31 Oct 2018

Mendulang Asa Ke Bumi Borneo 12


Sementara Haji Damang masih menunggu di Banjarbaru sampai kasus ini selesai, dan Sofian langsung pulang ke Tabalong, karena rencananya besok dia sekeluarga, akan pindahan rumah dengan menempati dua kamar yang sudah selesai dibangun, dan 1  ruangan untuk berjualan di bagian depan rumah juga sudah jadi.
Di rumah Imoeng sudah menyiapkan ubo rampe untuk pindahan. Dibantu oleh mertua  dan tetangga barang-barang sudah di pindah ke rumah yang baru. Semua dagangan Imoeng juga sudah ditata rapi di ruangan yang disiapkan sebagai toko. Hanya tinggal peralatan tidur, dan beberapa alat dapur yang akan dibawa saat prosesi pindahan nanti.
 Dengan berjalan kaki mereka ramai-ramai mengusung barang-barang yang menjadi simbol kepindahan. Yang paling depan membawa lampu teplok dan sapu lidi sebagai simbol untuk penerangan kehidupan yang datang, dan sapu lidi sebagai simbol membersihkan dulu area atau rumah yang akan ditempati dari semua gangguan dan hal-hal yang tidak baik. Sehingga rumah dan juga pemilik rumah mempunyai hati bersih, berlapang dada , lancar rejeki dan jauh dari gangguan apapun.
“Assalamu’alaikum….wahai semua penghuni rumah ini baik yang kelihatan maupun tidak kelihatan, permisi kami handak menempati rumah ini, jangan ganggu kami, mari kita hidup pada alam kita masing-masing “ Demikian kata sesepuh yang menjadi pembuka pintu di rumah baru.
Setelah semua masuk dan duduk dilanjutkan dengan acara pemotongan tumpeng dan dan  pembacaan doa yang dipimpin sesorang sesepuh agama di kampung itu.
Permohonan perlindungan dan harapan setelah menempati rumah baru,  agar dilancarkan urusannya , rejekinya dan juga  agar dapat  hidup rukun, damai bahagia, dan sehat sentausa.
Tamu-tamu juga banyak yang berdatangan untuk memberi ucapan selamat dan mengikuti acara doa bersama yang di pimpin oleh seorang Sesepuh agama. Sampai jauh tengah malam para laki-laki melekan dengan tidak tidur semalaman, dan diisi dengan ngaji membaca Al-Quran, sholawatan dan  dilanjutkan dengan membaca  Burdah semalaman.
Ayuk dan Ais tetap tidur karena besok pagi harus sekolah seperti biasanya. Walaupun di rumah orang masih sibuk, Sofian dan Imoeng tetap memperhatikan keperluan anaknya, agar tidak ketinggalan di sekolah.
Setelah tinggal di rumahnya sendiri, hati Imoeng dan Sofian menjadi lebih tenang, pesanan dari konsumen Imoeng juga semakin banyak. Bahkan sekarang usaha telor asinnya beromzet lebih banyak. Kalau dulu hanya mengirim ke toko-toko 3 hari sekali sekarang hampir tiap hari tersedia telur asin siap didistribusikan. . Tetangga yang menjadi karyawannya juga semakin banyak. Imoeng perlu membeli mobil pick up untuk mendistribusikan telur asinnya ke berbagai daerah.
Sofian sudah mulai mempersiapan ijin usaha untuk KSP di Samarinda, sehingga harus bolak-balik ke Samarinda. Segala persiapan sudah dilakukan untuk segera membentuk kelompok Anggota Koperasi. Sofian sudah menyewa sebuah rumah yang akan dipakai sebagai kantor dan juga tempat tinggalnya bisa sedang berada di Samarinda.
Adik Sofian yang baru lulus SMA juga sudah datang turut membantu Sofian merintis usaha KSP. Demikian juga Eko anak pertama Imoeng, sudah mengajukan pengunduran diri dari KSP Damai milik Haji Damang, dan berpindah membantu Sofian di KSP nya yang baru. Sofian juga merekrut warga setempat untuk dijadikan karyawannya.
Setelah segala perijinan dan persyaratan untuk mendirikan KSP sudah dilaluinya, Sofian segera menjalankan usahanya. Untuk itu Sofian bahkan perlu terjun sendiri ke lapangan untuk memantau sendiri kegiatan para karyawannya. Peresmian KSP Eka Karya dilakukan dengan sederhana, cukup doa bersama dan potong tumpeng para karyawan dan tetangga dekat kantor saja.
Baru sebulan berjalan KSP Eka Karya sudah menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang sangat signifikan, dengan tenaga-tenaga pemasaran yang sudah berpengalaman dan belajar dari kekurangan yang dimiliki Haji Damang, KSP Eka Karya melaju dengan cepat. Banyak sekali nasabah yang berhasil digandengnya. Nasabah KSP Eka Karya terdiri dari para pedagang pasar, ibu-ibu rumah tangga yang ingin membuka usaha di rumah, seperti berjualan di rumah , membuka usaha catering, usaha laundry, kost-kosan dan lain sebagainya. Samarinda menjadi kota pertama yang disasar Sofian untuk mendirikan KSP Eka Karya ini. Karena Samarinda selain menjadi ibukota propinsi juga mejadi kota yang sedang tumbuh pesat di Kalimatan Timur. Seiring dengan pertumbuhan pertambangan batubara  dan pertambangan lainnya yang membutuhkan banyak karyawan dari berbagai daerah untuk tinggal disini.
Sambil mengawasi para tukang yang bekerja untuk menyelesaikan pembangunan rumahnya, Imoeng juga menjalankan bisnisnya, pembuatan telur asin yang menjadi andalannya kini sudah dikenal luas sebagai telur asin paling enak dan laris di kota Tabalong. Usaha pengadaan aneka kebutuhannya rumah tangga, mulai meluas konsumennya karena Imoeng melayani baik cash maupun kridit. Sebuah toko serba  ada yang menjual aneka kebutuhan rumah tangga  dan sembako sudah dibuka di ruang depan yang memang telah disiapkan menjadi toko yang lumayan luas, sehingga konsumen merasa lebih nyaman dalam berbelanja.
Tak terasa kesibukan demi kesibukan memadati hari-hari Imoeng dan Sofian. Sehingga kadang kejenuhan mulai timbul, mereka butuh refresing untuk menyegarkan pikiran kembali. Pulang ke Jawa adalah pilihan refresing yang tepat, karena selain bisa refreshing , bisa bertemu keluarga besar, teman-teman sewaktu masih di Kudus, juga seklian bisa membeli barang-barang yang sekiranya laku dijual disana. Mereka hanya berdua, anak-anak sudah ada yang mengewasi di rumah. Sofian pun sambil mencari tambahan karyawan untuk KSP Eka Karya, dari kalangan tetangga  maupun kerabat sendiri yang membutuhkan pekerjaan dan mau untuk hidup di Kalimantan.

b e r s a m b u n g....

30 Oct 2018

Mendulang Asa ke Bumi Borneo 11


Jam 7 pagi Haji Damang dan Sofian sudah berada di Kantor KSP Tanjung, sambil menunggu Mikun datang, Sofian menyerahan Surat Pengunduran Diri pada Haji Damang.
“ Saya ingin masalah segera selesai Bos, agar saya meninggalkan KSP Damai dengan tenang tanpa beban yang mengganjal. Silahkan Bos periksa rekening-rekening saya dan istri , ini saya bawa buku rekening, atau Bos bisa datang ke rumah apa yang kami miliki, karena sejak Imoeng datang kemari usahanya semakin lancar, jadi kami bisa memebeli sebidang tanah dan membangun rumah seperti sekarang ini, juga berkat bantuan Bos Damang secara langsung “ kata Sofian pada Bosnya.
“ Iya ..Mas, saya tahu saya tak akan menuduh Mas Sofian macam-macam, makanya saya tantang Mikun agar dia berani mempertanggung-jawabkan ucapannya kemarin, ditambah biar hal yang tidak jujur jangan diulangi lagi, apalagi kita bergerak di bidang keuangan, kalau tidak jujur lambat laun bisa menggerogoti usaha ini.” Jawab Haji Damang menyakinkan.
“ Iya..Bos, Bos harus hati-hati mempunyai karyawan seperti itu, saya juga merasaka kecolongan punya anak buah seperti itu tidak mengetahui dari dulu “ jelas Sofian.
“ Kita tunggu saja, kalau sampai jam 8 Mikun tidak datang , berarti dia mempunyai itikat yang tidak baik, aku akan segera memecatnya “.
“ Iya..jangan-jangan Mikun sudah pulang ke Balangan dan siap-siap melarikan diri “
“ Betul Mas, aku telpon Sriono saja, apa Mikun sudah sampai di sana, biar dia yang mencegah Mikun untuk melarikan diri. Biar Sriono juga mengamankan uang KSP Balangan yang selama ini dibawa Mikun juga,” kata Haji Damang, sambil menggambil hp yang ada di dalam saku bajunya dan langsung menelpon Mikun.
Berkali-kali bunyi dering meamanggil tetapi Mikun tidak mau mengangkatnya juga, padahal dia tahu kalau itu yang menelpon adalah Bosnya.
Mikun memang sedang dalam perjalanan menuju ke Banjar untuk segera pulang ke Jawa.
“ Buat apa aku meneruskan bekerja di sini kalau sepertinya Haji Damang lebih memihak pada Sofian dari pada percaya pada aku “ Pikir Mikun.
Setelah acara Pertemuan kemarin, Mikun langsung pulang ke Balangan dan mengemasi semua pakaiannya, pagi-pagi sekali dia menemui Nasabah yang janji akan menemuinya. Nasabah itu rupanya mau melunasi cicilannya yang masih tersisa 10 bulan di KSP Damai dan mengambil kridit baru yang lebih besar.
Uang cicilan 10 bulan dari nasabah diambil oleh Mikun, selanjutnya Mikun meluncur menuju Ke Banjarbaru ke Bandara Samsudin Noor, untuk pulang ke Jawa. Kalau perlu dia akan bersembunyi dulu di rumah saudaranya di suatu desa di lereng gunung Muria.
Setelah mendapat penjelasan dari Haji Damang, Sriono segera menyusul ke KSP Damai Balangan yang letaknya bersebelahan dengan rumah yang ditempati Mikun.
Menurut keterang Acil yang tinggal di rumah sebelahnya, Pak Mikun sudah pergi pagi-pagi tadi, entah kemana Acil itu tidak tahu.
Perasaan Sriono semakin tidak enak ketika di kantor KSP sudah ada nasabah yang kemarin hendak ditemuinya.
“ Pak tadi ulun sudah membayar semua cicilan pada Pak Mikun, katanya sekarang saya boleh mengambil kridit baru lagi, ulun lagi butuh dana yang lumayan banyak buat usaha baru nii.. ,”
Belum sembat ditanya nasabah itu sudah menceriterakan apa yang dikawatirkannya.
“ Maaf Pak, kapan bapak membayarkan semua cicilan pada Pak Mikun?” Tanya Sriono pada nasabah dengan nada cemas.
“ Baru pagi tadi Pak ae, Pak Mikun sendiri yang datang ke rumah ulun “
“ Maaf, Pak.  Sekarang Pak Mikun gak ada di tempat, saya sedang mencarinya sekarang “
“ Terus bagaimana..ulun, Pak ae..?”
“ Tunggulah, Bapak silakan pulang dulu, kami akan menyelesaikan masalah dengan Pak Mikun dulu ya..” jelas Sriono pada nasabah itu.
Setelah nasabah itu pulang, Sriono segera menelpon Haji Damang untuk mengabarkan yang telah terjadi dan langkah apa yang harus dilakukannya.
“ Bos ternyata kekawatiran kita benar terjadi, Pak Mikun sudah pergi dan pagi-pagi tadi dia ke rumah nasabah untuk mengambil uang pelunasan cicilan 10 bulan, karena rencananya  si nasabah hendak mengambil kridit baru lagi, baru saja dia kesini dan menanyakannya pada saya, tapi sudah saya suruh untuk pulang dulu
“ Baik Pak, saya akan segera menghubungi petugas keamanan bandara, agar mengamankan Pak Mikun sebelum dia bisa lari dari sini, “ jawab Bos Damang.
Haji Damang segera menghubungi petugas bandara yang menjadi temannya, untuk kemudian minta bantuan untuk mengamankan pak Mikun bila sudah masuk ke Bandara.
Haji Damang dengan didampingi oleh Sofian segera, mengejar Mikun dengan mengendari mobil yang cukup kencang. Tujuannya langsung ke bandara Samsudin Noor, karena  HajiDamang yakin kalau Mikun pasti menuju kesana untuk kemudian pulang ke Jawa.
Sriono dan nasabah yang telah membayarkan uang pelunasan cicilan juga bergerak menuju ke Banjar, untuk menjadi saksi kalau nanti kasus ini ditangani oleh pihak Kepolisian Bandara.
Mikun dengan mengendarai sepeda motor melaju dengan kencang, karena tidak ingin ketinggalan penerbangan ke Semarang untuk hari itu, pada jam 13.40 siang. Dia rupanya tidak memperhitungkan kalau perbuatannya bisa diketahui Bos Damang lebih cepat, sehingga saat ini dia sudah menjadi buronan.
Sampai ke Bandara Mikun langsung menuju loket sebuah Maskapai penerbangan untuk membeli tiket pesawat untuk penerbangan siang itu juga. Ternyata di loket, tiket yang dicari sudah habis, tak lama kemudian Mikun didekati oleh seorang calo tiket, yang menawarkan tiket ke Semarang untuk penerbangan hari itu dengan harga yang lebih mahal.  Buat Mikun berapun harga tiket itu tidak menjadi soal yang penting bisa selamat sampai di Jawa dulu.
Baru selesai transaksi dengan seorang calo, Mikun didekati oleh 2 orang petugas keamanan Bandara. Mikun mengira petugas kepolisian itu mendekatinya karena telah membeli tiket lewat calo. Mikun diminta untuk masuk ke kantor keamanan bandara.
“ Maaf Pak, tolong saya lihat KTP nya “
Mikun segera mengeluarkan KTP tanpa prasangka apapun.
“ Benar Pak Mikun ya.., saya harap bapak disini dulu sambil menunggu petugas kepolisian datang beserta Pak Damang. 
Mikun segera deg, ‘ kenapa Bos Damang menyusulnya kemari, apa dia sudah tahu kalau saya membawa uang nasabah ya, ‘ pikir Mikun.
Mikun ingin segera bisa melarikan diri keluar dari ruangan itu, dengan mengalihkan perhatian petugas keamanan itu, Namun sayang rupanya pintu kantor keamanan itu telah dikunci.
Tak lama kemudian Haji Damang, Sofian disertai dua petugas kepolisian datang masuk ke kantor keamanan Bandara.
“ Pak Mikun..maumu apa..?” Haji Damang langsung menyapa Mikun dengan nada tinggi.
“ Anu..pak…anu…saya mau pulang, karena istri saya telpon kalau si bungsu sakit, saya disuruh pulang “ kata Mikun ngeles.
“ Sudah Pak tak usah berbelit-belit, kamu akan segera dibawa ke kantor polisi, nunggu Pak Sriono yang akan segera datang beserta nasabah ang telah menyerahkan uangnya pada kamu ,”
“ Ampun ..Bos, saya hanya akan pinjam saja uang itu…besok saya kembalikan kalau anak saya sudah sembuh “ kata Mikun yang masih berusaha berkelit.
Tak lama kemudian Sriono dan nasabah yang dimaksud sudah datang masuk ke ruangan itu. Mikun sudah tak bisa apa-apa setelah salah seorang polisi membentaknya.
Mikun segera digelendeng ke kantor Polsek dekat Bandara. Dengan menggnakan mobil polisi.
Mikun akhirnya menyelesaikan masalahnya dengan Polisi karena Haji Damang sudah menyerahkan sepenuhnya atas kasusnya pada pihak Kepolisian.

b e r s a m b u n g....

Baca juga

Tentang Rumah yang Kesepian

    Sudah berbulan-bulan sepi sekali disini , hanya seorang lelaki kurus yang setiap hari menyapu lantaiku. Dinding-dinding yang terbuat...