26 Sept 2020

Jolong, antara Kopi dan Agro Wisata

 



Sudah dua bulan ini aku mengikuti senam bersama para oma dan opa pensiunan di Kudus. Sebenarnya grup senam ini diikuti oleh para pensiunan yang biasa mengambil uang pensiun di bank BTPN Kudus. Namun karena adanya pandemi kegiatan senam ditiadakan. Setelah beberapa bulan vakum, mulai bulan Agustus kemarin diadakan kembali namun dibagi menjadi kelompok –kelompok kecil dengan anggota antara10-12 orang saja. Kebetulan salah satu kelompok berkegiatan senam di rumah pelatihnya yang ada di sebelah tempat tinggal kami persis. Jadilah saya diajak gabung oleh Bu Juli pelatih sekaligus tuan rumah tetangga saya itu. Karena usia yang tak lagi muda, aku sudah tak mampu lagi mengikuti senam aerobik dengan gerakan loncat-loncatnya, maka tertariklah untuk bergabung  bersama oma opa, yang berjumlah 12 orang itu. Tempatnya pun hanya di sebelah rumah, jadi tak perlu jauh-jauh ke luar rumah.

Agar bukan hanya fisik saja yang kuat namun juga jiwa juga senang, rupanya oma opa ini biasa mengadakan tour atau wisata kecil-kecilan yang tak terlalu jauh dari kota Kudus. Kalau bahagia dan imun pun terjaga, benar juga ya...

Jadilah kami merancang wisata  kecil-kecilan  dengan lokasi  sekitar gunung Muria, yang berjarak kurang lebih 30 KM dari kota Kudus.

Pagi itu dengan menyewa mobil Suzuki elf kami berangkat dari Kudus.  Protokol kesehatan tetap kami lakukan. Dengan memakai masker dan duduk berselang satu, karena peserta hanya12 + 1 sopir saja. Jam 07.00 tepat  kendaraan mulai berjalan, di dalam kendaraan bunyi video dangdut distel kenceng yang bikin aku pusing, dan rencana mau tidur di perjalanan batal. Apalagi melewati jalan yang menanjak dan sempit. Dengan suara oma-oma berkaraoke kenceng, jelas membuat aku kurang nyaman. Tapi tak apalah, yang penting mereka bahagia.



Jam 08.30 kami sudah ada di pintu masuk, menuju arena Agro Wisata Jolong, sampai di pintu masuk pun terjadi keributan diantara oma-oma itu. Ada yang bilang harusnya masuk pintu 2, ada yang bilang benar harus masuk ke pintu 1 saja. Aku sih nurut aja deh...

Akhirnya kami masuk dari pintu 1, suasana masih sepi walau penjaga tiket masuk sudah siap di tempat. Oh iya, untuk masuk ke area wisata harus membayar Rp 10.000,- per orang ditambah biaya parkir kendaraan. Usai membayar tiket masuk, kendaraan mengikuti petunjuk arah menuju area parkir.



Area parkir yang berada di bawah pohon jeruk Pamelo  masih sepi hanya kendaraan kami saja yang ada. Yang jualan juga sepi hanya 1-2 orang saja. Mungkin karena bukan hari libur dan dalam suasana pandemi juga.



Kami bingung yang ditonton apa ya, dan para oma masih berlanjut enyel-enyelannya. Mereka malah berdiri berombol , tak mengerti apa yang harus dilihat dan didatangi.  Sambil menunggu mereka enyel-enyelan aku manfaatkan untuk ambil gambar dan video saja. Ternyata dapat view  keren banget, ada latar belakang gunung dan sekolah yang masih tutup, lumayan bisa nambah video untuk You- tube.



Setelah tanya kesana-kemari akhirnya dapat petunjuk, kami harus berjalan masuk melewati area pedagang yang kosong, dan semacam rumah-rumah penginapan yang sepertinya juga kosong.

Akhirnya kami ketemu kios penjual kopi yang hanya satu orang saja. Jolong memang terkenal dengan perkebunan kopinya. Jadilah kami berebut untuk membeli kopi, karena kebetulan yang jualan hanya satu kios saja. Selain kopi Jolong yang masuk dalam kecamatan Gembong, terkenal dengan tape singkongnya yang manis. Lagi –lagi penjual hanya sedia beberapa besek  tape, akibatnya berebut untuk beli lagi.



Setelah mengerubuti kios penjual kopi, kami berjalan masuk ke arah pabrik. Kami duduk-duduk di bangku yang ada, pas lihat ke bawah, naah...ternyata ada taman yang cantik dan sangat instagramer banget. Untuk masuk kesana harus bayar tiket lagi. Kata Mbak penjual tiket, sebenarnya akan banyak destinasi yang disediakan namun yang siap menerima pengunjung baru Taman Garden Valley saja, yang lain masih dalam tahap renovasi, katanya.




Jadilah sebagian dari kami masuk ke Garden Valley, yang lain malas dan hanya duduk-duduk di atas saja.

Garden Valley            


    

Sebenarnya tahun-tahun kemarin destinasi ini memang sudah ada tapi belum lengkap dan rapi seperti ini.

Sebelum masuk ke Garden Valley kita diwajibkan untuk membeli tiket masuk seharga 5k , memakai masker , cuci tangan di tempat yang telah disediakan. Tepat di pintu masuk Garden Valley tersedia toilet yang bersih,  kalau pingin ke toilet cukup dengan membayar 2k saja. 

Rasanya dua jam masih kurang untuk keliling dan berswa foto pada spot-spot cantik yang telah disediakan  dan instagramer banget. Semua spot pingin dijajal untuk diabadikan dalam bentuk foto maupun video.



Oma-opa pun tak merasakan lelah keliling Garden Valley yang seluas kurang lebih 2 hektar dan posisi area pegunungan yang naik turun. Sudah termasuk olag raga juga nih...

Yang paling aku suka di Garden Valley banyak bunga-bunga indah bermekaran ditambah wangi bunga kopi yang menjadi  ciri khas Perkebunan Jolong, menjadikan udara sangat sejuk dan menenangkan. Panasnya terik matahari jam 10.00 pagi menambah semangat untuk berkeliling dari ujung ke ujung.



Usai berkeliling Garden Valley sebenarnya aku ingin berkunjung ke pabrik kopinya, namun ternyata lumayan jauh jalan kaki dan sudah diminta masuk ke dalam kendaraan kembali untuk melanjutkan kunjungan ke destinasi lain.

Dalam perjalanan menuju parkir kendaraan, kita mampir lagi ke kios penjual kopi yang tadi. Bermacam-macam kopi kemasan buatan Jolong sendiri dijajakan di sini. Berbagai macam merk kopi, dan cara pembuatan kopi yang berbeda-beda. Ada kopi asli yang disangrai secara tradisional, ada kopi oven trus digiling. Dan yang tak kalah menarik ada ‘Kopi Lanang’ yang menurut penjualnya dikhususkan untuk para lelaki untuk menambah  stamina, yang terbuat dari kopi murni dicampur ramuan khusus  untuk pria.



Usai membeli kopi, kami langsung melanjutkan perjalanan ke lereng gunung Muria, yang masuk ke area kabupaten Kudus kecamatan dawe, yaitu desa  Wisata DukuhWaringin. Insyaallah akan saya sambung pada tulisan berikutnya.

Terima kasih

Salam hangat

Sri Subekti Astadi

25 Sept 2020

Jenang Menara Tetap Setegar Menara Kudus Dalam Menghadapi Covid-19



Jenang atau dodol adalah makan tradisional khas yang ada di berbagai wilayah Nusantara. Jenang Kudus adalah makanan khas yang menjadi ikon kota Kudus , sehingga dikenal di seluruh penjuru Nusantara. Karena selain dikenal sebagai Kota Kretek, Kudus juga dikenal dengan Jenang Kudusnya.

Makanan tradisional yang berbahan baku dari tepung ketan, santan dan gula kelapa ini mempunyai sejarah yang berkaitan dengan murid Sunan Kudus yang bernama Syekh Jangkung. Konon katanya, ketika cucu Mbah Dempok  ( Pendiri desa Kaliputu) sedang bermain di pinggir sungai dan  tenggelam di Kali Gelis  dinyatakan meninggal dunia. Namun Syekh Jangkung menganggap hanya mati suri, dan memerintahkan untuk  dibuatkan bubur gamping .Yaitu bubur yang terbuat dari tepung beras yang putih seperti gamping ( kapur), gula dan santan. Ternyata setelah makan jenang gamping cucu Mbah Depok hidup kembali.  Sehingga Sunan Kudus bersabda kalau besok desa Kaliputu akan sejahtera dengan jenang. Sejak saat itu desa Kaliputu  tumbuh  menjadi pusat pembuatan jenang di kota Kudus.



Untuk mengenang peristiwa tersebut,  juga sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena jenang telah menjadi komoditi yang menghidupi warga desa Kaliputu.  Maka setiap tanggal 1 Muharram (Sura) diadakan Pawai Tebokan. Yaitu Pawai keliling desa  dengan membawa ‘Gunungan Jenang’ dan berbagai  macam produk jenang , dan diikuti oleh seluruh  warga desa Kaliputu yang menjadikan jenang sebagai mata pencaharian hidup. Acara Tebokan dulu digagas oleh ibu Hj. Maslikhah pendiri Jenang Menara, namun baru terealisasi pada tahun 2000 oleh putra beliau, Ali Marzuki yang memegang Jenang Menara saat itu. Kirab Tebokan sekarang sudah menjadi event tahunan oleh Dinas Pariwisata Kudus.

Jenang Menara

Salah satu perusahaan jenang yang menjadi pelopor di desa Kaliputu adalah  “Jenang Menara” yang beralamat di Jalan Sosrokartono 228 telpon 08290904957. Perusahaan Jenang Menara dirikan pada tanggal 27 Mei 1982 oleh sosok ibu inspiratif, yaitu ibu Hj. Maslikhah yang saat itu berstatus janda dengan 9 putra. Oleh ayahnya ( H. Noor Ali, kepala desa Kaliputu saat itu),  Hj. Maslikhah disarankan untuk membuat jenang seperti usaha yang telah dirintis adiknya, yaitu Hj Mastuni yang lebih dahulu mendirikan perusahaan Jenang Muria.

Jenang Menara yang pada awal pendirian 27 Mei 1982,  hanya mengolah 10 kg beras ketan dan itupun habis terjual dalam 1 minggu.  Pemasarannya pun masih sederhana, hanya dititipkan pada toko-toko yang menjual makanan oleh-oleh di sekitaran Kudus saja. Sekarang ini  (sebelum Covid-19)  Jenang Menara mampu berproduksi rata-rata 2 kuintal per hari. Dengan jumlah karyawan tetap 20 orang, bila hari libur lebaran dan akhir tahun akan memproduksi jenang lebih banyak , jumlah karyawan pun ditambah dengan karyawan pocokan.



Pada awal berdirinya,  Jenang Menara dikemas seperti lilin dengan bungkus plastik bertali kanan- kiri, namun sejak tahun1990 jenang Menara sudah berbentuk seperti dodol dengan bungkus plastik kecil-kecil tanpa tali, kemudian dimasukan dalam kemasan dos atau stoples, ada juga jenang refil tanpa tempat kemasan (setelah ditimbang dimasukkan dalam plastik biasa).

Soal rasa , Jenang Menara yang dulunya hanya memproduksi yang original saja, sekarang mempunyai berbagai varian rasa. Seperti  jenang wijen, jenang rasa jahe (alami), jenang rasa durian, jenang rasa nangka, rasa cocopandan ( menggunakan sari buah asli, bukan esense). Namun menurut Mbak Siti Marzuqoh S.Ag putri dari ibu Hj. Maslikhah, varian jenang yang banyak digemari adalah jenang bertabur wijen dan jenang original tanpa rasa. Varian rasa ini akan bertambah dan selalu dikembangkan, pada saat lebaran dan liburan akhir tahun akan diproduksi juga jenang ketan hitam, jenang kacang, jenang kelapa muda, jenang keju dan jenang lapis coklat. Harga jenang pun bervariasi tergantung rasa, mulai dari 32.000-42.000 per kilogram.

Kalau kita datang sendiri ke toko Jenang Menara di Kaliputu Kudus, kita bisa mencicipi jenang yang hendak kita beli terlebih dahulu. Karena disana tersedia jenang refil yang akan ditimbang lebih dahulu kalau kita membeli, baru kemudian dikemas dalam wadah.

Cara pemasaran Jenang Menara selain digelar di toko oleh-oleh milik Jenang Menara sendiri, juga dikirim ke berbagai daerah oleh para sales makanan dengan cara konsinyasi atau titip jual.

Sejak ibu Hj. Maslikhah meninggal pada tahun 2011, maka jenang Menara dikelola oleh putra-putri beliau secara bergantian 5 tahun sekali. Dengan syarat putra itu tidak mempunyai usaha yang sama, karena saat ini 2 putra beliau menggeluti bidang  usaha yang sama, dengan mendirikan perusahaan jenang sendiri.

Jenang Menara menghadapi Pandemi Covid -19

Adanya Covid-19 membawa dampak pada semua segi, termasuk pada UMKM yang menggerakkan usahanya tergantung dengan banyak hal. Perusahaan Jenang Menara adalah salah satu  UMKM yang kena dampak dari pandemi ini. Karena jenang adalah makanan yang dibeli pada saat orang wisata / berlibur sebagai oleh-oleh. Adanya pandemi Covid-19 dan juga sesuai anjuran pemerintah untuk di rumah saja, otomatis tidak ada lagi orang berpergian dan berwisata. Pembeli jenang pun tidak ada. Otomatis produksi mandeg, karena tak ada pembelinya.  Bahkan saat lebaran Idul Fitri yang biasanya ramai-ramainya orang mudik dan membawa oleh-oleh juga tak ada lagi.



Jenang Menara sempat berhenti berproduksi  selama 2 bulan, yaitu bulan Maret dan April. Sedangan bulan Mei, saat lebaran tiba mulai memproduksi kembali walaupun sedikit. Karena hanya memenuhi permintaan setempat, untuk berlebaran lokal saja.

Sebagai bentuk kepedulian pada karyawannya,  pihak Jenang Menara memberi santunan  5 kilogram beras setiap bulan kepada karyawan tetapnya.

Mulai bulan Agustus kemarin, produksi jenang mulai menggeliat lagi walau tidak seperti semula. Seminggu memproduksi sekitar 2 kuintal jenang saja, padahal pada awalnya sehari memproduksi 2 kuintal jenang.

Harapan besar semoga pandemi segera berakhir, dan wisatawan pun bisa berkunjung pada tempat-tempat wisata religi yang ada di Kudus. Yang otomatis akan menggerakan kembali roda perekonomian Indonesia, terutama daerah seperti Kudus ini.

Manis dan legitnya Jenang Kudus semoga akan tetap  bernasib manis sebagai makanan tradisional  favorit di kota Kudus. Dan orang-orang di luar daerah pun ikut merasakan legit dan manisnya jenang ini.

Jenang Menara akan tetap selalu tegar bagai Menara Kudus, yang mampu bertahan sebagai warisan budaya sejak jaman Sunan Kudus  hingga saat ini.

Terima kasih

Caraku Memanfaatkan Produk Keuangan untuk Menyiasati agar Bisnis Transportasi Tetap Berjalan Saat Pandemi

 



 

Bisnis apa yang saat pandemi Covid-19 ini tidak terganggu. Saya rasa hampir semua bidang terganggu adanya pandemi ini, namun mau tidak mau kita harus menerima ini sebagai ujian dari  Yang Maha Kuasa agar kita lolos menjadi insan yang kuat. Menerima takdir bukan berarti kita hanya berdiam diri saja, otak harus tetap berjalan walau ada himbauan fisik kita tetap ada rumah. Karena dapur harus tetep ngebul, biaya-biaya dan  pengeluaran  tak bisa ditunda begitu saja. Anak-anak tetap butuh pendidikan walau melalui PJJ. Semua butuh biaya untuk bisa tetap bertahan hidup dan mempertahankan kehidupan.

Bagi yang mempunyai gaji bulanan, baik itu ASN maupun karyawan swasta tetap suatu perusahaan mungkin merasa aman-aman saja adanya pandemi ini.  Walau beberapa perusahaan telah melakukan pemotongan gaji karyawannya, tetap saja tiap bulan bisa diandalkan pemasukannya. Tinggal bagaimana cara memanage agar pendapat yang segitu tetap bisa memutarkan roda kehidupan keluarga.  Perlu kepintaran agar gaji yang diterima cukup untuk memenuhi belanja harian dan kebutuhan bulanan. Entah dengan memangkas pos-pos pengeluaran yang tidak perlu atau mangalihkan dana ke pos yang lainnya.

Bagi kami, pelaku bisnis transportasi dampak pandemi itu terasa sekali. Kami yang memulai bisnis jasa transportasi angkutan barang sejak tahun 2014 , dampak itu terasa saat pelanggan mulai mengurangi menggunakan jasa transportasi kami. Pengurangan itu karena barang yang mereka produksi berkurang  karena permintaan barang juga berkurang akibat daya beli masyarakat yang menurun. Sehingga barang hasil produksi yang harus kami angkut juga berkurang, walau tidak berhenti sama sekali. Alhamdulillah...

Sejak tahun 2014 ketika suami kena PHK dari sebuah perusahaan tambang di Kalimantan, kami memutuskan untuk pulang ke kampung halaman dan memulai hidup baru sebagai pengangguran. Disaat usia sudah tidak lagi muda tentu akan  sulit bagi kami untuk mencari pekerjaan baru. Sedangkan uang pesangon akan segera habis bila tidak dimanfaatkan untuk menghasilkan uang kembali. Setelah mencoba beberapa usaha, seperti beternak lele, memelihara ayam dan  bertani  ternyata hasilnya menyedihkan karena kurangnya pengetahuan dan mungkin kurang tekun menggelutinya . 

Suami akhirnya memutuskan untuk membeli sebuah truck bekas untuk memulai usaha transportasi. Truck itu kami beli dari seorang teman dengan cara oper kredit. Jadi kami membayar sejumlah uang  kepada pemilik asal truck dan melanjutkan kreditnya di sebuah perusahan leasing. Karena kalau kami manfaatkan semua uang tabungan yang ada untuk membayar truck, maka tidak ada uang cadangan cash lagi. Sedangkan untuk biaya hidup dan biaya truck seperti  memperbaiki kerusakan-kerusakan agar bisa nyaman digunakan atau memperbaiki penampilan truck agar enak dilihat, butuh dana cash yang tidak bisa dilalukan dengan berhutang. Kami perlu berjaga-jaga bila truck belum bisa menghasilkan uang seketika. Memanfaatkan pruduk keuangan yang ditawarkan perusahaan leasing sangat membantu dalam memiliki truck impian, namun berhutang dalam jangka waktu panjang juga menjadi momok yang akan membuat kami tak bisa tidur nyenyak berbulan-bulan itulah akhirnya  yang menjadi pertimbangan kami untuk memilih kredit jangka pendek, meneruskan kredit pemilik truck sebelumnya saja.

Syukurlah kami segera mendapat pelanggan dari sebuah perusahaan percetakan kertas dan kemasan di kota kami.  Hampir tiap hari, kardus-kardus kemasan atau bungkus suatu produk yang dipesan oleh suatu pabrik harus diantar . Dengan sistem DO (Deliery Order) dan SP ( Surat Jalan) yang mereka keluarkan,  kami mengantar barang  ke pabrik pelanggannya. Mulai dari bungkus susu, bungkus kopi, bungkus rokok, sampai pada kertas suara dan kertas-kertas penting lainnya. Alhamdulillah kami mendapat pernah juga mendapat kepercayaan untuk mengantarkan blangko-blangko penting milik negara juga .

Kami melayani jasa transportasi angkutan  untuk wilayah sekitaran Jawa Tengah, Jawa Timur  dan sebagian Jawa Barat, yang tidak terlalu jauh jaraknya. Untuk waktu tempuh PP kurang dari 24 jam saja.

Usaha ini kami lakukan sendiri , artinya suami juga berperan sebagai driver  dan satu orang sopir pengganti saja. Karena untuk melepas sendiri kendaraan dan mempercayakan pada orang lain pernuh pernah kami lakukan namun kurang bagus hasilnya karena kendaraan  sering rusaknya tidak terkontrol pemakaian dan perawatannya. Akibatnya akan butuh biaya perbaikan tinggi.

Pencairan dana DO biasanya dibayarkan  per tiga bulan ke depan. Oleh sebab itu untuk dana operasional ada banyak jasa keuangan menawarkan untuk menyediakan uang cash sesuai harga DO dikurangi 13 %. Pemberi jasa keuangan tersebutlah yang akan mengurus pencairan DO selanjutnya. Mereka bisa memanfaatkan uang pinjaman dari bank, yang tentu akan memperoleh hasil yang lebih banyak dari potongan sekitar 13 % dari harga DO tersebut. Sedangkan manfaat bagi kami, adanya dana segar untuk operasional perjalanan truck, tanpa menunggu 3 bulan lagi.

Pembayaran dilakukan melalui transfer ke rekening kami setiap truck akan berangkat mengantar kiriman, dengan bukti DO dan SP yang ada. Biasanya truck berangkat seminggu 2 -3 kali tergantung jarak dan waktu yang akan ditempuh. Sebelum ada pandemi Truck terkadang berangkat 4-5 kali dalam seminggu, jadi ada pengurangan pemberangkatan 1-2 kali dalam seminggu. Hal itu tentu saja membawa dampat berkurangnya pendapatan. Biaya perawatan truck dan sopir cadangan juga berkurang pemakaiannya yang tentu berpengaruh pada pendapatan keluarganya.

Uang yang kami peroleh ada di rekening sebagai tabungan, sebagian lagi kami pindah  pada rekening  atau Dompet Digital terpisah  yang digunakan untuk biaya operasional. Seperti membeli solar  dan kebutuhan perjalanan sopir dan juga pengisian e-money untuk membayar tol serta biaya perawatan truck lainnya.

Untuk kebutuhan makan sopir harus sedia uang cash walau tidak terlalu banyak, karena belum semua tempat makan yang disinggahi  bisa menerima uang electronik. Pada masa pandemi seperti ini, menggunakan uang eletronik  dirasa lebih aman dari dampak penularan virus dibanding menggunakan uang cash.

Bulan Agustus ini, rencananya kami ingin menambah armada truck agar usaha ini semakin maju. Namun dalam situasi yang kurang menentu  kami menghindari berspekulasi lebih dahulu. Walau bisa saja kami berhutang kembali  pada leasing atau bank, untuk kredit truck,  namun pengurangan barang kiriman oleh perusahaan tentu juga berimbas dengan pendapatan kami. Daripada nanti serasa dag-dig -dug setiap tanggal jatuh tempo, lebih baik uang yang ada kami inestasikan lebih dahulu. Bukankan dengan berinvestasi pada salah satu produk keuangan kita dapat membantu pemerintah untuk mengatasi keterpurukan ekonomi akibat Covid-19 ini.

Investasi Pada Produk Keuangan Online

Sekarang banyak ditawarkan investasi online yang mudah prosedurnya. Besarnya investasi pun bisa disesuaikan dengan kemampuan kita. Dengan berinvestasi secara online kita tidak perlu untuk keluar rumah. Karena pembayaran investasi bisa dilakukan dengan sekali klik, pada internet banking maupun melalui e-wallet, bahkan investasi yang saya ikuti ini bisa dibayarkan melalui Alfamart yang ada di sekitar kita.

Investasi yang kami pilih adalah Simpanan Berjangka Sobatku dari KSP Sahabat Mitra Sejati. Sebuah aplikasi keuangan online yang menawarkan banyak kegunaan.  Seperti menabung, pembayaran PLN, pembayaran internet, BPJS, top up e-wallet, transfer ke rekening bank, simpanan berjangka, asuransi, pembelian pulsa dan token listrik, sampai juga berupa pinjaman online.  Kenapa saya memilih produk Simpanan Berjangka dari Sobatku ini,  karena dengan Simpanan Berjangka kita tidak  tergiur  mengambil tabungan sampai batas waktu yang ditentukan. Kita bisa menetukan sendiri jangka waktu untuk menabung, bila jangka waktu telah habis kita bisa memperpanjang secara otomatis  Automatic Rool Over (ARO) atau non ARO artinya tidak lagi memperjang tabungan kita atau mengambil tabungan yang ada. Jangka waktu yang diberikan bisa  1, 3, 6, atau 12 bulan  lamanya tabungan kita harus mengendap disana. Keistimewaan tabungan berjangka ini kita akan mengetahui besarnya suku bunga yang diberikan pada saat awal kita hendak menabung. Selama tabungan masih dalam jangka waktu itu kita akan mendapatkan rate  bunga yang sama. Berbeda dengan tabungan biasa yang suku bunganya setiap bulan bisa berbeda-beda.

Yang menariknya lagi pada simpanan berjangka Sobatku ada bonus saldo dan poin undian berhadiah yang diundi setiap bulannya. Tabungan Sobatku juga tidak ada biaya admin yang dibebankan kita setiap bulannya seperti kalau kita mempunyai rekening di bank konvensional. Proses pendaftaran juga mudah hanya melalui aplikasi saja. Sobatku diawasi oleh Kementrian Koperasi dan UKM dan didukung Bank Sampoerna sehingga Insyaallah aman terjaga.

Memilih produk keuangan yang ditawarkan bank dan  perusahaan jasa keuangan haruslah jeli. Kita harus benar-benar memilih perusahan keuangan yang kridibel dan sehat, bukan hanya melulu melihat keuntungan yang besar-besaran ditawarkan menggiurkan. Karena justru keuntungan besar yang ditawarkan mengundang banyak tanda tanya, dari mana dia bisa memberi benefit sebesar itu pada kita. Mempelajari resiko produk keuangan yang kita pilih adalah penting. Karena bagaimanapun suatu investasi pasti akan ada resikonya, pilihlah resiko yang minimal kalau bisa dengan zero risk.

Kita dan Fintech

Pada jaman serba online banyak  perusahaan Fintech ( Financial Technology)  muncul untuk  memudahkan masyarakat bertransaksi keuangan secara online, meningkatkan literasi keuangan dan mewujudkan inklusi keuangan. Perusahaan Fintech startup serta industri e-commerce yang tumbuh subur di Indonesia  memunculkan adanya  Dompet Digital atau Digital Wallet  yang berfungsi untuk memudahkan transaksi pembayaran  di marchant offline maupun online. Adanya dompet digital ini kita akan praktis dan aman dari resiko membawa uang cash. Di Indonesia dompet digital yang kita kenal seperti Go-Pay, OVO, Dana, dan LinkAja.

Untuk menunjang kegiatan keuangan sehari-hari saat ini menjaring kita untuk terlibat dengan Digital Wallet, yang membuat hidup kita akan semakin mudah. Demikian juga dalam bisnis yang kami miliki, Digital Wallet menemani perjalanan driver agar mudah melakukan transaksi dimanapun berada tanpa banyak resiko membawa uang cash berlebih. Seperti untuk pengisian solar, oli, membeli orderdil  dan biaya perawatan kendaraan baik secara offline maupun online sekarang bisa dibayar dengan e-wallet.

Demikian kami memanfaatkan produk keuangan demi kelancaran bisnis  transportasi ini, sekaligus berkontribusi untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional agar mokroprudensial aman terjaga. Terima kasih.

Baca juga

Tentang Rumah yang Kesepian

    Sudah berbulan-bulan sepi sekali disini , hanya seorang lelaki kurus yang setiap hari menyapu lantaiku. Dinding-dinding yang terbuat...