24 Oct 2020

Enam Masjid Terunik yang Pernah Aku Kunjungi

 


 

 

1.     Masjid  Al-Ikhlas Geronggang

Masjid Al-Ikhlas Geronggang terletak di desa Geronggang  Kecamatan Kelumpang Tengah Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan. Masjid yang megah ini terletak di tanah yang luas di ujung desa yang berdekatan dengan sekolah SD Geronggang. Saya beberapa kali ikut sholat Idul Fitri dan Idul Adha di sini. Masjid ini bangunannya sudah permanen berdiding beton, bukan seperti bangunan lainnya di sana yang masih terbuat dai papan kayu.

Keunikan masjid Al-Ikhlas pada waktu pelaksanaan Sholat Ied adalah adanya beberapa kelompok jamaah yang masing-masing ngumpulin sumbangan sendiri-sendiri dengan cara petugas keliling mendekati jamaah satu per satu dengan menggelar sorban atau mukenanya. Mereka jumlahnya lumayan banyak , dan masing-mesing mengumpulkan dana untuk keperluan kelompok masing-masing. Karena saking banyaknya mereka yang keliling sampai-sampai sholat Ied dimulai agak siang, sekitar pukul 8 pagi. Masing-masing jamaah harus menyediakan banyak pecahan uang agar bisa memasukan pada sorban yang jumlahnya lumayan banyak. Bagi saya hal ini adalah unik, karena masjid pada umumnya hanya menyediakan kotak amal yang diedarkan saja, bukan dengan cara mendatangi jamaah satu persatu.

2.     Masjid Al-Aqsha Menara Kudus

Masjid yang terdapat Kompleks Menara Kudus ini menyatu dengan Menara Kudus , dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun  1549 Masehi. Pintu gerbangnya menyerpai bangunan  candi yang unik dan banyak mengandung folosi kehidupan.

Masjid ini banyak didatangi penjiarah ke makam Sunan Kudus, sehingga setiap harinya tak pernah sepi dari pengunjung.

Masjid yang terdapat ornamen Hindu dan China ini awalnya dimaksud untuk saling menghormati  orang Hindu yang pada waktu itu menjadi agama yang Kudus sebelum masuknya Islam.

3.     Masjid Sunan Muria

Masjid  Sunan Muria ini terdapat di kawasan makam Sunan Muria yang terletak di Gunung Muria Kudus  dengan ketinggian 1600 DPL  ini didirikan Sunan Muria  sebagai pusat penyebaran agama Islam di kawasan Gunung Muria Kudus. Keunikan Masjid ini terdapat 4 umpak batu yang dibawa dari Bali, dipergunakan sebagai tiang penyangga masjid. Di masjid ini juga terdapat gayor atau bedug yang sangat besar yang ditabuh pada saat jam sholat .

4.     Masjid Agung Kudus.

Masjid Agung Kudus terletak di sebelah barat alun-alun Simpang tujuh Kudus. Masjid ini menjadi ciri khas alun-alun kota-kota di Jawa pada waktu itu. Bangunan Masjid Agung Kudus terdiri dari 2 lantai, sebelah atasnya yang berbentuk seperti balkon menjadi tempat sholat jamaah wanita. Masjid ini juga ditopang oleh soko guru yang menjadi penjangga bangunan yang terbuat dari kayu kuno yang sangat besar-besar.

5.     Masjid Agung  Tuban

Masjid  Agung Tuban terletak di sebelah barat alun-alun kota Tuban. Tuban merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur terletak di  jalur Pantura bila hendak ke Surabaya. Masjid ini didirikan pada abad ke -15 oleh bupati  saat itu, Adipati Raden Ario Tedjo, letaknya juga tidak jauh dari kompleks makam Sunan Bonang.

Bangunannya sangat megah terdiri dari 3 lantai . Pada malam hari masjid ini memancarkan 1001 warna  dari permainan cahaya lampu.  Gaya pola arsitekturnya menjadi khas Nusantara dengan ornamen pada pintu dan mimbar yang terbuat dari kayu dengan ukiran khas Jawa. Tangga Kuningan di sayap migrab, menciptakan gaya khas ornamen Jawa Klasik.

Saya pernah numpang sholat disini dalam perjalanan menuju kota Malang. Tempat sejuk jadi nyaman untuk beribadah. Di depan masjid terdapat banyak penjual legen yang menjadi minuman khas kota Tuban.

6.     Masjid  Al- Hamidiyah Mlati Lor Kudus

·        Masjid ini menjadi masjid yang biasa saya kunjungi sehari-hari untuk menunaikan sholat 5 waktu,  karena terletak 100 meter dari rumah tempat saya tinggal.  Masjid yang terdapat di jalan HOS Cokroaminoto ini mempunyai  luas tanah 500 m3, didirikan pada tahun 1940 oleh keluarga Mbah Djalil yang sekarang masih mendiami rumah di area masjid sebelah utara. Masjid ini termasuk masjid termegah di jalan HOS Cokroaminoto Kudus, masjidnya luas dan bersih sehingga banyak pejalan yang singgah untuk menjalankan sholat di sini.

 

23 Oct 2020

Kotokan Kecambah Wuku Feet Iwak Kebo , Kuliner Khas Kudus yang Nikmat

 



 

Siapa yang sudah pernah makan jenis masakan Kotokan ini, yang tinggal di sekitar Pantura atau Jawa Tengah utara mestinya banyak yang tahu. Sayur kotokan ini sepertinya menu paling irit untuk sarapan di wilayah kota Kudus dan sekitarnya. Apalagi bila kotoan itu hanya berupa tahu dan tempe yang dibuah sayur kuah dengan santan. Sudah mewakili makan sayur berkuah sekaligus sebagai lauk. Irit bukan ?

Kali ini saya ingin memadukan bumbu Kotoan ini untuk mengolah kecambah wuku yang dipadu dengan daging kerbau (khas Kudus tentunya) dan tempe. Oh iya, sudah tahu kan dengan kecambah wuku, yaitu kecambah yang dibuat dari biji kapas bukan dari biji kedelai seperti biasanya. Ikuti yuk bahan yang dibutuhkan dan cara memasaknya.

Bahan yang dibutuhkan:

-         Kecambah wuku 2 tuyuk ( beli 4000 rupiah saja )

-         Daging kerbau 1 ons ( harganya 13,000 rupiah), cincang halus biar cepet empuk. Karena tekstur daging kerbau lebih kasar daripada daging sapi.

-         Tempe 1 potong ( harga  2000 rupiah)

-         Kelapa parut seperempat butir ( harga 2500 rupiah), buat santan secukupnya.

-         Bawang merah 7 siung , iris tipis-tipis

-         Bawang putih 4 siung, iris tipis-tipis

-         Cabai merah/ hijau? Rawit ( sesuai selera), iris serong

-         Lengkuas sekerat

-         Daun salam 2 lembar

-         Garam, penyedap rasa dan gula putih secukupnya sesuai selera.

 

Cara Membuatnya:

Tumis Bawang merah sampai harum, masukkan bawang putih dan cabai iris sampai semua layu. Kemudian masukkan daging kerbau, oh iya kenapa saya memilih daging kerbau karena memang yang beredar di pasar –pasar Kudus kebanyakan daging kerbau sesuai dengan petuah Sunan Kudus, sebagai bentuk toleransi dengan agama lain pada jaman dahulu kala. Jangan lupa masukan juga tomat, daun salam dan lengkuas.

Tambahkan air secukupnya, masak dengan api kecil sampai daging matang dan empuk.  Jangan lupa masukkan tempe yang sudah diiris-iris agar tempe ikut matang juga. Setelah daging benar-benar empuk ( karena sudah dicacah tentu akan lebih cepat), masukkan kecambah wuku yang sudah dibersihkan kedalam masakan. Terakhir masukan santan sambil diaduk-aduk terus agar santan tidak pecah dan kuah jadi ambyaar kurang nikmat. Tambahkan garam, penyedap rasa dan sedikit gula.

Tunggu sampai benar-benar matang, silakan hidangkan untuk menemani sarapan atau makan siangmu. Kalau masih sisa bisa dipanasin lagi buat makan berikutnya. Kurang ngirit gimana coba!

Ayo, dicoba. Kalau di tempatnu nggak ada daging kerbau bisa di ganti daging sapi. Tapi yang namanya masakan tradisional khas suatu daerah ya...enaknya sesuai warisan leluhur dong!

Untuk lebih jelasnya boleh klik video ini, sila disubscribe juga ya...terima kasih.



 

Masakan ini bisa juga untuk  menemani  makan sahurmu besok yang sudah memasuki bulan Ramadan, bikinnya sore hari tinggal dipanasi sebentar buat makan sahur. Praktis dan bergizi tentunya...

Terima kasih, selamat memasuki bulan Ramadan bagi umat Muslim, semoga dapat beribadah dengan lebih khusuk  dari tahun-tahun sebelumnya.

 

Kudus, 23 Oktober 2020

Salam hangat,

Sri Subekti Astadi

22 Oct 2020

Ajaran Toleransi Dalam Sebungkus Nasi Jangkrik

 

Nasi Jangkrik


 

Namanya memang Nasi Jangkrik tapi jangan lantas mengaduk-aduk nasi mencari jangkrik yang mungkin tersembunyi di segenggam nasi berbungkus daun jati ini.

Karena kamu tak akan menemukannya, jadi hilangkan dulu pikiran parno tentang jangkrik yang menempel di namanya.

Nasi Jangkrik biasanya hanya ada di bulan Sura, atau Muharram, tepatnya pada tanggal 10 Muharam saat diadakannya ritual Buka Luwur di makam Sunan Kudus. Acara Bukak Luwur sendiri biasanya dibarengi dengan penjamasan pusaka Kanjeng Sunan Kudus dilanjutkan dengan penggantian luwur atau kelambu yang mengitari makan Kanjeng Sunan Kudus. Setelah itu baru penyembelihan hewan shodakoh yang akan dimasak dalam jumlah yang banyak, dibungkus dengan daun jati dan dibagikan kepada masyarakat yang udah mengantri sejak semalam. Ritual Bukak Luwur diadakan setahun sekali, setiap tanggal 10 Syura atau 10 Muharam.

Nasi Jangkrik ini sekarang bisa dinikmati di sebuah warung dekat dengan Menara Kudus, yang hanya buka pada malam hari. Jadi gak perlu ngatre pada tanggal 10 Syura saja ya....

Nasi Jangkrik adalah nasi berlauk daging kerbau yang berbumbu jangkrik atau bumbu campuran cabe merah, bawang merah, bawang putih, kencur, lengkuas dan santan. Kemudian dimasak selama empat jam lebih, agar bumbu meresap dan daging menjadi empuk.

Lezatnya daging kerbau berbumbu jangkrik ini bila dimakan dengan nasi yang masih hangat, dengan bungkus daun jati yang menambah cita rasa tersendiri kelezatannya.

Sunan Kudus dan Ajaran Toleransinya

Nasi jangkrik  merupakan makanan kesukaan Sunan Kudus dan Kyai Telingsing , keduanya merupakan ulama yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Kudus.

Nasi jangkrik ini memang khas menggunakan daging kerbau, karena  daging kerbau yang banyak beredar di Kudus.  Menurut cerita, untuk menghormati pemeluk agama Hindu yang saat itu menjadi agama mayoritas di Kudus.  Sunan Kudus melarang penyembelihan  hewan sapi, karena sapi termasuk  binatang keramat bagi umat Hindu. Walaupun saat itu Sunan Kudus sedang menyebarkan agama Islam, namun tetap menghargai penduduk yang beragama lain di kota Kudus. Tidak ada pemaksaan dalam berdakwah, bahkan dengan menarik simpati agar lambat-laun masyarakat terbuka dan mau memeluk agama Islam. Bukan dengan cara pemaksaan.

Sampai saat ini penyembelihan hewan sapi masih jarang dilakukan di kota Kudus, sehingga yang banyak beredar adalah daging kerbau. Walaupun saat ini agama Islam sudah menjadi agama mayoritas di kota Kudus, namun ajaran Sunan Kudus tentang anjuran untuk tidak menyembelih hewan sapi masih ditaati sampai sekarang oleh sebagian besar masyarakat Kudus.

Ada sebuah cerita mengapa dinamakan Nasi Jangkrik, karena pada saat itu Sunan Kudus dan Kyai Telingsing sedang berada di Tajug yang ada di sekitar menara untuk belajar agama bersama, mendengar orang-orang sibuk memasak yang suaranya krik-krik riuh seperti jangkrik, lalu Sunan kudus menamakan nasi yang dimasak itu dengan nama Nasi Jangkrik.

Selain pelarangan penyembelihan hewan sapi oleh Sunan Kudus, bentuk toleransi beragama diwujudkan dengan bentuk bangunan Menara Kudus, yang menyerupai candi, dan ornament masjid Al Aqsho Menara Kudus yang kental nuansa budaya Hindu, Budha, Jawa dan Tiongkok.

Beruntung sekali saya bisa menikmati sebungkus nasi jangkrik yang lezat ini, dan disuguhkan langsung dari Yayasan Menara Kudus di rumah Bapak H EM Nadjib Hassan yang letaknya persis di sebelah Menara Kudus. Tepatnya pada saat selesai berlangsungnya Panggung Penyair Asia Tenggara yang digelar di kaki Menara kudus atau halam depan Menara kudus. Kami beserta para Penyair yang hadir dari berbagai Negara, seperti Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, Thailand dan Indonesia sendiri setelah acara selesai digiring menuju rumah Kyai Nadjib untuk disuguhi nasi Jangkrik, teh hangat dan kacang rebus sambil bercengkerama dengan para penyair kondang. Rasanya nyaman sekali, nikmat nasi Jangkrik telah perpadu dengan suasana yang rileks dan santai.

Kamu pingin menikmati lezat Nasi Jangkrik, datang saja yuuk ke Menara Kudus, tapi harus malam hari ya… Karena Warung Nasi Jangkrik yang ada di sekitar Menara atau tempat di Jalan Sunan Kudus hanya buka malam hari jam 19.00 sampai jam 23.00 saja.

Salam hangat

 

Sri Subekti Astadi

21 Oct 2020

Gunung-gunung itu Tidak Diam

Gunung- gunung Itu Tidak Diam

 


tidakkah engkau menyadari bahwa  gunung itu pasak, yang akarnya menghunjam dan  melindungimu dari guncangan bumi

menyombongkan diri, seakan Dia tak melihat, setelah bencana demi bencana tak juga mengoyahkan hatimu

tahukah, kau! Bahwa gunung tak pernah diam, melihat dadamu membusung karena congkakmu

merasa  lebih dengan secuil ilmumu, seonggok hartamu, dan setetes imanmu

bukanlah itu tak lebih karena cinta kasih-Nya, dan  hanya pengujimu

 

Lihatlah! Merapi, Kelud, Gamalama, Sinabung, dan Krakatau yang erupsi tiada henti

tidakkah itu menjadi pelajaran, bahwa kerusakan yang lakukan pada bumi, adalah mengingkaran karunia Illahi

sebarkan hoax kesana-kemari, yang membuat luka pada bumi, dan pada semesta yang fana ini

bencana yang tiada henti, kenapa tak menyurutkan prasangkamu pada Yang Maha Cinta

Dia yang telah menyelamatkanmu dari semburan larva dan gelombang tsunami

bertaubatlah sekarang bertaubat

 

kelokan-kelokan sungai yang indah adalah keseimbangan bumi, yang bisa alirkan air, darah, nanah dan juga susu , kapan pun Dia menghendaki

hadapkan wajahmu, buka matamu tempelkan dahimu

dengar, dengarkan suara rimbun dedaunan yang tertiup angin

dari sana tumbuh bebuahan, yang bebas kamu nikmati bahkan kamu perdayakan

seolah engkaulah penguasanya, penciptanya, dan engkau pula perusaknya

 

sadar, sadarlah tuan, engkau sedang diuji

 

mulai hari ini, berprasangka baiklah pada gunung yang erupsi, pada gempa bumi, pada likuifaksi dan banjir disana-sini

seperti prasangkamu pada bumi, bulan, bintang dan juga matahari

bahwa bumi ada yang Menciptakan, menguasai dan memelihara

dekati Dia, bermohon ampunlah Pada-Nya.

 

Kudus, 13 Desember 2018

Sri Subekti Astadi


 

20 Oct 2020

Mengenang Muria

 Puisi-puisi Karya Sri Subekti Astadi Untuk Event Erupsi Gunung Berapi

(Puisi 1 )



Mengenang Muria

mengenang Muria, adalah mengenang Bapak yang tak lelah menggandengku, terkadang mengendongku menapaki 950 anak tangga di gunung Muria yang terjal

"Kamulyan kuwi kudu digoleki, Nduk Seperti menapaki anak tangga ini" kata bapak saat aku protes karena letih diperkenalkan aku kecil, pada makam yang selalu padat penziarah "Kalau sudah sampai di sini, tak ada keluh , karena sudah bertemu pepunden leluhurmu, Nduk !" jalan terjal hanya cara, yang akan terobati dengan segarnya air gentong dan masam buah parijoto

mengenang Muria, adalah mengenang Bapak yang disaat liburan tiba, membawaku di desa Colo, di lereng gunung Muria kesederhanaan, ketangguhan dan kerja keras diperkenalkan padaku mandi ke sumber air, yang ada jauh di bawah bukit, melawan dingin yang sering kandas gigil, sunyi dan gelap terus menjalin bila malam hinggap menikmati nasi dengan kuluban, dan peyek teri penahan rasa nikmat "Kamu harus bisa, Nduk. Kuwi lelakon urip", tutur Bapak agar aku tetap semangat

mengenang Muria, adalah mengenang Bapak bila panen tiba, lelah kaki kadang tak terasa, memandang kopi yang merah merata Alpukat, jeruk Pamelo , dan gedang Byar sepakat untuk diikat parijoto, jangklong dan ganyong cukup dicangklong daripada menanti harga cengkih yang sering ringkih tanam apa saja yang bisa jadi duit

"Syukuri wae ,Nduk. Kuwi rejeki yang sudah tertitah " nasehat Bapak biar aku tak lagi berkesah

mengenang Muria, adalah mengenang Bapak yang kini masih menyisakan hamparan ladang dengan seribu kenangan mewariskan padi dan juga huma yang lapuk dimakan sepi dan rasa sehat berkat pencak silat jurus SK Muria menziarahi Mbah Sunan Muria dengan penuh hakekat kapan saja bila dapat sekarang aku hanya mampu taburkan Al- Fathekah buat bapak agar Muria terus mengenang seputih kelambu di makam Mbah Sunan Muria

19 Oct 2020

Puisi Sahabat

 

Puisi : 3




Sahabatku

 

Kami titip padamu kawan

bila kau bertemu dengannya, berilah dia sebutir cinta

biarkan dia menyusuri hidup dengan cinta itu

dia sahabatku, Kawan

yang baru saja turun dari sholat di masjid-masjid

juga mereka yang baru selesai misa gereja

setelah selesai membakar dupa di wihara

atau mereka yang baru saja menyembah Dewata

 

tak perlu kau ragu dengan persahabatan kami

yang telah berpuluh-puluh tahun bersama membangun negeri

tak pernah kami saling mencurigai, siapa yang hendak menguasai tanah kami

kami terbiasa saling menghargai, saling mengasihi dan terus bekerjasama

karena persabatan itu adalah hidup tentram bersama

dan tak ada yang saling mengoyak

 

Bila kau bertemu, sahabatku kawan

kabarkan bahwa cinta kami tetap utuh

biar saja para perusuh bikin gaduh

tak ada pengaruh bagi kami yang jauh

 

kuatkan iman bukan dengan membenci, curiga bahkan merasa paling

karena surga hanya Tuhan yang menguasai

sudahlah mari kita tetap bergandeng

cintai negeri dengan persahabatan yang hakiki

18 Oct 2020

Akulah Cinta itu.....

 

Sri Subekti Astadi

Puisi : 2

 


Akulah Cinta itu…

 

Akulah cinta yang mengalir pada darah-darah ibu saat meregang nyawa melahirkan

pada tetes keringat ayah yang  tak pedulikan letihnya membanting tulang,

yang mengendap pada hati sang Guru saat mengalirkan ilmu pada anak didiknya

yang lirih terdengar isaknya saat  dua pertiga malam dengan penuh harap pada-Nya.

 

"cintailah aku walau hanya dengan remahan sisa makananmu agar cukup mengganjal perutku" ujar pengemis itu

sementara di sampingnya seorang bocah kurus berkudis tak mau diam merengeng menahan lapar, dingin dan kasih sayang.

aku hanya butuh cinta dengan memberiku lapangan kerja, sebagai sumber nafkah keluarga

tambahi terus aku ilmu, agar kebodohan tak menyesatkanku, membawaku pada kegelapan yang tak jangkau

atas nama cinta jangan biarkan para renta membawa beban berat di hidupnya, kasihani dia..sayangi dia..

karena dari rahim-rahim mereka engkau pernah bersemayam di sana dengan penuh cintanya

lalu pada cinta yang mana lagi engkau hendak sembunyikan kebusukanmu yang rakus memakan uang rakyat

dengan dalih cinta, engkau umbar janji-janji sakti pendongkrak kemenanganmu...

kami sudah tak begitu peduli dengan cinta yang kau semai saat kampanye tiba

karena kami tahu tak ada cinta yang abadi dari mulut-mulut busuk dari politisi macammu

dan engkau tahu bukan, beda tipis antara cinta dan benci

itu semacam hubungan kamu dengan istri-istrimu atau antara kamu dan sekretarismu.

 

sudahlah.......

dengan cinta , engkau boleh menatapku manja setelah  tertunai hasratmu

karena....

bila tak ada cinta sakitnya luar biasa

maka...

berterimakasihlah pada Pemilik Cinta abadi itu..

 

Kudus, 30 Januari 2019

Sri Subekti Astadi

Buruh Mbatil Rokok

Puisi – puisi Sri Subekti Astadi

Puisi : 1

Buruh Mbatil Rokok

 




fajar belum juga menyingsing,

ketika sekelompok wanita perindu matahari berkejaran

melupakan mimpi yang tak berlanjut saat Tahajud

menerabas dingin dengan asap menyesap

menyusur koridor, menangkup embun  dengan harap merasuk

aroma tembakau  meruar, tertanam sangat dalam dan diam

tangannya terampil, kalahkan mesin dengan ujung gunting

agar siang nanti dapat  membawa pulang selembar uang berwarna biru

buat sangu anak dan sedikit makan enak

bisa membeli cabai, tahu dan tomat sudah nikmat

tak perlu  jauh ke Kliwon atau Bitingan

bakul tiban pun sudah menunggu di parkiran

 

berderet angkot pun menanti, untuk mengangkut kami kembali

berjejal bahkan bertumpuk di dalam angkot seperti tak manusiawi

apakah kami mengeluh, Tidak ! yang terpikir segera sampai di rumah

umbah-umbah, isah-isah dan resik-resik menanti

karena kami adalah wanita sejati

istri,  ibu bahkan nenek yang mandiri

yang datang jauh meninggalkan brak-brak Mbitingan, Pengkol, Mburikan, Mbarongan, Nggawon , karangbener dan Nggebog

dan esok pagi-pagi pasti kami akan di sini lagi

 

jangan ditanya kemana lelaki kami,

karena hanya menadah tangan pada suami bukan kami

kalau hanya sekedar untuk membeli daster, tahu, tempe atau terasi

tak usah sebut juga sebagai Kartini

sebab kami bukan keturunan priyayi

apalagi sebagai Pahlawan sejati

karena ini sudah jalan hidup kami

selagi tangan masih bisa menari

dan kaki masih sanggung berdiri

tak ada keluh, apalagi merasa tersakiti

biar anak-anak kami bisa sekolah tinggi 



Salam fiksi

Sri Subekti Astadi

Katresnan Tukang Becak lan Nini Sekar Arum

 



" Jeng...! , wengi iki wis pitung dina olehmu wangsul madhep marang Gusti. Sepurane ya Jeng , aku ora isa nganake tahlilan kaya adat wong liya-liyane yen kesripahan. Ora merga aku ora percaya utawa nyalahi adat wong Jawa Jeng. Dongaku kanggo sliramu ora tau leren, aku mung isa tahlil dewean, Jeng. Amarga pirang-pirang ndino aku ora narik becak,  sak wise nguburke sliramu. Rasa kelangan lan ganjelan ning atiku durung isa ilang. Pasuryanmu ngintil ning mripatku. Piye aku arep narik becak nek koyo ngono kuwi. Sepurane Jeng..!, aku ora duwe celengan babar pisan kanggo nganake berkat tahlilan ngundang tangga teparo ".  Guneme Parmin dewean ning jero kamar sing uga dadi ruang tamune, sak wise rampung donga lan tahlil dewe kanggo Nini Sekar Arum, bojo sirine kang tinggal donya seminggu kepungkur.

Kanggo Parmin, Nini Sekar Arum kaya lintang gemebyar tah utawa artis kang paling top, sanajan Nini Sekar Arum mung Pengamen tua. Sing mangkal ning ngarep Warung Dahar ning platarane Pasar Kliwon rikolo wengi.

Meh telung tahun Parmin lan Nini Sekar Arum urip bareng, sakwise disahke Pak Modin sing diarani kawin siri " ben ora dhosa" jare Parmin . Sanajan mung iso nyewo kamar bedheng kayu sekotak ning jedak jembatan Tanggulangin,  Parmin lan Nini sing wis ora enom meneh kuwi urip kanthi seneng lan tentrem. Parmin, tukang becak sing uripe pas-pasan malah kadang kekurangan, amargo golek penumpang samsaya angel, sawang wae ben omah wis duwe motor lan mobil , wis arang-arang wong sing gelem numpak becak. Jare marake macet lan kesuwen, ora cocok kanggo kahanan saiki.

Telung tahun kepungkur rikala Parmin mangkal ning Pasar Kliwon, ketemu karo Nini Sekar Arum kang lagi ngamen. Nini sing lagi sewulan nglembara ning kota Kudus isih binggung arep manggon ning endi, amargo yen turu ning emperan toko ragane wis ora kuat maneh mergo umure wis luwih saka suwidak tahun. Wis dadi tekade Nini kepingin nglembaroa saperlu melu nguri-uri kabudayan. Sanajan namun nembang Jawa keahliane, Nini mider dadi pengamen saka kutha pindah kutha liyane. Nganti lali anak puthune sing ketinggalan ning tanah sebrang rikala melu program Transmigrasi jaman semana. Sanajan wis tua Nini isih tetep njaga penampilan, klambine dijaga ben tetep resik tur pantes, wedak pupur lan gincu mesti ora lali yen arep budal ngamen. Makane kuwi Parmin nganggep Nini kuwi lintang, artis sing kemoncor ning jero atine.

Kebeneran Nini ketemu Parmin sing kesemsem kenes swarane Nini sing merdu mendayu-dayu. Wong loro sepakat urip bareng lan nampa apa anane kahanan, amarga Parmin uga wis duwe anak bojo sing ditinggal ning ndeso. Parmin kepekso mlebu kutha dadi tukang becak merga pirang-pirang musim panen gagal terus. Parine ora isa dicagerke maleh kanggo urip sabendinane.



Baca juga

Tentang Rumah yang Kesepian

    Sudah berbulan-bulan sepi sekali disini , hanya seorang lelaki kurus yang setiap hari menyapu lantaiku. Dinding-dinding yang terbuat...