18 Oct 2020

Buruh Mbatil Rokok

Puisi – puisi Sri Subekti Astadi

Puisi : 1

Buruh Mbatil Rokok

 




fajar belum juga menyingsing,

ketika sekelompok wanita perindu matahari berkejaran

melupakan mimpi yang tak berlanjut saat Tahajud

menerabas dingin dengan asap menyesap

menyusur koridor, menangkup embun  dengan harap merasuk

aroma tembakau  meruar, tertanam sangat dalam dan diam

tangannya terampil, kalahkan mesin dengan ujung gunting

agar siang nanti dapat  membawa pulang selembar uang berwarna biru

buat sangu anak dan sedikit makan enak

bisa membeli cabai, tahu dan tomat sudah nikmat

tak perlu  jauh ke Kliwon atau Bitingan

bakul tiban pun sudah menunggu di parkiran

 

berderet angkot pun menanti, untuk mengangkut kami kembali

berjejal bahkan bertumpuk di dalam angkot seperti tak manusiawi

apakah kami mengeluh, Tidak ! yang terpikir segera sampai di rumah

umbah-umbah, isah-isah dan resik-resik menanti

karena kami adalah wanita sejati

istri,  ibu bahkan nenek yang mandiri

yang datang jauh meninggalkan brak-brak Mbitingan, Pengkol, Mburikan, Mbarongan, Nggawon , karangbener dan Nggebog

dan esok pagi-pagi pasti kami akan di sini lagi

 

jangan ditanya kemana lelaki kami,

karena hanya menadah tangan pada suami bukan kami

kalau hanya sekedar untuk membeli daster, tahu, tempe atau terasi

tak usah sebut juga sebagai Kartini

sebab kami bukan keturunan priyayi

apalagi sebagai Pahlawan sejati

karena ini sudah jalan hidup kami

selagi tangan masih bisa menari

dan kaki masih sanggung berdiri

tak ada keluh, apalagi merasa tersakiti

biar anak-anak kami bisa sekolah tinggi 



Salam fiksi

Sri Subekti Astadi

No comments:

Post a comment

Baca juga

Misteri Tengkorak di Rumah Kontrakan

  Sudah hampir sebulan suamiku diterima kerja di sebuah perusahaan tambang batubara di pedalaman Kotabaru Kalimantan Selatan . Namun karena...