16 Sept 2019

Bendungan Logung dan The Hill Vaganza, Wisata Alam Trend Kudus




Lebaran telah usai, meski undangan halal bi halal dan reunian masih aja yang datang. Namun kesibukan sudah agak berkurang.  Saatnya nulis lagi..setelah rehat dari menulis #samberthr selama 33 hari. Jangan kelamaan rehat nulis ntar lupa lagi cara bagi waktu agar bisa nulis tiap hari lagi.
Oke! Saat ini aku hanya ingin mengisahkan lebaran yang kini telah berlalu, namun kenangan tetap saja ingin bertemu…(ciee)
Kami memang tidak mudik saat lebaran, karena kami sudah tinggal di kampung halaman jadi banyak sanak keluarga yang tinggal di kota yang sama. Justru mereka yang tinggal di luar Kudus lah yang mudik kali ini.
Ada ponakan yang mudik dari Batam ada kakak yang mudik dari Jakarta. Tentunya selain bersilaturahmi selama mudik di Kudus, mereka juga ingin menikmati destinasi wisata baru yang akhir-akhir ini riwa-riwi di FB dan IG mereka, karena gencarnya nitizen Kudus memamerkannya.
Lebaran ke 3 setelah acara Halal bi Halal keluarga besar dan mendatangi makam keluarga yang cukup lama tidak berziarah kesana sebab letak makam yang lumayan agak jauh di sebuah bukit di wilayah Gebog. Ternyata disana ada makam keluarga yang cukup luas dan masih banyak yang belum terisi ( oh nooo.. ). Makam dari keluarga besar suami yang konon kakeknya beristri 4 dan letak makamnya juga berjejer. Semoga selain akur di dunia mereka akur juga di alam sana.

Bendungan Logung Kudus


Selesai berziarah kami melanjutkan berwisata ke Bendungan Logung yang menjadi bendungan satu-satunya di kota Kudus, yang belum lama ini diresmikan oleh bupati Kudus Bapak M Tamzil.
Berbekal  Google Map kami terus melaju dari Gebog, melewati Kecamatan Dawe dan akhirnya sampai di kecamatan Jekulo desa  Tanjungrejo tempat bendungan Logung berada. Namun ternyata kami kecele karena pintu gerbang besar  tidak diperuntukkan untuk umum. Sama mas yang jaga kita diminta balik lagi lewat jalan sempit dengan kanan-kiri kebun kencur dan ketela untuk sampai tepian bendungan Logung yang dipakai untuk wisata. Mengikuti petunjuk yang ada akhirnya kita sampai di sebuah lapangan yang digunakan untuk area parkir mobil. Disana sudah berjajar aneka warna jip untuk yang mau offroad mengelilingi lapangan menuju ke waduk Logung.
Kami ditawari naik ojek motor menuju ke bendungan dengan tarif Rp 3.000,- saja, masnya bilang kalau jalan kaki jauh. Ya sudah naik ojek aja kita menuju Logung, gak tahunya hanya berjarak sekitar 150 meter saja dari area parkir, melewati jalan yang terjal dan berbatu. Jadi lebih enak jalan kaki daripada naik motor sih, tapi tak apalah sambil uji ketangkasan bermotor aja sekalian….

Sampai juga di tepian bendungan Logung. di dekat sana juga ada beberapa yang menyediakan area parkir motor, jadi kalau bawa motor sendiri bisa nih parkirnya di dekat sini saja. Ada juga beberapa warung, penjual minuman, kopi dan es. Jadi jangan takut haus disana ada penjual minuman dan makanan ringan juga kok..
Di tepian waduk Logung disediakan tenda  dengan kursi-kursi bagi yang hendak naik perahu. Beberapa perahu yang sudah dilengkapi jaket pelampung untuk keamanan juga sudah siap menunggu calon penumpang. Tarif naik perahu adalah Rp 15.000,- untuk dewasa dan Rp 10.000 untuk anak-anak, penumpang akan dibawa keliling waduk Logung sampai di Sungai Tempur Songo selama 30 menit. Lumayan lah buat warga Kudus, yang jauh dari laut untuk sekedar menikmati sensasi naik perahu.
Usai menikmati sensasi naik perahu di waduk Logung, kami kembali ke area parkir mobil dengan jalan kaki, karena ternyata dekat saja tak perlu naik ojek.
Bendungan Logung yang dibangun sejak tahun 2014 dengan nilai kontrak Rp 620 miliar dikerjakan oleh PT Wijaya Karya dan Nindya Karya, dengan tinggi bendungan 55 meter dan panjang 350 meter dan mampu menampung air 20,15 juta meter kubik. Bendungan Logung diharapkan bisa memenuhi kebutuhan air irigasi lahan seluas 5.296 hektare sawah di Kabupaten Kudus. Bendungan Logung mulai diisi air pada tanggal 18 Desember 2018

Selain untuk keperluan irigasi dan penampungan air saat musim hujan, bendungan Logung juga dikembangkan menjadi objek wisata namun saat ini yang ada baru wisata naik perahu saja. Walau sebenarnya pemandangan waduk Logung sangat indah namun kita belum bisa menikmati secara keseluruhan.

The Hill Vagansa


Hari berikutnya kami ingin mencoba destinasi wisata yang tergolong baru di kota Kudus, yaitu The Hill Vaganza yang terletak di desa Kajar, Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus. The Hill Vaganza yang baru dibuka pada tanggal 16 Juni 2018 berjarak 13 KM dari pusat kota Kudus, merupakan Bukit Wisata dan Resto di kawasan lereng Muria. Mudah untuk mendapati tempat wisata ini karena terletak di pinggir jalan utama menuju makam Sunan Muria. Bisa di capai dengan motor, mobil maupun angkutan umum ke Colo- Muria.

Tiket masuk The Hill Vaganza Rp. 20.000,- per orang, bisa pakir motor atau mobil gratis. Tempat luas, dari yang tinggi di atas bukit sampai yang rendah masuk ke lembah dengan hawa khas pegunungan menjadi daya tarik tersendiri untuk pengunjung The Hill Vaganza. Penataan Gazebo , kursi-kursi, taman dan banyak spot berfoto yang menarik dari atas sampai bawah membuat kita betah berlama-lama disini. Namun sayang bila siang hari terik matahari sangat terasa, karena kurangnya pohon besar yang mungkin sudah banyak dipotong diganti dengan pohon plastik sekedar untuk mengejar keindahan warna yang tampat di photo.
Masuk di area The Hill Vaganza kita dibuat serasa berada di luar negeri, dengan tatanan payung warna-warni, rumah hobbit, balon udara, spot love, bunga-bunga , jembatan kayu, serta spot jembatan ala-ala Jepang dengan bunga sakuranya serta penyewaan baju ala kimono Jepang membuat warga Kudus dan sekitarnya penasaran untuk berkunjung kesini. Apa lagi buat para penggiat foto selfie, pasti akan termanjakan dengan area ini. Serasa di luar negeri, men….(entah luar negerinya yang sebelah nama hahaha..)
Karena daku datang pas masih dalam suasana libur lebaran jadi suasananya ramai banget, sampai-sampai pengelola menyediakan 2 lahan parkir di luar area untuk mengatasi pengunjung yang membludak saat hari libur seperti ini. Tak perlu kawatir karena pengelola juga menyediakan mushola, tempat sholat dan juga beberapa toilet, namun sayang saat ramai begini tenaga kebersihannya kurang jadi kurang bisa menjaga kebersihan fasiltas yang disediakan.

Untuk Restonya, saat itu kami pesan Nasi, ayam bakar, capjay, mie goreng, nasi goreng , sebenarnya kurang dalam hal rasa dan penyajiannya masih kurang. Bahkan kelapa muda yang kami pesan dengan harga 19.000 serasa makan kelapa untuk dimasak.
Maaf saja ya…kalau aku jujur… agar pihak pengelola membenahi lagi pelayanan resto bukan hanya mengejar target perluasan area saja.

Semoga kedepannya pihak pengelola The Hill Vaganza mau berbenah diri karena sekarang masih sibuk proyek pengerjaan lahan wisata. Sehingga bisa menjadi destinasi wisata andalan di kota Kudus, bukan hanya ramai di awal saja.
Karena waktu sudah menjelang sore kami segera pulang untuk beristirahat, dan melanjutkan acara silaturahmi ke saudara-saudara yang belum sempat kami kunjungi lainnya.
Semoga bermanfaat buat yang mau berlibur di kota Kudus. Masih banyak destinasi wisata lainnya, yang sebagian sudah pernah daku tulis dan beberapa diantaranya masih belum sempat daku kunjungi dan daku tulis.
Sampai jumpai di cerita tentang kota Kudus lagi ya…

Berkunjung ke Ex Pulau Muria




Menurut berbagai sumber dulu Kudus yang terletak di semenanjung Pulau Muria merupakan pulau tersendiri yang terpisah dari Pulau Jawa. Selat Muria menjadi penghubung antara Pelabuhan Juwana dan Pelabuhan Demak dengan Selat  Tanjung Karang yang membawa kayu dari Gunung Muria untuk pembangunan Masjid Demak. Karena sedimentasi yang terus menerus akhirnya selat Muria hilang menjadi daratan dan Pulau Muria bersatu dengan Pulau Jawa.  Kota di pulau Muria sekarang menjadi Kota Kudus.
Kota Kudus pasti sudah banyak yang kenal dong, selain yang sudah pernah datang ke kota Jenang ini tentu sudah penah mendengar karena pabrik rokoknya.
Kudus adalah kota yang tergolong kota menengah, karena kota seluas 425,15 km persegi ini dihuni oleh 851.48 jiwa atau dengan kepadatan 2002,34 jiwa / km persegi.  Kudus menjadi kota teramai diantara kota-kota lain di sekitarnya. Seperti Demak, Jepara, Pati dan Purwodadi. Banyak pendatang yang ikut memadati dan meramaikan roda ekonomi di kota Kudus ini.
Banyak yang menyebut kalau Kudus sebagai kota wali, karena di Kudus terdapat dua makam wali dari Walisanga lainnya. Yaitu makan Sunan Kudus yang terdapat di wilayah kota dan makam Sunan Muria yang terdapat di Gunung Muria. Oleh sebab itu Kudus terkenal dengan wisata religinya. Kudus juga terkenal sebagai kota santri karena di Kudus banyak sekali  berdiri pondok pesantren sebagai  tempat untuk memperdalam agama Islam.
Bila sedang berkunjung ke Kudus Jangan lupa untuk mengunjungi makam dua wali tersebut yaitu, Sunan Kudus dan Sunan Muria.
Makam Sunan Kudus.
Makam Sunan Kudus terletak di desa  Kauman  atau  dari alun-alun ke arah barat . Di makam Sunan Kudus terdapat Menara Kudus yang terkenal sebagai bentuk toleransi yang diajarkan oleh Sunan Kudus dalam menyebarkan agama Islam di kota Tajug. Tajug adalah nama kota Kudus sebelum pengaruh Islam masuk. Menara Kudus yang menyerupai bangunan candi Hindu/ Budha dibangun pada jaman agama Hindu Budha masih dianut oleh warga Tajug, namun setelah Agama Islam masuk Menara Kudus tetap difungsinkan dan Sunan Kudus membangun Masjid Al- Aqsha Menara Kudus.
Berkunjung ke makam Sunan Kudus jangan lupa menikamti Nasi Jangkrik yang khas Menara Kudus, nasi Jangkrik ini merupakan nasi yang dibungkus dengan daun jati dengan berlaukkan daging kerbau dan tahu.
Museum Jenang
Usai beriarah ke makam Sunan Kudus, kita bisa langsung menuju Museum Jenang yang terletak di Jalan Sunan Muria atau sekitar  700 dari alun-alun Kudus. Museum Jenang ini dibangun oleh perusahaan jenang terbesar di Kudus , yaitu  Jenang Mubarok, yang dulu terkenal dengan  Jenang  Tiga-tiga.. Museum Jenang terletak di lantai dua toko Jenang Mubarok tersebut, jadi selain kita berkunjung ke Museum kita bisa membeli oleh-oleh khas Kudus, yaitu Jenang Kudus.
Museum Kretek
Setelah memborong Jenang Kudus, kita bisa langsung menuju ke Museum Kretek yang terletak si desa Getas Pejaten Kudus. Atau sekitar 2 km dari alun-alun Kudus.
Museum Kretek berdiri di atas tanah seluas 2 hektar, di bagian depan terdapat rumah adat Kudus yang berupa Joglo pencu dari kayu ukir khas Kudus dan juga terdapat surau adat Kudus.
Di dalam  Museum Kretek kita bisa melihat sejarah perkembangan industri rokok kretek di kota Kudus yang dirintis oleh raja kretek pada waktu itu , yaitu Nitisemito sampai berkembangnya industri rokok di Kudus yang saat ini sedang Berjaya, yaitu PT Djarum Kudus.
Usai Mengunjungi Museum Kretek  kita bisa ke arah timur atau kea rah Pati. Menuju ke Meseum Purbakala Patiayam yang terletak di Dukuh Kancilan  Desa Terban  Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus.
Di Museum ini terdapat sekitar 1500 fosil yang ditemukan di pegunungan Patiayam. Yang dulunya ternyata sebuah gunung aktif yang terletak di semenanjung Muria. Pada Museum itu juga terdapat replika hewan Gajah Purba ( Stegodon trigonochepalus ) yang fosilnya ditemukan penduduk Patiayam. Di Museum ini kita mendapat gambaran bahwa dulu kala Muria merupakan pulau tersendiri yang terpisah dari Pulau  Jawa. Disana juga pernah di temukan adanya fosil manusia purba ( Hominid). Keistimewaan dari fosil-fosil yang ditemukan situsnya masih utuh.
Waduk Logung
Wadung Logung merupakan arena pariwisata air terbaru di Kota Kudus. Setelah Waduk Logung diresmikan bulan Noember 2018. Terletak di Desa Tanjungrejo Kecamatan Jekulo Kudus. Kita bisa berwisata naik perahu keliling Logong sampai ke sungai Tempur Sembilan. Dengan tarih 15.000 rupiah selama setengah jam.
Makan Sunan Muria
Esok harinya kita bisa langsung menuju ke Gunung Muria, untuk beriarah ke makam Sunan Muria yang terletak di  Desa Colo Muria Kudus.  Untuk menuju kesana kita bisa naik ojek khusus untuk menuju makam sebesar 15.000 rupiah atau berjalan menaiki tangga sebanyak 499 anak tangga.  Jangan lupa membeli oleh-oleh khas Muria, seperti Jeruk Pamelo, Gedhang Byar, Parijoto dan Kopi Muria.
Air  Terjun Montel
Dari makam Sunan Muria kita bisa langsung menuju Air Terjun Montel yang terletak di sebelah utara Makam Sunan Kudus. Air Terjun Montel mempunyai ketinggian 50 meter. Untuk masuk ke area Air Terjum Montel kita dikenakan tiket 5000 rupiah, disana sudah ada Mushola dan tempat parkir yang cukup luas.
Air  Tiga Rasa Rejenu
Dari Air Terjun Montel kita bisa langsung bergerak ke timur sedikit menuju ke desa Japan , atau 3 km dari Makam Sunan Muria. Disana terdapat 3 sumber mata air dengan rasa yang berbeda-beda , yaitu rasa tawar, yang kedua rasa seperti soda, dan yang ketiga rasa seperti tuak. Masing-masing rasa diyakini mempunyai khasiat sendiri-sendiri bagi yang meyakininya.
The Hill Vaganza
Turun dari Gunung Muria, namun masih ada di kaki gunung Muria kita bisa langsung menuju ke The Hill Vaganza yang terletak di Desa Kajar Kecamatan Dawe Kudus. Selain disediakan aneka menu masakan ala resto kita juga disuguhkan spot –spot foto yang sangat instragamer. Sangat indah dengan pemandangan Gunung, lembah dan bukit yang sudah ditata demikian menarik.
Sebenarnya masih banyak tempat wisata lain yang tak kalah menariknya, namun belum sempat saya kunjungi. Karena pada waktu berkunjung kesana belum jadi desa wisata , yaitu Desa Ternadi dan Desa Rahtawu semuanya terletak di Gunung Muria juga.

Selain wisata religi, wisata alam dan wisata sejarah jangan lupa untuk berwisata kuliner, menikmati makanan khas Kudus. Seperti Sate Kerbau, Pindang Kerbau, Soto Kerbau, Lenthok Tanjung, Garang Asem Ayam Kampung, oleh-oleh Jenang Kudus serta Madumongso khas Kudus.
Mari…berkunjung ke Kota Kudus, yuuk.
Ditunggu ya..

Nasi Pindang Kerbau Khas Kudus




Sudah menjadi adat bagi masyarakat Kudus untuk menyembelih hewan kurban berupa hewan kerbau, bukan sapi seperti daerah-daerah lainnya. Adat kebiasaan ini terjadi sudah sejak jaman Sunan Kudus yang telah menitahkan melarang penyembelihan hewan sapi untuk menghormati masyarakat Kudus yang saat itu masih memeluk agama Hindu /Budha. Dan kenyataannya sampai sekarang di Kudus jarang ada dijual daging sapi, kalaupun ada biasanya penyembelihannya dilakukan di luar Kudus.
Masjid di dekat rumah saya menyembelihnya hewan kerbau juga, dengan satu hewan kerbau untuk 7 orang yang berkurban. Dan tentu kami akan mendapat bagian juga karena telah berkurban juga. Daging kerbau yang melimpah enaknya dibuat makanan khas Kudus juga, yaitu Nasi Pindang Kebau .
Nasi Pindang Kerbau
Bahan :
500 gram daging kerbau sandung lamur.
100 gram daun melinjo
100 ml santan dari 1 butir kelapa
500 gram air kaldu daging
2 lembar daun salam
2 lembar daun jeruk
1 batang serai, geprek
2 sendok makan air asam jawa
Gula, garam, kecap dan kaldu bubuk secukupnya.
Bumbu dihaluskan :
7 siung bawang merah
5 siung bawang putih
4 buah keluak / Kluwek ambil isinya dan rendam dengan sedikit air panas dan hancur isi kluwek dengan ulegan.
2 cm ruas jahe
1,5 sendok makan ketumbar
1 ruas kencur.
Cara Membuat :
Rebus daging hingga empuk dan sisihkan kaldunya. Potong-potong daging sesuai selera. Sisihkan.
Haluskan semua bumbu yang halus dihaluskan.Tumis bumbu halus dengan minyak panas setelah mengeluarkan aroma sedap, masukkan daun salam, lengkuas, dan daun jeruk hingga matang dan harum. Masukkan juga kluwek beserta air rendamannya.
Masukkan potongan daging, tambahkan kaldu rebusan daging masak sampai mendidih. Masukkan santan sambil sesekali diaduk biar santan tidak pecah. Masak teus hingga daging empuk.
Terakhir daun mlinjo, garam, gula dan kaldu bubuk. Cicipi hingga terasa enak, tambahkan sedikit kecap.
Sajikan dengan nasi hangat dan taburan bawang merah goreng. Nasi pindang biasa juga disajikan untuk jamuan saat ada yang punya gawe.
Bagi yang biasa menerima daging kurban berupa daging sapi, ada resep istimewa dari  Sumbawa, yaitu Gecok. Resep ini membuat daging terasa segar .
Resep Gecok
Bahan :
500 gram jerohan / gading sanding lamur
125 gram kelapa parut, sangrai dan tumbuk halus
75 gram wijin, sangrai dan tumbuk halus
750 cc santan dari setengah butir kelapa
6- 7 buah belimbing sayur, iris bulat setengah cm
Setengah sendok teh merica bubuk
4 buah kemiri, sangrai/ goreng haluskan
6 bawang merah sangrai dengan kulitnya, kupas, iris tipis-tipis
2 cm lengkuas, memarkan
4 lembar daun jeruk purut, iris halus untuk taburan.
2 sendok makan bawang goreng untuk taburan.
2-3 jeruk nipis / limau belah ambil airnya, garam menurut selera
Cara Membuat ;
-         Cuci dan potong-potong agak besar daging sanding lamur/ jerohan sapi yang sudah direbus.
-         Rebus bersama kelapa sangrai yang sudah dihaluskan, wijen, santan dan bahan lainnya kecuali, jeruk nipis/ limau, daun jeruk purut dan bawang goreng. Rebus sampai mengental.
-         Hidangkan dengan perasan jeruk nipis / limau dan taburan daun jeruk purut dan bawang goreng.
 Bagi yang mendapatkan bagian daging kambing, ada resep yang mudah dari Jawa Barat, yaitu Karang Binaci.
Resep Karang Binaci
Bahan :
1 kg daging kambing
3 sendok makan minyak untuk menumis
3-4 sendok makan kecap manis
1-2 sendok teh cuka masak
1 liter air
Garam sesuai selera.
Cara membuat :
-Lumuri daging dengan bumbu halus, remas-remas, biarkan selama 10 menit.
-Panaskan minyak goreng, tumis daging sampai berubah warna dan kaku, tuangi air, kecap, garam dan cuka.
-Masak sampai daging matang dan kuah agak mongering. Angkat hidangkan.
Demikian berbagi resep olahan daging kurban yang mulai besok bisa kita nikmati sampai 3 hari ke depan selama hari Tasyrik.
Selamat mencoba, untuk yang sudah berkurban semoga Allah menerima segala kurban yang elah kita berikan sebagai tanda keimanan kita. Amin.


Ajaran Toleransi Dalam Sebungkus Nasi Jangrik




Namanya memang Nasi Jangkrik tapi jangan lantas mengaduk-aduk nasi mencari jangkrik yang mungkin tersembunyi di segenggam nasi berbungkus daun jati ini.
Karena kamu tak akan menemukannya, jadi hilangkan dulu pikiran parno tentang jangkrik yang menempel di namanya.
Nasi Jangkrik biasanya hanya ada di bulan Sura, atau Muharram, tepatnya pada tanggal 10 Muharam saat diadakannya ritual Buka Luwur di makam Sunan Kudus. Acara Bukak Luwur sendiri biasanya dibarengi dengan penjamasan pusaka Kanjeng Sunan Kudus dilanjutkan dengan penggantian luwur atau kelambu yang mengitari makan Kanjeng Sunan Kudus. Setelah itu baru penyembelihan hewan shodakoh yang akan dimasak dalam jumlah yang banyak, dibungkus dengan daun jati dan dibagikan kepada masyarakat yang udah mengantri sejak semalam.
Nikmatnya Nasi Jangkrik ini sekarang bisa dinikmati di sebuah warung dekat dengan Menara Kudus, yang hanya buka pada malam hari.
Nasi Jangkrik berlauk daging kerbau yang berbumbu jangkrik atau bumbu campuran cabe merah, bawang merah, bawang putih, kencur, lengkuas dan santan. Kemudian dimasak selama empat jam lebih, agar bumbu meresap dan daging menjadi empuk.
Lezatnya nasi jangkrik ini bila dimakan dengan nasi yang masih hangat dan berbungkus daun jati yang menambah cita rasa tersendiri nikmatnya.
Sunan Kudus dan Ajaran Toleransinya
Sebungkus nasi jangkrik yang merupakan makanan kesukaan Sunan Kudus dan Kyai Telingsing , yang merupakan dua tokoh ulama yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Kudus.
Nasi jangkrik ini memang khas menggunakan daging kerbau, karena hanya daging kerbau yang banyak beredar di Kudus. Karena pada waktu itu, untuk menghormati pemeluk agama Hindu yang saat itu menjadi agama mayoritas di Kudus.  Sunan Kudus melarang penyembelihan sapi, yang menjadi binatang keramat bagi umat Hindu. Walaupun saat itu Sunan Kudus sedang menyebarkan agama Islam, namun tetap menghargai penduduk yang beragama lain. Tidak ada pemaksaan dalam berdakwah, bahkan dengan menarik simpati agar lambat-laun masyarakat terbuka dan mau memeluk agama Islam.
Sampai saat ini penyembelihan hewan sapi masih jarang dilakukan di kota Kudus, sehingga yang banyak beredar adalah daging kerbau. Walaupun saat ini agama Islam sudah menjadi agama mayoritas di Kudus, namun ajaran Sunan Kudus tentang pelarangan hewan sapi masih ditaati sampai sekarang.
Selain pelarangan penyembelihan hewan sapi oleh Sunan Kudus, bentuk toleransi beragama diwujudkan dengan bentuk bangunan Menara Kudus, yang menyerupai candi, dan ornament masjid Al Aqsho Menara Kudus yang kental nuansa budaya Hindu, Budha, Jawa dan Tiongkok.
Beruntung sekali saya bisa menikmati sebungkus nasi jangkrik yang lezat ini, dan disuguhkan langsung dari Yayasan Menara Kudus di rumah Bapak H EM Nadjib Hassan yang letaknya persis di sebelah Menara Kudus. Tepatnya pada saat selesai berlangsungnya Panggung Penyair Asia Tenggara yang digelar di kaki Menara kudus atau halam depan Menara kudus. Kami beserta para Penyair yang hadir dari berbagai Negara, seperti Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, Thailand dan Indonesia sendiri setelah acara selesai digiring menuju rumah Kyai Nadjib untuk disuguhi nasi Jangkrik, teh hangat dan kacang rebus sambil bercengkerama dengan para penyair kondang. Rasanya nyaman sekali, nikmat nasi Jangkrik telah perpadu dengan suasana yang rileks dan santai.
Kamu pingin menikmati lezat Nasi Jangkrik, datang saja yuuk ke Menara Kudus, tapi harus malam hari ya… Karena Warung Nasi Jangkrik yang ada di sekitar Menara atau tempat di Jalan Sunan Kudus hanya buka malam hari jam 19.00 sampai jam 23.00 saja.
Sampai Jumpaaa…

Takut Terpapar Brand Rokok Siapkah KPAI Mendulang Prestasi Anak




Dengan resmi dihentikannya Audisi Umum Beasisiwa Bulu Tangkis oleh PB Djarum, otomatis tahun ini menjadi tahun terakhir audisi diadakan.  Apakah kita masih bisa tetap optimis dengan dunia perbulutangkisan Indonesia di masa depan. Apakah kita yakin akan tetap bisa mempunyai stok pemain andalan, untuk 5 tahun mendatang.
Bulu Tangkis adalah satu-satunya olah raga andalan penyumbang prestasi Indonesia di kancah dunia. Hanya dengan bulu tangkis nama harum Indonesia bisa berkibar di bidang olah raga, karena bidang oleh raga lainnya sudah pupus terlebih dahulu bahkan ada yang mulai tertatih-tatih. Sementara bulu tangkis telah mendulang prestasi internasional untuk Indonesia tercinta.
Seperti kita ketahui berkibarnya perbulutangkisan di Indonesia tidak bisa lepas dari peran BP Djarum yang telah mengadakan Audisi Umun Beasiswa Bulu Tangkis yang telah berlangsung sejak tahun 2006 . Ratusan anak berprestasi di Indonesia terjaring menjadi pemain yang dididik untuk menjadi juara di bidang bulu tangkis. Sehingga muncul nama Kein Sanjaya Sukamuljo dan Leo Rolly Carnando dll. Tentu mendidik dan menemukan talenta pemain kelas dunia tidak lah mudah, harus dengan disiplin yang tinggi dan juga dukungan dana yang sangat besar.
Seharusnya kita berterima kasih pada BP Djarum yang merupakan salah satu bentuk bakti olah raga dari Djarum Foundation mau menggelontorkan dana yang cukup besar,  untuk mencetak prestasi kelas dunia di bidang perbulutangkisan bukan malah mengobok-obok, dengan berbagai alasan. Seperti yang dilakukan KPAI saat ini.
Naif banget kalau tulisan Djarum Badminton Club dipermasalahkan, karena  tulisan Djarum badminton Club dan Djarum Foundation adalah nama sebuah lembaga, bukan nama sebuah pabrik rokok seperti PT. Djarum. Jadi jelas beda antara Djarum Foundation dan PT. Djarum. Jadi sungguh konyol bila booth Djarum Foundation di area Indonesia Open 2019, dan memakai kaos  bertuliskan Djarum dianggap mengeksploitasi anak.
Seharusnya KPAI  bukan mempermasalahkan nama brand rokok saja untuk melindungi anak-anak terpapar dari rokok.  Namun harusnya diciptakan kebijakan-kebijakan yang melindungi anak-anak dan generasi muda dari rokok. Misalnya dengan tidak menjual rokok secara terang-terangan tanpa adanya batasan usia pembelinya. Melindungi anak-anak agar tidak terpengaruh lingkungan yang bisa membawanya merokok sejak usia dini, entah itu dari teman sepermainan, keluarga maupun grup-grup lainnya. Dan perlu diketahui bahwa anak-anak yang masuk dalam PB Djarum dilarang merokok, bahkan akan dipecat kalau ketahuan merokok.
Kalau KPAI mempersoalkan tulisan Djarum pada Djarum Foundation dan juga kaos bertulisan Djarum, terus terang saya jadi kwatir karena pada kenyataannya Djarum Foundation dengan programnya Bakti Negeri  melalui Bakti Sosial, Bakti Budaya, Bakti Lingkungan, Bakti Pendidikan dan Bakti Olahraga  telah merambah  mendanai berbagai macam bidang yang di dalamnya tentu ada unsur anak-anak. Djarum Bakti  telah memberikan dana untuk pendidikan seperti beasiswa Djarum pada 10820 Mahasiswa di 121 Perguruan Tinggi, dan juga menyulap 18 SMK di Kudus menjadi sekolah yang mempunyai program kejuruan unggulan, seperti Animasi, Pelayaran, Kuliner, Fashion, Tata kecantikan dan lain sebagainya. Dari SMK Lokal Go Global. Dengan meningkatkan kualitas Pengajar dan fasilitas pendukung yang sangat memadai. Sehingga lulusan SMK siap berkompetisi memasuki dunia kerja di berbagai bidang industri.
Bagaimana jika tulisan Djarum juga dipersoalkan pada  label-label yang ada di SMK-SMK tersebut dan Djarum Foundation juga menghentikan gelontoran dananya,  SMK akan kembali tersisih dan lulusannya tidak lagi menarik dunia kerja atau mmengandalkan dana pemerintah yang itu-itu saja.
Belum lagi bidang lainnya, karena di Kudus ada beberapa komunitas sastra dan budaya yang juga menerima fasilitas dari Djarum Foundation, seperti Fasbuk, KPK , Teater Djarum dan sebagainya. Saya sebagai warga Kudus dan ikut berkegiatan sastra yang dibiayai Djarum Foundation jadi ikut prihatin dengan persoalan ini. Apakah KPAI siap mengambil peran Djarum Foundation dalam mendulang prestasi anak bangsa di berbagai bidang.
Semoga antara KPAI, Djarum Foundation dan PBSI mau duduk bersama, mengatasi hal ini. Karena antara KPAI dan PB Djarum pasti punya kepedulian yang sama untuk kemajuan dan prestasi anak-anak Indonesia.

Baca juga

Tentang Rumah yang Kesepian

    Sudah berbulan-bulan sepi sekali disini , hanya seorang lelaki kurus yang setiap hari menyapu lantaiku. Dinding-dinding yang terbuat...