh kali Cil  ae..” pesan Mamak Aziz  yang rumahnya agak jauh dari Imoeng, namun Imoeng tahu suami Mamak Aziz itu bekerja di tambang batubara, dan suka membelikan barang-barang bagus untuk istrinya, yang masih muda dan cantik itu.
“ Nanti ulun kirim gambarnya di hp pian ya, pian pilih sendiri “ balas Imoeng lewat SMS tatkala dia sedang di Jawa dan Mamak Aziz memesannya lewat SMS juga, setelah  tahu Imoeng ada Jawa.
Bukan hanya Mamak Aziz, ada Mamak Dika, Mamak Dea juga memesan tas, sepatu, baju dan lain sebagainya. Sehingga setiap pulang ke Kudus ongkos pesawat pp sudah bisa ditutup dengan untung yang didapat dari pesanan-pesanan itu.
Sepulang dari menunaikan ibadah haji, sedikit demi sedikit material untuk membangun rumah  sudah dibeli. Walau tidak bisa dibeli sekaligus namun, dicicil beli batu dulu, minggu depannya beli  batubata, lalu pasir, semen ,  dan lain lain, sedikit demi sedikit karena uang yang ada juga digunakan untuk membelikan pesanan-pesanan konsumennya yang akan membayar secara kredit nantinya.
Tak apalah yang penting saatnya nanti rumah itu akan menjadi rumah impiannya setelah rencana membangun rumah di Kudus pernah gagal,  yang ada hanya tertimpa banyak hutang. Hal itu menjadi pelajaran bagi Imoeng dan Sofian, agar tidak mengambil hutang untuk membangun rumah itu nantinya. Lebih baik selesai agak lambat tetapi memakai uang sendiri, daripada harus berhutang kesana-kemari seperti dahulu.
“ Sepertinya sudah lumayan banyak terkumpul material yang ada Bu…baiknya kita mulai membangun , Bapak mau minta tolong teman yang pandai menggambar rancangan bangunan rumah kita, “ kata Sofian pada istrinya.
“ Kalau bisa sebelum kontrakan rumah  ini habis ,kita sudah punya satu-dua ruangan dulu yang bisa kita tempati sambil mengawasi para pekerja nantinya, “ sahut Imoeng pada suaminya.
“ Besok aku akan menghubungi ahli bangunan kenalan bapak, yang biasa menangani pembuatan rumah di kota ini.” Balas Sofian.
Esok paginya mandor bangunan Wardi datang membawa rancangan bentuk bangunan dengan detailnya. Ada beberapa yang harus diubah sesuai dengan keinginan Imoeng dan suaminya. Agar rumah  yang mereka bangun nantinya bisa benar-benar  sesuai keinginan  dan menjadi surga bagi Sofian sekeluarga.
“ Di sebelah garasi ada bangunan untuk toko lah Pak…saya ingin agar antara bangunan toko dan dapur ada pintu penghubungnya, agar saya bisa melakukan pekerjaan di dapur sambil berjualan “
“ Inggih..Bu..ae…bisa kita sesuaikan itu nantinya, garasi kita tarus di sebelah kanan bangunan induk, dan toko ada di sebelah kiri banguan induk, agar jualan ibu tidak terhalang dengan kendaraan-kendaraan di garasi, “ jelas Mandor Wardi.
“ Sepertinya material sudah cukup banyak, kita bisa memulai bikin pondasi secepatnya, kalau Pak Sofian ingin mencari hari baik dulu silahkan, biasanya begitu kan orang Jawa, walau sudah tidak tinggal di tanah Jawa tetep saja hari baik menurut hitungan itu penting..” kata Mandor Wardi yang juga keterunan dari Jawa, karena orangtuanya dulu berasal dari Jawa, dan bertransmigrasi ke Kalimantan, sejak dia masih kecil.
Sambil menunggu hari baik untuk mendirikan rumah, Wardi mengajukan beberapa nama tukang yang akan mengerjakan bangunan itu nantinya.
“ Tapi saya mau bawa dua tukang dari Jawa ya..Pak Wardi..dia masih famili kami, dia juga ahli bangunan juga, awal bulan depan mereka sudah nyampe sini, silahkan nanti Pak Wardi berdiskusi dengan mereka , “ jelas Sofian. Karena memang Sofian berencana mengundang dua ahli bangunan dari Jawa yang mungkin lebih faham dan mengerti, jadi tidak asal-asalan saja bangunan rumahnya itu nanti.
Setelah berkonsultasi dengan orangtua di Jawa, dan pandai membuat hitung-hitungan hari baik, yang mempunyai kandungan dan harapan agar rumah yang dibangun akan membawa anggota keluarga yang menempati  akan menjadi baik, berkah, dan sehat . Tidak bertepatan dengan hari weton meninggalnya leluhur, maka ditentukanlah hari, dan tanggal dimulainya pembuatan rumah. Dimulai dengan ‘nduduk pandemen’ atau menggali tanah untuk ditanamkannya fondasi pertama kali. Walaupun sudah tidak tinggal di tanah Jawa, sebagian orang Jawa memang masih setia pada warisan budaya leluhur, dengan harapan tetap selamat di mana pun berada.
“ Bu, besok siapkan ubo rampe buat bancaan nduduk pandemen …ya !”
“ Iya Pak, bubur merah putih, dan bancaan sego kuluban sudah aku siapkan besok  pagi, sekalian untuk sarapan para tukang, dan tetangga kiri-kanan “,  jawab Imoeng pada suaminya.
“ Jangan lupa pak Ustad yang akan mendoakan diundang juga ya Buk…”
“ Sudah siap semua pak…!”
“ Semoga besok hari cerah sehingga semua bisa berjalan lancar, sampai rumah kita jadi nanti”
“ Kita tidak perlu nunggu rumah jadi semua, kalau sudah ada dua ruangan dan dapur sementara kita bisa segera menempati rumah baru nanti “
  Iya..buk, Haji Damang kemarin juga memberi bantuan buat ongkos mendirikan rumah kita “
“ Semoga setelah kita menempati rumah baru kita nanti, kita sudah tidak kerja ikut orang lagi Buk…”
“ Apa bapak punya rencana keluar kah Pak..?”
“ Terus bapak mau bikin usaha apa…?” , lanjut Imoeng.
“ Saya pingin bikin usaha serupa dengan boss Buk..!”
“ Apa nanti gak malah menjadi persaingan dengan  boss”
“ Tidak Buk, saya mau mendirikan di Kaltim saja..”
“ Saya sudah tahu jalur-jalurnya untuk mendirikan KSP, karena selama ini Boss memasrahkan semua urusan perijinan dan lain sebagainya kepada saya, dan kebetulan ada sebuah bank yang menawarkan diri  untuk menjadi investor “
“ Tapi tunggu dululah Pak…sampai  rumah kita bisa kita tempati lebih dahulu “
“ Benar Buk, kita harus konsentrasi  satu-satu “
“ Apalagi sekarang ada bapak, ibu, Lek No dan Lek Ni yang akan membantu kita mendirikan rumah disini “
Orangtua Sofian memang datang dari Jawa, bersama Lek No dan Lek Ni, kerabatnya yang juga ahli bangunan. Mereka berempat datang naik kapal kemarin, dan Sofian menjemputnya di Banjar. Bapak ibu menjadi tempat berkonsultasi tentang segala persyaratan ubo rampe  mendirikan rumah . Hati mejadi tenang juga karena ditunggui orang tua, jadi ada yang diajak berdiskusi dan mengarahkan soal rumah yang hendak dibangun.
Segala perijinan sudah diurus, material sudah siap, tukang-tukang siap, rancangan bangunan juga sudah siap. Tanggal dan hari baik sudah didapat.
 Tiba-tiba masalah datang.istri Haji Damang datang ke Kalimantan, karena curiga dengan kelakuan suaminya akhir-akhir ini. Yang lebih sering ke Kalimantan daripada berada di Kudus, dia curiga jangan-jangan di Kalimantan ada perempuan lain yang selama ini menjadi simpanan Haji Damang.
istri Haji  Damang langsung mendatangi kantor KSP yang ada di Tanjung Tabalong, dia yakin kalau Sofian pasti tahu perselingkuhan yang telah dilakukan bosnya tetapi diam saja.
“ Mana Sofian…jauh-jauh datang  kemari, aku ingin dia jujur apa yang telah diketahui tentang bossnya, jangan hanya karena banyak diberi hadiah Sofian diam saja, atas kelakuan bossnya…”
“ Mana mungkin dia tidak tahu, dia kan orang kepercayaan bosnya  “ lanjut Istri bos Damang yang  datang-datang langsung nerocos setelah tiba di Kantor KSP di Tabalong.
“ Tapi pak Sofian lagi tidak ke kantor Bu!,  karena besok beliau akan memulai membangun rumah jadi hari ini dan besok beliau tidak ke kantor, “  jawab salah seorang karyawan yang ada di kantor.
“ Tolong antarkan saya ke rumahnya sekarang, ada yang penting yang mau saya omongkan pada Pak Sofian “
“ Baik Bu, mari saya antarkan, tidak begitu jauh dari sini kok…”
“ Terima kasih! mari kita berangkat sekarang …”
“ Baik Ibu, monggo kendaraan sudah siap “
“ Bila sudah sampai rumahnya kamu tinggal saja nanti ya, biar aku bicara sendiri sama Pak Sofian”
“ Baiklah Bu, monggo…”
Istri Haji  Damang dengan diantar salah seorang karyawan akhirnya sampai ke rumah Sofian yang saat itu sedang banyak orang , persiapan mendirikan rumah besok pagi.
Sofian kaget sekali melihat istri bosnya tiba-tiba sampai di rumahnya. Pasti ada sesuatu yang sangat penting ini, apa istri boss sudah tahu soal wanita simpanan Haji Damang ya. Begitu pikir Sofian. Sofian tidak enak bila nanti tiba-tiba istri bos marah-marah kepadanya di depan orang banyak yang sedang ada di rumahnya.

“ Assalamu”alaikum Mas Sofian”
“ Wa’alaikum salam…Bu, tumben sampai sini..”
“ Iya…boleh saya langsung bicara, waah dengar-dengar mau bangun rumah ya..”
“ Iya..Bu, rencana besok pagi mulai ‘duduk pandemen’ “
“ Baguslah, banyak uangnya ya sekarang, saya dengar juga baru pulang dari Haji ya…?”
“ Iya Bu,  hadiah dari bapak, karena omset KSP wilayah Kalsel meroket terus…”
“ Banyak hadiah dong dari bapak, apalagi kalau  bisa menutup-nutupi kejelekan bos “
“ Maksud..Ibu…”
“ Pasti Mas Sofian tahu kan, kalau bos sekarang lebih banyak di Kalimantan karena apa, apa hanya karena ngurus KSP saja, yang jelas-jelas sudah banyak diurusi Mas Sofian..”
“ Maaf…saya kurang tahu maksud Ibu, kenapa Ibu datang jauh-jauh hanya untuk memarahi saya akan sesuatu yang tidak jelas, jelaskan sekalian dong..Bu..!”
“ Kamu…pasti tahu kan bapak di Kalimantan punya wanita simpan yang sudah setahun lebih menjalin hubungan dengan bapak, kenapa kamu membiarkan saja..! “
“ Maaf ..Bu..saya bekerja pada Bos Damang hanya untuk mengurus KSP dan segala keperluan yang berhubungan dengan KSP bukan untuk mengurus keperluan pribadi boss..”
“ Kamu membiarkan bosmu demikian karena kamu banyak dikasih hadiah kan Mas Sofian, kenapa kamu tidak mengingatkan bosmu, atau melapor pada  saya kalau bapak telah terjadi apa-apa.”
“ Kenapa ibu selalu mengait-ngaitkan pemberian bapak dengan apa yang telah terjadi dengan bapak…tidak Bu ! Bapak memberi saya hadiah karena bapak sebelumnya memberikan target kepada saya, dan memjanjikan sesuatu kalau saya mencapai target…sama sekali tidak ada hubungan pribadi dengan bapak…” , sahut Sofian dengan nada tinggi karena jengkel dengan istri bossnya itu.
“ Tapi kamu secara pribadi sudah mengenal bapak dan keluarga kami dengan baik di Kudus, kamu sudah kami anggap seperti keluarga sendiri yang dipercaya mengembangkan usaha di sini..jadi harusnya mau menegur bapak bila dia salah..”
“ Kamu tahu siapa wanita itu kan...?”
“ Saya tidak tahu Bu…bapak tidak pernah menganjak saya, dan melibatkan saya  dengan urusan pribadi, apalagi urusan soal wanita “
“ Mosok kamu tidak tahu, kemana saja bossmu selama di Kalimantan, yang bener saja Mas Sofian…”
“ Benar Bu, saya tidak tahu sebaiknya ibu menanyakan langsung ke Bapak, tidak ke saya…”
“ Bapak hpnya dimatikan dari kemarin, sudah saya hubungi tidak bisa…”

Sementara itu  Haji Damang yang sudah 2 hari di rumah wanita simpanannya di Kandangan ingin menghubungi Sofian dan mengatakan kalau dia ada di Kaliamantan.
“ Hallo…Mas Sofian, saya ada di sini sekarang, nanti ketemu di kantor sebentar  ya…”
“ Alhamdulillah, kebetulan sekali bapak telpon saya, ini ada ibu disini di rumah saya Pak..”
“ Apa! ibu! maksudnya istri saya yang di Kudus ?”
“ Mana…telponnya saya mau bicara sama bapak langsung..!”  pinta bu Damang, langsung mengambil telpon yang sedang dipegang oleh Sofian.
“ Pak…kamu dimana, kenapa hp kamu matikan..?”
“ Iya…Bu, tunggu satu setengah jam, saya akan datang kesitu, kenapa ibu bisa sampai ke rumah Sofian.”
“ Cepat datang kemari…Pak..!”
Hp segera dimatikan, istri boss Damang masih saja ngoceh dan bersunggut-sunggut. Imoeng yang dari tadi memperhatikan dari jauh, hanya bisa sedikit menenangkan Bu Damang, dengan segelas teh hangat dan kue  cincin  khas Tabalong.
Monggo Bu…ngunjuk  rumiyin…”  Sapa Imoeng sambil menyuguhkan teh hangat dan kue  cincin di hadapan  Bu Damang.
“ Saya sudah makan minum tadi, gak usah basa basi Mbak, apa sampeyan tahu juga kah, soal Pak Damang yang katanya punya wanita simpanan disini..” balas bu Damang dengan tidak ramah.
“ Tidak tahu sama sekali Bu! saya tidak pernah ikut campur urusan kantor bapaknya anak-anak, karena saya punya usaha sendiri yang harus saya urusi di rumah..!”
“ Sama-sama di Kalimantan mosok sampeyan gak tahu..”
“ Benar Bu, .saya tidak tahu, apalagi sesuatu yang bukan urusan saya buat saya ngurus-ngurus “
“ Kalau Mas Sofian dapet-dapet hadiah dari Pak Damang …tahu kan ?”
“ Iya., bapaknya juga ngomong kalau itu didapat karena prestasi, mencapai target yang ditentukan Haji Damang , apa salah Bu…?”
“ Karena prestasi apa karena Mas Sofian pandai menyimpan rahasia bosnya yang mempunyai wanita lain di sini “ balas Bu Damang yang agak memerahkan telinga, namun Imoeng masih selalu bersabar. Bukan karena Bu Damang istri bos suaminya, namun Imoeng memahami hati perempuan yang luka, namun sayang Bu Damang kurang bijaksana menyampaikan luka akibat ulah suaminya kepada orang lain, yang tidak ada sangkut-pautnya.
Sementara  Sofian agak menjauh mengurusi tukang-tukang yang besok mulai bekerja membangun rumahnya. Sofian malas menemui istri bossnya yang suka main tuduh saja. Tidak menghargai jerih payahnya sehingga usaha KSP suaminya bisa sebesar ini, menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit tiap bulannya. Hadiah-hadiah yang diberikan pada Sofian sebenarnya masih belum apa-apa dibanding kerja kerasnya, sehingga uang ratusan juta bisa mengalir sebagai keuntungan bersih KSP  ‘Damai’.
Satu jam setengah kemudian Haji Damang sudah sampai di rumah Sofian, dan langsung menyapa Sofian bukan istrinya.
“ Sudah siap semua Mas, besok pagi ya…mulai nduduk pandemen-nya “
“ Iya… Bos…itu sudah ditunggu ibu..”
Bu Damang hanya diam saja melihat suaminya, sampai suaminya masuk dan duduk di sebelahnya.
“ Sudah kita bicarakan di rumah yuk Bu…Mas Sofian karo Mbak Imoeng kuwi ora reti opo-opo , ora enak masalah keluarga kok digowo-gowo mrene..” jelas Pak Sofian pada istrinya.
“ Bos..sebenarnya mau ada yang saya omongin, tapi ya sudah…besok saja kita ketemu di kantor , hari ini dan besok saya tidak bisa ke kantor Bos…, agak siang kalau sudah acara bancaan nanti nanti saya ke kantor sebentar, kepingin ngomong sama Bos…”.
Bagaimanapun Sofian dan Imoeng tersinggung atas kata-kata yang diucapkan Bu Damang soal hadiah-hadiah  termasuk menunaikan ibadah haji yang diberikan oleh Haji  Damang. Maka rencana Sofian untuk segera lepas dari Bos Damang dan mendirikan KSP sendiri di Kaltim ingin segera terlaksana.
Bagaimanakah kelanjutannya, apa usaha yang dilakukan Sofian untuk mewujudkan impiannya mendirikan KSP sendiri…?
 “ Ya..sudah besok saya tunggu ya Mas Sofian, saya permisi dulu, yuuk Buk…”
Bu Damang masih diam saja menyimpan api cemburu pada suaminya, namun ia tak ingin menumpahkan air mata di hadapan suaminya.


b e r s a m b u n g.....
.

15 Oct 2018

Mendulang Asa ke Bumi Borneo 5




Imoeng dan Dwi sampai pula ke Tabalong kembali, setelah agak susah membujuk agar mau ikut serta, akhirnya Dwi mau juga mengikuti ibunya berangkat ke Kalimantan.
“ Kamu sekolah kembali ya Dwi, ibu daftarkan di SMK seperti di Kudus, tak apalah mengulang dari  kelas 1 lagi, ketinggalan setahun tak apa-apa, karena tak ada istilah telat dalam belajar, “ rayu Imoeng pada Dwi agar mau bersekolah kembali, karena sekolahnya terputus di kelas 2 SMK waktu di Kudus.
“ Gak mau, Buk. Dwi mau kerja saja..!”
“ Mau kerja apa kamu dengan ijazah SMP mu itu, Dwi ?”
“ Dwi mau kerja di bengkel, di Kudus aku sudah biasa ikut kerja di bengkel, sedikit-sedikit aku sudah mengerti soal bengkel radiator “ Jawab Dwi menyakinkan ibunya.
“ Ya…sudah kamu kerja di bengkel radiator sebentar milik teman Bapak, nanti Bapak yang bilang sama yang punya !”  Sahut Sofian mendengar percakapan antar Imoeng dan Dwi di teras rumah.
“ Ya …sudah kalau kamu maunya begitu, nanti kalau sudah mengeuasai radiator buka bengkel sendiri saja ya…”  Imoeng akhirnya mengalah dengan keinginan anaknya.
“ Apa mau ikut kerja sama aku..?”  timpal Eko, kakak sulung Imoeng,  yang kebetulan sedang libur jadi bisa kumpul dengan keluarga. Eko juga bekerja di KSP ‘Damai’ milik Haji Damang, namun Eko di tempatkan di Rantau, kira-kira 2,5 jam perjalanan dari Tabalong ke arah Banjarmasin.
“ Aku gak suka kerja di kantoran sepertimu, Mas…,” balas Dwi.
“ Kamu bagian keliling saja , narikin uang dari nasabah tiap harinya.”
“ Gak mau, aku gak mau jadi bank titil, pegang duit orang ntar aku pakai repot..”
“ Ya…sudah kamu kerja di bengkel saja, sambil pelajari baik-baik ya kalau sudah lancar  nanti Bapak kasih modal buat bikin bengkel, eeh…bapak pinjami ya, bukan kasih, jadi kamu harus mengembalikan nanti, harus belajar bertanggung jawab.”
“ Iya ..Pak Dwi akan berusaha…”
Akhirnya Dwi bekerja di bengkel radiator milik Haji Hasan, satu-satunya bengkel radiator di kota Tabalong. Padahal kota seperti Tabalong  yang sudah mulai ramai ini harusnya ada bengkel radiator 3 atau 4, makanya setiap hari bengkel radiator milik Haji Hasan selalu penuh, orang harus memesan dulu bila hendak memakai jasanya. Karena karyawan Haji Hasan juga tidak banyak juga, maka Dwi langsung diterima bekerja di sana.
Baru sebulan bekerja Dwi sudah menguasai benar apa-apa yang harus dikerjakan oleh seorang pebengkel radiator, Dwi memang benar-benar ingin belajar soal radiator karena rencananya bila sudah lancar Sofian akan membantu membukakan bengker radiator sendiri.
Sementara usaha yang ditekuni Imoeng mulai memperlihatkan hasil, sekarang sudah tidak membuat keripik dan rempeyek lagi. Karena usaha membuat telur asin semakin berkembang. Setiap 3 hari seribu butir telur sudah dipesan dan diambil para pedagang sendiri ke rumah, tidak perlu lagi mengantar ke toko-toko dan kios-kios.
Selain itu sebuah toko kecil yang menyediakan berbagai keperluan sudah memenuhi sebagian ruang tamunya yang luas. Belum lagi pesanan-pesanan  teman-temannya  mulai dari makanan, kue, perabot rumah dan dapur juga elektronik semua dilayani. Bahkan yang tidak bisa membayar kontan bisa dengan sisitem menyicil bulanan.
Ayuk dan Ais belajar dengan baik, mereka menjadi anak-anak yang berprestasi di sekolahnya. Kehidupan Imoeng sekeluarga sudah berangsur-angsur berubah. Walaupun sudah tidak mempunyai hutang lagi di Kudus, Imoeng tetap mengirim uang untuk membantu  adik-adiknya yang membutuhkan.
Belum genap 3 bulan Dwi sudah mahir dalam soal radiator dan oleh Sofian dipinjami modal untuk menyewa tempat di pinggir jalan utama dan bangunan semi permanen, serta peralatan  bengkel sudah lengkap semua disediakan. Dwi mulai menanggani pelanggan-pelanggan baru sampai bulan berikutnya karena kewalahan Dwi merekrut teman untuk membantunya. Tidak disangka usahanya cepat sekali berkembang. Banyaknya kendaraan yang masuk ke kota Tabalong, merupakan  peluang yang sangat bagus untuk usaha bengkel.
Tidak menyesal Dwi ikut ibunya ke Kalimantan, kalau masih di Jawa dia pasti masih hidup menggelandang tak pasti, karena jauh dari orang tua dan punya kerjaan yang tetap..
Karena kepiawiannya Sofian menjalankan usaha KSP milik  Haji Damang, Sofian mendapat hadiah untuk pergi melaksanan ibadah haji ke Tanah Suci, namun hanya Sofian sendiri yang berangkat tidak disertai istrinya, Imoeng. Haji Damang tidak akan rugi memberi hadiah pergi haji , kendaraan dan fasilitas rumah yang bagus bagi Sofian. Karena berkat kerja keras Sofian usaha KSP bisa menjadi seperti ini. Lagi pula rata-rata orang Kalimantan tepat waktu bila membayar cicilan, tidak menyusahkan petugas yang di lapangan.
Sebelum pergi haji ke Tanah Suci, Sofian membeli tanah yang rencananya untuk membangun rumah sendiri, karena sumua anggota keluarganya sudah ngumpul di Tabalong, dan kehidupannya di Tabalong semakin menanjak, maka tidak salahnya bila Sofian sekeluarga menetapkan untuk menetap di Tabalong, walaupun Sofian sendiri sering hilir mudik dari kota ke kota di Kalimantan Selatan untuk urusan KSP ‘Damai’.
“ Buk, kita beli tanah di sini saja ya…sepertinya di kota ini rejeki kita berkah berlimpah, mungkin ini kota yang cocok bagi kita, yang ditunjukkan oleh Tuhan,” Kata Sofian terhadap istrinya.
“ Iya..Pak mumpung tanah di sini belum begitu mahal nanti bila sudah semakin pesat dan banyak pendatang masuk pasti harga tanah akan berlipat-lipat “
“ Kita cari yang sesuai keinginan kita, bisa untuk usaha, tidak terlalu jauh dengan kota dan sekolahan anak-anak “
“ Nanti Tanya-tanya ke tetangga siapa tahu ada info tanah hendak dijual..
. “
“ Oke, besok saya  cari info, siapa tahu jadi rejeki kita “
Begitulah, rejeki, hidup, mati semua sudah ada yang mengatur, kita manusia hanya wajib berusaha dan berdoa saja.



b e r s a m b u n g...

14 Oct 2018

Mendulang Asa ke Bumi Borneo 4




Hari sabtu sore tiba-tiba bos Demang datang ke Kalimantan, tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“ Jemput ..aku di Bandara nanti jam 5 sore ya Mas Sofian, jam limaan aku sudah nyampe di Banjar, jangan telat ya…”, begitu perintah bos KSP tempat Sofian bekerja.
Bos Damang yang bertempat tinggal di Kudus, biasanya dua minggu sekali datang, untuk mengecek laporan-laporan. Atau segala sesuatu yang berhubungan dengan operasional  KSP -nya yang mulai tumbuh dengan pesat berkat kerja keras Sofian dan teman-temannya. Bahkan dalam satu bulan KSP itu bisa menghasilkan profit yang sangat lumayan. Walaupun yang pinjam  uang di KSP ini biasanya ‘orang kecil’ seperti, pedagang di pasar atau di rumah, mereka yang ingin membuka usaha warung makan, atau menyediakan kamar kost bagi para pekerja tambang yang mulai menggeliat di Kalimantan Selatan. Dengan sistem pembayaran harian, mingguan, atau bulanan sangat dibutuhkan rakyat kecil, yang tidak mau dan tidak tahu cara berurusan dengan bank konvensional yang dirasa sangat ribet aturannya. Apalagi dengan sistem menjemput bola, para karyawan mendatangi dan menawarkan langsung kepada mereka, dengan prosedur yang mudah, KSP ini sangat diminati masyarakat kecil. Masyarakat kecil kadang tidak mempermasalahkan bunga KSP yang kalau dipikir-pikir sangat ‘mencekik leher’ tak ubahnya dengan rentenir illegal. Hal itulah yang menyebabkan KSP bisa tumbuh dengan subur di masyarakat kalangan menengah ke bawah.
KSP ‘ Damai’ milik Haji Damang ini bukan hanya merajai kota-kota di Jawa namun sudah menyusup ke daerah-daerah pelosok di Kalimantan Selatan. Sehingga Haji Damang mempunyai karyawan yang jumlahnya bisa mencapai limaratusan, sedang yang ada di Kalimantan Selatan sendiri ada duaratus orang lebih. Dan rata-rata mereka berasal dari Jawa juga.
“ Oke..Bos! tapi sabar sedikitlah, kan perjalanan Tanjung- Banjarmasin kurang lebih 6 jam Boss “ Jawab Sofian singkat sambil bersiap-siap melaksanan  berangkat ke Banjarmasin.
Sofian yang biasa mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi sampai di Bandara Banjarbaru jam 7 lebih sedikit.
“ Maaf ..Boss..nunggu agak lama, Boss mendadak sih…”
“ Gak apa-apa, kamu saya antar di Mess ya …mobil saya bawa “
“ Oke Boss “ , tanpa banyak bertanya Sofian mengiyakan kemauan bossnya.
Yang agak membuat Sofian agak risih ternyata Haji Damang tidak sendirian di Bandara, dia ditemani wanita paruh baya yang Sofian tahu itu bukan istri Boss. Tapi seorang wanita Banjar, entah siapa Sofian malah berpikir. ‘ Ah…itu bukan urusan saya..’ begitu pikir Sofian.
Tetapi sesama laki-laki tahulah, apa maksud bosnya itu. Kalau biasanya Haji Damang ke Kalimantan dua minggu sekali hanya beberapa hari saja, sekarang lebih sering datang karena ternyata Haji Damang ada wanita simpanan di Kalimantan. Seorang wanita berusia 30 tahunan yang dandanannya agak norak, begitulah, khas acil-acil yang suka menggoda pria-pria berduit. Apalagi Haji Damang tidak pernah datang bersama istrinya, bagaimana tidak menarik perhatian acil-acil pemburu harta itu.
“ Tinggal dimana Cil ?” iseng Sofian bertanya pada wanita yang sering bersama bossnya itu, ketika mengantar boss Damang ke bandara untuk pulang ke Jawa.
“ Sini aja..di Banjar..”
“ Oh..asal dari daerah mana Cil..?”
“ Ulun dari Kandangan ae.” Acil itu menyebut suatu tempat di daearah Hulu Sungai Utara Kalsel.
“ Oh...dapat apa Pian dari Boss “
“ Ada..ae..”
“ Ha..ha..ha..kasianlah istri Boss kalau tahu..”
“ Boss…butuh ulun, dan ulun jua butuh boss”
Sofian hanya dapat tugas mengantar Acil itu pulang, sekalian Sofian balik ke Tanjung yang sejurusan juga.
Sofian mulai gak enak saja ketika bossnya sekarang sering berkunjung, sehingga aktifitasnya agak terganggu, selain itu bossnya juga lebih teliti mengecek keuangan kantor-kantor cabang di Kalimantan Selatan.
Ketika Haji Damang mengetahui Sofian sekeluarga menyewa rumah hanya sebagian belakang saja. Maka Haji Damang langsung menyuruh mencari kontrakan rumah yang bagus dan agak besar.
“ Gimana sih kamu Sofian, malu-maluin saya ! mosok orang pertamaku di sini nempati rumah seperti ini.”
“ Cari yang murah Boss, karena kami masih mempunyai tanggungan di Kudus “
“ Segera cari rumah ya…selesaikan tanggunganmu di Kudus, biar kamu bisa lebih focus bekerja”
“ Oke Boss..terima kasih. “ jawab Sofian ketika menerima sebuat amplop berisi uang.
“ Pergunakan cari rumah yang bagus  ya…”

Sofian, Imoeng dan anak-anaknya sekarang menempati rumah yang lumayan bagus, ditambah beberapa faslitas yang dibelikan Haji Damang.
Satu tahun sudah Imoeng berada di Kalimantan. Imoeng ingin segera ke Kudus untuk mengambil anak keduanya Dwi, yang masih ada di Kudus, sambil memberesi hutang-hutangnya. Walaupun setiap bulan Imoeng mengirim uang untuk menyicil hutang-hutangnya, tapi dia tidak tahu jumlahnya yang pasti,  kurang berapa bila akan dilunasi semua.
“ Pak..nitip Ais sama Ayuk…minggu depan aku akan ke Kudus ya..”
“ Perlu saya antar kah Buk..”
“ Tak usah Pak..nitip anak-anak saja, besok belikan tiket kapal ya”
“ Oke! beres Buk” Jawab Sofian sambil menggoda Imoeng.
“ Gak mau aku antar mau ketemuan sama siapa nih…di Kudus “
“ Walah Pak-Pak..gak usah pakai curiga-curiga gitu lah, pokoknya yang penting aku akan membawa Dwi dan membereskan hutang-hutangku, biar beres semua dan bisa kosentrasi untuk mencari nafkah di sini “
“ Oke..wis..siip..” Jawab Sofian enteng.
 Seminggu kemuadian Imoeng sudah sampai di Kudus, menuju rumah adiknya yang dititipi uang tiap bulan untuk memberesi hutang-hutangnya yang tinggal tak seberapa. Namun yang lebih penting Imoeng akan mencari anaknya Dwi yang ternyata tidak pernah pulang ke tempat adik Imoeng yang biasa disinggahi.
“ Apa Dwi gak pernah pulang kemari ya?” , Tanya Imoeng pada adiknya Arsi yang biasa dititipi segala sesuatunya sejak Imoeng pergi ke Kalimantan.
“ Gak pernah Mbak, aku cari-cari juga tak pernah ketemu.”
“ Iya sudah setelah aku ketemu Mak Keti rentenir itu dan memberesi hutang-hutangku, aku akan mencari Dwi dulu, dia harus ikut ke Kalimantan, akan jadi apa kalau dia dibiarkan di sini.”
Mendengar Imoeng ada di Kudus Mak Keti segera  menemui Imoeng di rumah adiknya.
“ Ini catatan hutangmu Mbak…masih kurang membayar 30x  kira-kira 10 juta lah, “
“ Apa…memang berapa utangku,aku sudah bayar berapa, kok bukannya berkurang tapi malah bertambah dari jumlah uang yang aku pinjam .”
“ Ini catatannya !.”
Imoeng lalu melihat buku catatan yang dibawa Mak Keti.
“ Kenapa bunganya semakin banyak begini..”
“ Pokoknya kalau mau beres ya, sudah bayar semua ini, biar tidak berbunga lagi,”
Jelas Mak Keti itu membuat Imoeng marah tak bisa menahan diri.
“ Lihat catatannya, harusnya hutangku sudah lunas dari kemarin kenapa jadi bunga berbunga seperti ini…”
“ Ya..sudah bayar aja semua kalau tidak mau kena bunga berbunga lagi..”
“ Iya..itu namanya mencekik orang, tidak boleh seperti itu..”
“ Tapi hutang sama saya aturannya begitu mbak..”
“ Gak bisa, apa kita panggil polisi saja untuk menghitungnya, kamu bisa kena perkara loh kalau mencekik orang seperti ini..”
“ Jangan Mbak…jangan panggil polisi, ya..sudah bayar separonya aja ya,”
“ Enak aja gak bisa…harusnya uangku malah lebih itu hitungannya.”
“ Ya sudah..pokoknya aku ditambahi berapa saja, jangan panggil polisi”
“ Gak bisa kalau mau minta tambah aku tetap panggil polisi,” gertak Imoeng pada Mak Keti.
“ Ya… sudah aku pulang saja” ujar Mak Keti sambil berjalan keluar. Di luar Mak Keti terdengar masih menggomel tapi dibiarkan saja oleh Imoeng.

Beres urusan hutangnya, Imoeng mencari anaknya Dwi, dengan mendatangi teman-teman Dwi, yang sekiranya tahu keberadaan Dwi sekarang.
Menurut beberapa orang Dwi sering membantu disebuah bengkel Radiator di sebuah perempatan jalan. Namun pemilik bengkel mengatakan sudah sebulan Dwi tidak pernah lagi datang ke bengkelnya.
“ Sudah sebulan Dwi tidak pernah kesini lagi Bu, coba cari di rumah Mamat belakang pasar Bu..”
Imoeng pun segera meluncur ke tempat yang ditunjuk oleh pemilik bengkel tersebut.
“ Dwi tidak disini Bu…coba cari ke rumah Karmin “ jelas teman Dwi itu sambil menjelaskan di mana rumah Karmin.
Ketika akhirnya Imoeng menemukan rumah Karmin, orang yang bersangkutan juga tak mengetahui keberadaan Dwi sekarang.
Sampai malam tiba Imoeng belum menemukan keberadaan anaknya. Tetapi dia tak mau menyerah, esok paginya Imoeng kembali mencari keberadaan Dwi dengan bertanya kesana kemari sekiranya tahu keberaan Dwi.
Ketika naik angkutan umum, Imoeng bercerita kepada sesama penumpang kalau dia sedang mencari keberaan anaknya, Dwi.
“ Anaknya kurus, agak tinggi, berambut lurus, ada tahi lalat di dagunya, nama Dwi coba Mas Mbak kalau ada yang pernah melihat anak saya ini “
Tiba-tiba sopir angkutan yang dinaikinya setelah melihat foto Dwi yang diperlihatkan oleh Imoeng, berkata.
“ Namanya siapa Buk! kok seperti wajah kernet saya yang baru seminggu ini ikut saya, tapi sekarang anaknya gak masuk makanya saya sendirian tidak berkernet hari ini “
“ Namanya Dwi, Mas…coba perhatikan foto ini, apa benar ini wajah kernetmu yang gak masuk hari ini,”
“ Iya …betul  Buk, sekarang anaknya sedang gak enak badan di rumah Gareng, Bu..”
“ Rumahnya mana Mas, tolong antarkan saya sekarang nanti ongkos  saya benar penuh, yang penting anak saya ketemu, Mas…”
“ Oke..Bu saya antar sekarang “
Tiba di rumah Gareng, Imoeng mendapati anaknya sedang berbaring lemah di atas tikar yang digelar di teras rumah Gareng.
“ Dwi ! bangun Nak..ayo ikut Ibuk ya..” kata Imoeng sambil duduk di sebelah anaknya yang masih berbaring.
“ Badanmu panas, kita ke dokter dulu ya…”
‘ Tapi Dwi gak mau ikut ke Kalimantan Bu..”
“ Sudahlah, yang penting kita pergi berobat dulu sekarang”.
Betapa sedihnya hati seorang ibu mendapati anaknya hidup seperti seorang gelandangan, dengan menahan sakit dan demam sendiri. Hatinya terasa tercabik-cabik mendapati kenyataan ini, bagaimana pun Dwi anak yang kurang mendapat perhatian sejak kecil, dan juga sama sekali tidak mendapat kasih sayang bapaknya. Karena tiga bulan setelah melahirkan Dwi dulu, Imoeng resmi bercerai dengan suami pertamanya. Setelah itu mantan suaminya tidak pernah lagi menenggok anaknya, sampai Dwi besar seperti ini Dwi belum pernah melihat wajah bapaknya.
Sekarang yang penting Dwi harus sembuh dulu, setelah itu Imoeng harus bisa merayu  agar mau ikut ke Kalimantan, karena di sana banyak rencana, agar Dwi bisa mempunyai masa depan yang baik. Di Kalimantan akan banyak  asa yang bisa dibangun agar Imoeng dan anak-anaknya tidak lagi mengalami hidup sengasara lagi.



b e r s a m b u n g

Baca juga

Tentang Rumah yang Kesepian

    Sudah berbulan-bulan sepi sekali disini , hanya seorang lelaki kurus yang setiap hari menyapu lantaiku. Dinding-dinding yang terbuat...